Loading...

Penyusunan Programa Tingkat Desa di Desa Panemon Sugihwaras Kabupaten Bojonegoro

Penyusunan Programa Tingkat Desa di Desa Panemon Sugihwaras Kabupaten Bojonegoro
Programa penyuluhan pertanian tingkat desa bertujuan untuk merencanakan arah dan pedoman pencapaian tujuan penyuluhan. Programa disusun secara partisipatif masyarakat. Penyusunan programa tingkat desa wilayah Kecamatan Sugihwaras dilaksanakan pada Rabu (27/1/2021) di Balai Desa Panemon, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro Acara ini diikuti oleh oleh Kepala Desa beserta perangkat, tokoh masyarakat, tokoh agama, gabungan kelompok tani, dan kelompok tani Desa Panemon. Dihadiri oleh Kordinator penyuluh dan penyuluh lapang Kecamatan Sugihwaras. Kordinator penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sugihwaras, Bapak Murjito, S.Pt dalam sambutanya mengatakan bahwa kegiatan penyuluhan pertanian bertujuan untuk merubah pengetahuan, keterampilan, dan sikap (PKS) petani. Dengan perubahan tiga hal mendasar tersebut diharapkan SDM petani lebih maju, berusahatani lebih baik sehingga hasil panen meningkat, kesejahteraan petani juga ikut meningkat. Dalam pertemuan Penyusunan Programa tingkat desa kelompok tani agar mengusulkan apa saja kebutuhan petani untuk dimasukan dalam programa, baik kebutuhan fisik atau non fisik (SDM). Dari semua itu nanti bisa dijadikan rencana kerja tahunan penyuluh lapang. Penyusunan programa desa dipandu oleh tenaga admin BPP Sugihwaras, Ibu Luluk Ardiana, S.P yang mengawali dengan rencana anggota kelompok (RAK) yang meliputi identifikasi potensi wilayah, kalender tanam, cita-cita keluarga petani, masalah yang dihadapi, matrik jadwal kegiatan, dan rencana kegiatan yang diusulkan. Masalah yang dihadapi petani setelah dirangking dan memerlukan penanganan prioritas adalah organisme pengganggu tanaman (OPT). Yang pertama hama tikus sawah, disusul penyakit Blas/potong leher yang disebabkan jamur Pyricularia Oryzae. Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB) atau Kresek yang disebabkan bakteri Xanthomonas Oryzae dan hama Wereng Batang Coklat (WBC). Masalah lainya ketersedian air, karena sawah Desa Panemon merupakan tadah hujan. Penggunaan dan penyerapan pupuk organik yang masih rendah. Yang terakhir tentang langkanya tenaga kerja pertanian. Untuk mengatasi masalah tersebut kemudian disusun rencana kerja penyuluh yang meliputi pertemuan dan penyuluhan rutin sebulan sekali, gerakan pengendalian hama tikus, pendirian rumah burung hantu (rubuha). Gerakan pengendalian Blas dan Hawar Daun Bakteri, praktik pembuatan pupuk organik bersama anggota kelompok tani. Untuk mengurangi dampak kekurangan air, salah satu solusinya adalah kelompok tani mengajukan pompa air. Sedangkan untuk kekurangan tenaga kerja pertanian dengan mengajukan alat mesin pertanian (Alsintan) berupa Rice Transplanter dan Combine Harvester. Penyusunan Programa tingkat berjalan dengan tertib dan lancar. Peserta dan petugas tetap mematuhi protokoler kesehatan (prokes) dengan mencuci tangan sebelum memasuki ruangan, memakai masker, dan menjaga jarak antar peserta. LESMARI, S.P., PPL BPP SUGIHWARAS.