Loading...

ANTARKNOSA PADA PEPAYA

ANTARKNOSA PADA PEPAYA
ANTARKNOSA PADA PEPAYA Antraknosa merupakan salah satu penyakit utama yang menyebabkan kehilangan hasil pada tanaman pepaya. Penyakit antraknosa tersebut disebabkan jamur patogen Colletotrichum gloeosporioides. Penyakit antraknosa menyebabkan gejala kerusakan berupa serangan penyakit pada buah muda yang ditandai dengan munculnya bercak kecil kebasah-basahan, pada bagian bercak ini akan mengeluarkan getah yang berbentuk berupa bintik. Serangan penyakit antraknosa pada buah pepaya muda berkembang sangat lambat, kemudian akan berkembang dengan cepat saat buah menjelang panen. Selasa, 21 Mei 2019, petugas penyuluh lapang Kec. Kutorejo melakukan pengamatan tanaman pepaya di lahan pertanaman pepaya milik petani Desa Karangdiyeng, Kec. Kutorejo, Mojokerto. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, ditemukan gejala serangan jamur Colletotrichum gloeosporioides yaitu tampak bulatan-bulatan kecil berwarna gelap, bila buah bertambah masak, bulatan-bulatan tersebut semakin membesar dan busuk cekung ke arah dalam buah. Pada satu buah pepaya bisa terjadi beberapa bercak yang dapat menyatu. Bagian batang tanaman pepaya yang banyak terserang adalah bagian dekat pucuk. Gejala awal mirip dengan gejala yang terjadi pada buah. Serangan penyakit antraknosa yang berat dapat menimbulkan gejala mati pucuk (die back). Sedangkan gejala penyakit antraknosa di daun berupa bercak kecokelatan, terdapat titik-titik orange pada daun yang terserang sehingga mengakibatkan daun pepaya menjadi gugur. Serangan penyakit antraknosa pada daun pepaya tidak terlalu signifikan berperan besar dalam kehilangan hasil tetapi lebih berperan dalam penyebaran patogen. Penyakit antraknosa dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti benih tanaman pepaya yang telah terinfeksi, spora yang dapat terbawa oleh percikan air atau angin, kebiasaan petani dalam meninggalkan buah pepaya yang terkena penyakit antraknosa begitu saja di pertanaman menyebabkan sumber penyakit tersedia secara kontinyu di lapangan, tanaman yang mengalami stress seperti kekurangan/kelebihan air, kekurangan/kelebihan hara, keracunan pestisida, maupun mendapat serangan OPT lainnya dapat menyebabkan tanaman pepaya menjadi mudah terserang penyakit antraknosa. Tindakan preventif yang dapat dilakukan petani agar tanaman pepaya terhindar dari serangan penyakit antraknosa, diantaranya tidak menggunakan tanaman terserang sebagai sumber benih, karena peluang bibit terinfeksi sangat besar, sanitasi kebun dengan cara membersihkan bagian-bagian tanaman pepaya yang terserang penyakit antraknosa, petani juga perlu mengusahakan agar tanaman pepaya tumbuh secara optimum, hal ini dapat dilakukan dengan optimalisasi pemupukan, pengairan maupun perawatan tanaman pepaya secara umum, tidak menanam pepaya terlalu rapat (disarankan jarak tanam yang ideal adalah 2-3 m x 3 m), serta penggunaan agens antagonis tertentu seperti PGPR dan Trichoderma dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit antraknosa, selain juga dapat berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. Apabila telah terjadi serangan penyakit antraknosa, sebaiknya dilakukan sanitasi dengan cara membersihkan lahan dari bagian tanaman yang terinksi (membakar bagian tanaman yang terinfeksi agar tidak menular ke tanaman sehat) dan pengaplikasian fungisida yang dapat dilakukan dengan menggunakan fungisida berbahan aktif benomyl, thiabendazol, tembaga oksikhlorida, methyl tiofanat, perkhloraz dan carbendazim.