Menurut amanat UU No 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan bertujuan untuk meningkatkan peran penyuluh dalam kegiatan pertanian, perikanan dan kehutanan sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk meningkatkan kinerja penyuluh maka diadakan pertemuan secara berkala yang disebut dengan Temu Tugas. Temu tugas merupakan pertemuan berkala antara pengemban fungsi penyuluhan, penelitian, pengaturan dan pelayanan dalam lingkup pertanian. Temu tugas menjadi wahana untuk meningkatkan motivasi, pengetahuan dan ketrampilan serta sikap Penyuluh Pertanian. Peningkatkan kinerja penyuluh pertanian diperlukan berbagai aspek diantaranya dukungan informasi teknologi tepat guna, bimbingan dalam melakukan pendampingan yang efektif dan efisien, pembinaan mental serta pengorganisasian di dalam melaksanakan tugas sebagai Penyuluh Pertanian. Pada pelaksanaan Temu tugas, diperlukan pimpinan sidang atau moderator, pembicara, narasumber dan notulis. Moderator sebaiknya petugas yang mampu untuk memandu jalannya pertemuan, kemudian pembicara ialah pejabat yang berkompeten yang akan mengemukakan materi bahasan dan yang mengetahui atau menguasai materi yang akan dibahas sedangkan penulis adalah salah seorang petugas dari panitia penyelenggara. Temu tugas yang dilakukan di BP3K Palabuhanratu pada tanggal 25 Maret 2014 tidak seperti biasanya dilaksanakan di kantor BP3K, tetapi pada temu tugas pada saat itu dilaksanakan di saung kelompoktani Karya Tani Desa Citepus yang merupakan salah satu kelompoktani binaan BP3K Palabuhanratu. Sama halnya dengan temu tugas yang dilaksanakan di kantor BP3K temu tugas di kelompoktani juga membahas materi yang dibutuhkan penyuluh. Yang sedikit berbeda panitia temu tugas saat itu sebagian besar panitia temu tugas dilakukan oleh para THL, mulai dari mederator, notulen sampai pengisian materi, hal tersebut menjadi kesempatan berharga bagi para THL untuk belajar menjadi penyuluh yang baik. Pemilihan lokasi temu tugas di saung kelompok tani bertujuan agar kondisi ril yang ada dilapangan bisa langsung diamati, baik yang menyangkut keberhasilan kegiatan penyuluhan maupun yang menjadi permasalahan di tingkat lapangan. Temu tugas yang dilaksanakan di saung kelompoktani dirasakan kebanyakan peserta terasa agak berbeda karena tidak terlalu kaku tetapi tetap tertib dan formal, kemudian suasana keakraban antara penyuluh maupun antara penyuluh dan kontaktani lebih terasa. Pada pertemuan ini, yang menjadi narasumber juga adalah Kepala Penyelenggaraan Penyuluhan BP4K kabupaten Sukabumi. Beliau mengatakan bahwa pertemuan ini dapat dijadikan sarana bagi penyuluh untuk pertukaran informasi dan berbagi pengalaman dalam melaksanakan tugas, dan juga diharapkan kegiatan ini dapat dilaksanakan setiap tahunnya. Ditambahkan lagi oleh beliau bahwa harapan dari hasil dari temu tugas penyuluh ini dapat mendukung dan meningkat kualitas serta profesionalisme para penyuluh dan membimbing serta dapat memberdayakan petani ditengah masyarakat, dan diharapkan peran aktif penyuluh dalam mendampingi para petani dan peternak dalam aktifitasnya sehingga hasil yang didapat diharapkan lebih baik lagi. Selain itu, ia juga menyampaikan, penyuluh ini mempunyai peranan penting dalam memdukung pemerintahan. Karena mempunyai tugas dan fungsi untuk mendidik dan mengajarkan petani melalui kelompok tani binaannya, dalam rangka meningkatkan perekonomian para petani itu sendiri. Menurutnya penyuluh adalah petugas yang menyampaikan program-program pemerintah. Salah satunya adalah, menjaga ketahanan pangan nasional dan mensukseskan program pemerintah lainnya ditingkat pedesaan. Pelaksanaan Temu tugas yang diadakan oleh BP3K Palabuhanratu dihadiri oleh para Penyuluh Pertanian (PP PNS, PP Swadaya dan THL - TBPP), POPT dan UPTD Dinas lingkup pertanian sebanyak 40 orang yang berasal dari 6 kecamatan sewilayah VI Palabuhanratu. Narasumber dari BP3K Palabuhanratu menyampaikan tentang antisipasi dan mitigasi dampak perubahan iklim global yang sudah terjadi saat ini. Perubahan iklim yang terjadi merupakan salah satu tantangan sektor pertanian dimana dampaknya bisa menimbulkan kerugian bagi para petani. Dampak yang bisa ditimbulkan dari perubahan iklim diantaranya musim tidak menentu, terjadi bencana kekeringan, banjir, anomali iklim ekstrim dll. Sehingga diperlukan upaya antisipasi dan mitigasi untuk menghindari atau mengurangi dampak yang bisa menimbulkan kerugian bagi sektor pertanian. Dalam kegiatan ini dilakukan juga diskusi antara peserta dan narasumber. Materi yang diangkat pada diskusi ini yaitu permasalahan yang utama adalah kurangnya tenaga penyuluh karena banyaknya penyuluh yang beralih ke jabatan struktural dan adanya penyuluh yang pensiun, masalah serangan OPT padi sawah terutama WBC, serta masalah lainnya. (Herdi, THL-TBPP BP3K Palabuhanratu, 2014)