Sistem hidroponik merupakan salah satu model pertanian perkotaan (urban farming) yang terus berkembang di tengah keterbatasan lahan. Beberapa komunitas petani milenial di Kab. Sumedang sudah merasakan manfaat hidroponik dan menjadi sumber pendapatan. Wahyu Nur Agung,Warga Dusun Cijelag desa Tomo Kecamatan Tomo, Kab Sumedang, mengubah halaman rumah menjadi kebun hidropnik dan berhasil meraih keuntungan lebih dari Rp. 2 juta dari panen setiap minggu. Sebelum terjun di hydroponik,Wahyu Pemuda 30 tahun ini merupakan Karyawan Swasta di Jakarta dengan Pendapatan Rp. 2 juta Per minggu, Bekerja sebagai karyawan menjadikan Wahyu terbatas dalam mengembangkan diri,waktu menjadi lebih terikat ,sebagai anak muda Wahyu ingin berkreasi,mencoba hal baru, dengan bermodal kan kuota dan hp Wahyu mencari cari tutorial mengenai usaha tani yg bisa di lakukan di lahan sempit di sekitar rumah,ketemulah dengan sistem pertanian hydroponik, setelah merasa yakin untuk mencoba usaha tani dengan sistem hydroponik ini maka pada bulan januari 2020 wahyu merintis usaha nya yang bertempat di kabupaten subang,masyarakat awan banyak mencibir bagaimana bisa berhasil bertani tanpa menggunakan tanah dan dilahan sempit ada juga yang mencibir dan berkata seperti orang kurang waras rela meninggalkan pekerjaan yang sudah jelas gajinya demi usaha yang belum jelas prospeknya.Tapi wahyu tidak pernah bergeming dengan semua pendapat orang hingga akhirnya mereka sekeluarga memutuskan untuk berpindah usaha di kampung halaman nya dusun cijelag desa tomo kecamatan Tomo dengan memanfaatkan pekarangan halaman yang sempit di rumahnya. Bermodalkan uang Rp. 22 juta,Wahyu menyulap halaman rumahnya seluas 80m2 menjadi area pertanian hidroponik. "Dari situ, saya terus pelajari dan kembangkan hingga saat ini mempunyai 2 blok tempat usaha," ungkap Wahyu. Dia menuturkan, "sejauh ini hasil panen sudah di tampung mitra untuk di suply ke Supermarket, sisanya di suply ke Pedagang di Pasar Kadipaten."setiap minggu Wahyu menanen sayuran hidroponik tidak kurang dari 36 kg,komoditas sayuran yang di tanam Selada Bokor,Bayam dan Pagoda. Selain Budidaya hidroponik sendiri,Wahyu juga menerima layanan konsultasi gratis untuk para petani pemula hidroponik,terutama para petani milenial. Lahan hidroponik milik Wahyu menjadi tempat belajar warga umum yang mau bercocok tanam dengan sistem hidroponik. Petani-Petani milenial binaan Wahyu menyebar di Kec. Tomo dan sekitarnya,dan menjadi mitra Wahyu dalam memenuhi permintaan sayuran hydroponik yg tidak bisa di penuhi dari lahan miliknya. Ai Nurjanah,PPL Wilayah Binaan Dusun Cijelag desa Tomo, yang mencoba memberikan dukungan pembinaan mengatakan"Di tengah kondisi Pandemi Covid 19 yang saat ini kondisi serba sulit , Wahyu memiliki semangat yang luar biasa,meski memutuskan berhenti dari perusahaan tempatnya bekerja,tidak membuat wahyu berputus asa,malah semangatnya semakin terpacu untuk bangkit , kini wahyu bisa lebih mengembangkan usaha nya dengan tanpa dibatasi waktu sehingga bisa memberikan kontribusi positif untuk masyarakat sekitarnya." Sementara itu secara terpisah,Kepala UPTD Pertanian Kec. Tomo, Ojon mengatakan"Wahyu menjadi teladan bagi petani-petani milenial lain di kampungnya,meski hidup di perkampungan di tengah pandemi covid 19,Wahyu mampu mengembangkan potensi budidaya sayuran hidroponik yang mampu memberikan penghasilan lebih besar di banding ketika bekerja di perusahaan di kota." Berkat kegigihannya,Wahyu di Rekomendasikan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Sumedang untuk menjadi bagian dari 1000 Duta Petani Milenial ke Kementrian Pertanian. Ade Yayan R, SPt. Penyuluh Pertanian Muda Kab. Sumedang