Loading...

Panen Inpari Nutri Zinc Pencegah Stunting

Panen Inpari Nutri Zinc Pencegah Stunting
Oleh : Agung Kurniawan, S.P.*) Permasalahan stunting telah menjadi isu utama dan menjadi perhatian penuh pemerintah. Hal ini dapat disebabkan oleh malnutrisi kronis sehingga pertumbuhan janin yang buruk dan menghambat pertumbuhan selama dua tahun pertama kehidupan. Pemerintah telah berupaya mengatasi masalah kekurangan gizi yaitu dengan fortifikasi bahan makanan, namun hal itu tidak cukup menyelesaikan masalah, sehingga pada tahun 2018 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian berkolaborasi dengan IRRI dan Harvest Plus melepas padi dengan kandungan Zn tinggi dengan nama Inpari IR Nutri Zinc sebagai salah satu upaya dalam mengatasi stunting. Salah satu keunggulan varietas Inpari Nutri Zinc memiliki kandungan Varietas ini memiliki kadar amilosa 16,6 persen dan Zinc sebesar 34,51 ppm, sedangkan varietas padi yang lain memiliki kandungan di bawahnya, contohnya Ciherang (24,06 ppm). Rasa nasi dari padi Inpari IR Nutri Zinc tergolong pulen dengan bentuk ramping dan pengapuran yang rendah. Tanamannya memiliki bentuk yang relatif tegak dengan posisi malai di tengah daun bendera, sehingga lebih terlindung dari serangan burung. Sebagai provinsi dengan prevalensi stunting sebesar 26,25% pada tahun 2019, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalimantan Utara bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan berperan aktif melakukan upaya penurunan tingkat prevalensi stunting di Provinsi Kalimantan Utara dengan memperkenalkan padi varietas Inpari Nutri Zinc melalui Demplot yang terletak di Jalan Sahbanar Lama Kecamatan Tanjung Selor. Dari Demplot tersebut, pada tanggal 28 Desember 2020 telah dilakukan panen bersama pada penanaman Inpari Nutri Zinc yang dihadiri oleh Kepala DPKP Provinsi Kalimantan Utara, Ir. Wahyuni Nuzband, M.A.P., perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan dan perwakilan BPTP Kalimantan Timur. Luas Demplot adalah 1 hektar berada di areal Kelompok Tani Tunas Karya Kelurahan Tanjung Selor Hilirdengan menggunakan system tanam Tanam Benih Langsung (Tabela) Jajar Legowo 3:1 menggunakan benih Label Ungu sebanyak 50 kg. Dari hasil panen didapatkan perhitungan potensi hasil sebesar 8,1 Ton/Ha. Kepala DPKP Provinsi Kalimantan Utara dalam sambutannya pada acara tersebut, mengungkapkan bahwa padi yang yang telah dipanen dapat dimanfaat sebagai benih kembali, namun perlu disertifikasi terlebih dahulu oleh BPSB. Diharapkan benih tersebut dapat menyebar ke petani lainnya dan sebagai salah satu upaya untuk menurunkan tingkat prevalensi Stunting di Provinsi Kalimantan Utara. *) Penyuluh Pertanian Pertama pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara