Desa Sri Mulyo, Kecamatan Air Saleh, Banyuasin memiliki luas baku lahan 956 hektar yang salah satunya dikelola oleh kelompok tani Margo Tani B yang diketuai oleh Suswanto. Suswanto putra kelahiran Musi Banyuasin ( 36 tahun), tinggal di Desa Sri Mulyo RT 2, RW 1 Kecamatan Air Salek Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan, bertani sejak kelas 1 SMP membantu orang tuanya. Sejak tahun 2014, Suswanto berkonsultasi dan bekerjasama dengan Penyuluh Pertanian dalam hal ini THL-TBPP saudara Raharjo ingin meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dari IP 100 menjadi IP 200. Akhirnya dengan kegigihannya, Suswanto bisa berhasil melakukan pertanaman 2 kali dalam setahun dengan hasil yang cukup menggembirakan yaitu pada pertanaman pertama bulan Oktober dan panen bulan Januari diperoleh hasil sekitar 70-100 karung @ 70 kg atau sekitar 5 – 7 ton per hektar, sedangkan pada pertanaman kedua bulan Pebruari dan panen bulan Mei diperoleh hasil sekitar 40 karung atau sekitar 3 ton per hektar. Sebelumnya Suswanto sudah sering menerapkan IP 200 tetapi gagal terus, setelah dieavaluasi dan dipelajari, ternyata kuncinya ada di waktu tanam. Kalau menanam lewat dari bulan Pebruari, produksinya hampir 90% gagal, kalaupun panen hasilnya kurang memuaskan. Melihat kesuksesan Suswanto, maka pada tahun 2015 seluruh anggota kelompoktani yang berjumlah 32 orang dengan luasan sekitar 36 hektar akhirnya pada melakukan pertanaman dengan IP 200, dengan catatan tanam harus serempak dan tutup tanam di bulan Pebruari. Sebagai Ketua Kelompoktani, Suswanto terus berusaha agar kekompakan dari kelompok bisa terbangun dan untuk itu upaya gerakan tanam serempakpun dilakukan dengan upaya merental TR4 untuk pengolahan tanah agar bisa tanam serempak. Suwanto dan Raharjo Penyuluh Pertanian, meminjami modal kepada anggota kelompoktaninya untuk pengolahan lahan sehingga bisa melaksanakan gerakan tanam bersama sebelum bulan Maret atau melakukan tutup tanam dibulan Pebruari. Suswanto yakin bahwa ternyata kata kuncinya adalah gerakan tanam serempak yang harus dilakukan sebelum bulan Maret, sehingga gerakan tanam harus tutup dibulan Pebruari. Dengan demikian, maka pada saat mulai kemarau padi sudah menguning dan sudah saatnya untuk dipanen sekitar bulan Mei. Sedangkan kebiasaan tikus keluar pada bulan Juni kegiatan sudah selesai panen. Suswanto dengan pendidikan terakhir Paket C setara SLTA, merupakan salah satu petani dan sekaligus Ketua Kelompoktani yang selalu berusaha untuk melakukan uji coba untuk kemajuan dan kesejahteraan anggota kelompoknya. Dengan keberhasilan meningkatkan IP dari 100 menjadi IP 200, Suswantopun mulai berfikir dan melakukan uji coba untuk IP 300 dengan menanam Jagung pada bulan Juni dan kalau memungkinkan airnya cukup akan ditanam padi lagi sehingga Pola tanam yang akan dikembangkan adalah : Padi –Padi - Jagung atau Padi- Padi Padi* (jika air memungkinkan. Suswanto yang telah berkeluarga sejak tahun 2006 dan dikaruniai 3 orang putri, kini makin mantap untuk menekuni kehidupannya dan menyandarkan kebutuhan hidupnya dari hasil pertanian. Saat ini Suswanto menggarap lahan pribadinya seluas 2 hektar untuk tanaman padi dan mampu menyewa lahan seluas 6 hektar dari desa lain yaitu desa Sidoharjo dengan sewa per musim senilai Rp 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah) per musim. Selain itu juga memiliki lahan sawit seluas 2 hektar yang rencananya akan dibongkar untuk pertanaman padi jika ada program dari pertanian. Selamat dan sukses pak Sus. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.com