Loading...

AGROEKOSISTEM DAN ANALISIS AGROEKOSISTEM

AGROEKOSISTEM DAN ANALISIS AGROEKOSISTEM
Agroekosistim merupakan suatu faktor penentu untuk mulai dalam suatu usaha pertanaman. Oleh sebab itu dilaksanakannya kegiatan SL (sekolah lapang) biar petani mengetahui factor apa yang ada di sekitar lahan dari petani itu sendiri. Kegiatan SL itu dilaksanakan pada hari Sabtu, 06 Juli 2019 di desa Butu Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango oleh Bapak Anton Hadjarati, SP bersama Mahasiswa dari Universitas Gajah Mada. Agroekosistem dapat dipandang sebagai sistem ekologi pada lingkungan pertanian. Pendekatan pertanian berwawasan lingkungan adalah pendekatan yang dimulai dengan pendekatan ekosistem. Pendekatan ekosistem pertanian selanjutnya dikenal sebagai agroekosistem menekankan dua prinsip dasar akibat penerapan teknologi. Agroekosistem berasal dari kata sistem, ekologi dan agro. Sistem adalah suatu kesatuan himpunan komponen-komponen yang saling berkaitan dan pengaruh-mempengaruhi sehingga di antaranya terjadi proses yang serasi. Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungannya. Sedangkan ekosistem adalah sistem yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik yang terlibat dalam proses bersama (aliran energi dan siklus nutrisi). Pengertian Agro adalah pertanian dapat berarti sebagai kegiatan produksi/industri biologis yang dikelola manusia dengan obyek tanaman dan ternak. Pengertian lain dapat meninjau sebagai lingkungan buatan untuk kegiatan budidaya tanaman dan ternak. Pertanian dapat juga dipandang sebagai pemanenan energi matahari secara langsung atau tidak langsung melalui 3 pertumbuhan tanaman dan ternak. Agroekosistem dapat dipandang sebagai sistem ekologi pada lingkungan pertanian. Pendekatan agroekosistem berusaha menanggulangi kerusakan lingkungan akibat penerapan sistem pertanian yang tidak tepat dan pemecahan masalah pertanian spesifik akibat penggunaan masukan teknologi (Sutanto, 2002). Masalah lingkungan serius di pedesaan dan pertanian antara lain kerusakan hutan, meluasnya padang alang-alang, degradasi lahan dan menurunnya lahan kritis, desertifikasi, serta menurunnya keanekaragaman. Masalah lingkungan ini sebagai akibat adanya lapar lahan seiring meningkatnya populasi penduduk, komersialisasi pertanian, masukan teknologi pertanian dan permintaan konsumsi masyarakat. Agroekosistem banyak macamnya. Salah satu iantaranya ialah agroekosistem pertanaman semusim. Agroekosistem tanaman semusim penting dipelajari sebagai pemahaman budidaya yang sering petani pedesaan lakukan. Sebagai contoh ialah agroekosistem tanamai Jagung 5 Komponen Agroekosistem adalah: Petani, Lahan pertanaman, Ternak dan Manajemen/teknologi. Pendekatan agroekosistem dalam peternakan adalah pengembangan peternakan dalam keterpaduan wilayah pertanian spesifik. Dengan demikian pendekatan agroekosistem dalam pengelolaan sumberdaya pakan adalah pengelolaan potensi dan pemanfaatannya dalam keterpaduan wilayah pertanian dan pengembangan peternakan. Kepentingan pendekatan agroekosistem adalah : 1) Keterpaduan komponen AES untuk kepentingan ekonomis, 2) Keterpaduan komoditas untuk proses produksi hulu ke hilir 3) Keterpaduan wilayah untuk kelestarian lingkungan hidup / sumberdaya alam. Dalam Rukmana (1997) sistematika tanaman cabai diklasifikasikan ke dalam golongan sebagai berikut : Kingdom: Plantae Divisi: Spermatophyta Kelas: Dicotiledonae Ordo: Solanales Famili: Solanaceae Genus: Capsicum Spesies: Capsicum annum L. Tanaman cabai besar (Capsicum annum L.) merupakan salah satu jenis tanaman sayuran yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Selain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari, cabai juga banyak digunakan sebagai bahan baku industri pangan dan farmasi yang menyebabkan komodita 6 ini memiliki potensi pemasaran, baik tujuan domestik maupun ekspor (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998). Tanaman cabai memiliki batang yang dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu batang utama dan percabangan (batang skunder). Batang utama berwarna coklat hijau dengan panjang antara 20-28 cm. Percabangan berwarna hijau dengan panjang antara 5-7 cm. Daun tanaman ini terdiri dari alas tangkai, tulang dan helaian daun. Panjang tangkai daun antara 2-5 cm, berwarna hijau tua. Helaian daun bagian bawah berwarna hijau terang, sedangkan permukaan atasnya berwarna hijau tua. Daun mencapai panjang 10-15 cm, lebar 4-5 cm. Bagian ujung dan pangkal daun meruncing dengan tepi rata (Nawangsih, 2003). Cabai dapat dengan mudah ditanam, baik di dataran rendah maupun tinggi. Syarat agar tanaman cabai tumbuh baik adalah tanah berhumus (subur), gembur, dan pH tanahnya antara 5-6. Cabai dikembangbiakkan dengan biji yang diambil dari buah tua atau yang berwarna merah. Biji tersebut disemaikan terlebih dahulu (Alteri, 1999). Temperatur yang sesuai untuk pertumbuhannya antara 16-23OC. Temperatur malam di bawah 16OC dan temperatur siang di atas 23OC menghambat pembungaan. Cabai mengandung kurang lebih 1,5% (biasanya antara 0,1-1%) rasa pedas. Rasa pedas tersebut terutama disebabkan oleh kandungan capsaicin dan 8 dihidrocapsaicin (Lukmana, 2004). (FAO,2004). 11 conyzoides), Putri malu (Mimora pudica), Rumput teki (Cyperus rotundus), Bayam duri (Amarantus spinosus) dan Meniran (Phyllantus urinaria) Komponen abiotik yang kami amati antara lain tanah, kelembaban, suhu, dan cuaca. Pelengkap lainnya ialah wawancara terkait pengelolaan dan sistem tanam dari pertanaman cabai ini. Berikut penjelasannya : 1. Tanah Tanah yang kami amati berwarna coklat gelap, bertekstur gembur dan cukup lembab. Dalam pertanaman cabai ini tanah dibentuk guludan setingi ±20 cm. Dengan luas lahan 10 m x 15 terdapat 12 baris guludan. Hal tersebut serupa dengan yang diungkapkan Sarwono (2005), bahwa pada saat tanman muda membutuhkan kelembaban tanah yang cukup.Tanaman cabai tidak tahan terhadap genangan air, tanah yang becek atau berdrainase buruk dan akan mengakibatkan tanaman tumbuh kerdil, daun menguning. Kondisi yang seperti itu mendukung untuk hama dan penyakit berkembang baik oleh karena itu dibentuk lah guludan. Gambar 1.1 Tanah Agroekosistem Jagung Penulis : Dewi M Lantu, SP Penyuluh Pertanian Pertama