Loading...

APLIKASI TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN CABAI RAWIT DENGAN MENGGUNAKAN MULSA

APLIKASI TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN CABAI RAWIT DENGAN MENGGUNAKAN MULSA
Latar Belakang Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yanng termasuk ke dalam famili Solanaceae (terung-terungan). Di Indonesia, cabai menjadi salah satu bahan makanan yang sangat digemari karena cita rasa pedasnya.Dipengaruhi tingginya permintaan pasar terhadap cabai khususnya cabai rawit,maka harga komoditas satu ini sering mengalami pelonjakan harga terutama di hari-hari besar. Tanaman Cabai Rawit memiliki beberapa keunggulan seperti dapat tumbuh dilahan kering dan sawah pada musim kering atau kemarau apabila dengan syarat tersedia air pada masa-masa yang diperlukan. Budidaya tanaman cabai rawit mempunyai manfaat yang sangat luas antara lain untuk industri pangan, bahan baku industri saos,maka tanaman ini cukup potensial untuk dikembangkan dilahan kering khususnya di wilayah adalah bahan yang di pakai pada permuakaan tanah dan berfungsi untuk menghindari Desa Sembung Kecamatan Parengan. Mulsa kehilangan air melalui penguapan dan menekan pertumbuhan gulma.. Penggunaan mulsa bertujuan untuk mencegah kehilangan air dari tanah sehingga kehilangan air dapat dikurangi dengan memelihara temperatur dan kelembaban tanah. Aplikasi mulsa merupakan salah satu upaya menekan pertumbuhan gulma, memodifikasi keseimbangan air, suhu dan kelembaban tanah serta menciptakan kondisi yang sesuai bagi tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Usaha-usaha peningkatan produksi perlu dilakukan untuk memenuhi permintaan cabai merah. Peningkatan produksi melalui ekstensifikasi tidak memungkinkan di Jawa, karena luas lahannya terbatas. Peningkatan produksi dapat dilakukan melalui intensifikasi. Tantangan yang dihadapi petani dalam meningkatkan produksi cabai, salah satunya pengendalian organisme selain itu penggunaan mulsa plastic dapat meningkatkan hasil panen tanaman cabai. pengganggu tanaman (OPT) terutama gulma. Berdasarkan uraian di atas, maka perlu kiranya dilakukan penggunaan mulsa plastic hitam perak untuk meningkatkan hasil panen tanaman cabai di Kecamatan Parengan kabupaten Tuban. Pemilihan Benih dan Varietas a. Semua varietas unggul sesuai untuk lahan sawah atupun tegal.b. pilih varietas unggul yang memenuhi sifat-sifat yang diinginkan : ukuran biji, warna kulit biji (kuning atau hitam) toleransi terhadap hama, penyakit dan kondisi lahan.c. Dengan teknik budidaya yang tepat, semua varietas unggul dapat menghasilkan dengan baik, di lahan kering atau pasang surut. Teknik Persiapan Tanam 1. Benih a. Benih cabai rawit yang berkualitas bisa dilihat dari perusahaan produsen,tanggal kadaluarsa,ukuran benih yang seragam dan varietasnya.b. Sebelum disemai,benih cabai direndam dahulu dalam air selama 1 jam untuk mempercepat perkecambahan.c. Benih yang kualitasnya baik akan tenggelam dalam air. 2. Persiapan Lahan a. Bajak lahan guna menggemburkan dan juga membuang gulma ataupun tanaman bekas dari sebelumnya, sesudah itu diamkan lahan sekitar beberapa hari.b. Lahan yang begitu asam yakni memiliki PH kurang dari 5, jadi cara penanaman cabai rawit pada tahap ini, membutuhkan kapur Dolomite. Berikan kapur ini ketika proses pembajakan serta diamkan kurang lebih sekitar 1 minggu guna memastikan PH tanah sudah netral.c. Sesudah proses pengapuran, beri tambahan pupuk kandang guna menambah unsur hara yang diperlukan tanaman cabai rawit dengan tingkat dosis 1 ton per Ha.d. Sesudah pemberian pupuk kandang diamkan lahan sekitar 1 minggu supaya pupuk kandang bisa meresap sempurna ke lahan tanam.e. Selanjutnya penanaman cabai rawit yang baik dan benar ialah dengan membuat bedengan atau guludan dengan lebar sekitar 75 cm, tinggi 50 cm dan ukuran panjang bisa disesuaikan dengan lokasi ataupun kondisi lahan.f. Jarak antar bedengan yang bisa difungsikan sebagai selokan atau parit dengan jarak sekitar 50 -70 cm.g. Tutup bedengan dengan mulsa plastik, Pemasangan mulsa plastik bisa dipasang ketika siang hari disaat panas terik matahari. Lalu, pinggiran mulsa plastik bisa diberikan pasak bambu berbentuk U supaya posisi mulsa lebih rapat dan nampak kencang. Selanjutnya, buatlah lubang-lubang tanaman memakai kaleng susu bekas.h. Untuk jarak antar lubang tanam lebih baik beri jarak berkisar 50 – 60 cm dengan menggunakan pola zig zag.i. Biarkan dulu bedengan yang telah tertutup mulsa plastik tersebut sekitar 1 minggu lamanya sebelum proses penanaman akan dimulai. d. Persiapan media tanam dan penyemaian Media semai yang cocok untuk benih cabai rawit umumnya adalah tebar bedeng atau menggunakan tray. yang diisi dengan campuran media tanam dan kompos 1 : 1. Biasanya pada 5 – 7 HST benih sudah berkecambah dan muncul 2 helai daun. Saat umur tanaman sudah mencapai 20 - 25 hari setelah semai merupakan waktu optimum untuk memindahkannya ke lahan. Penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari. Pilih bibit cabai rawit yang sehat, dengan ciri-cii memiliki vigor yang kuat dan memiliki daun yang berwarna hijau segar. Setelah penanaman segera lakukan penyiraman agar tidak layu. Jika musim hujan gunakan jarak tanam 80 x 60 cm, sedangkan pada musim kemarau jarak tanam 70 x 60 cm. Pada musim hujan jarak tanam sebaiknya tidak terlalu rapat agar lingkungan tidak terlalu lembab. Lingkungan yang lembab menyebabkan penyakit cendawan berkembang dengan cepat. e. Pemasangan Ajir Pemasangan dengan ajir atau lanjaran diperlukan untuk menopang tanaman agar berdiri kokoh. Ajir sebaiknya dipasang sebelum penanaman, atau segera setelah penanaman selesai. Kemudian tanaman cabai rawit diikat menggunakan kayu atau bambu. Ajir ditancapkan dengan jarak kurang lebih 5 cm dari batang tanaman. Jika tanaman sudah besar, ajir dipasang dengan posisi miring membentuk sudut 30 atau 45 derajat agar tidak merusak akar tanaman. f. Pemupukan Pemupukan pertama dilakukan saat tanaman cabai rawit berusia 2 minggu setelah tanam. Pemupukan dengan menggunakan pupuk NPK Mutiara dan ZA. Dengan komposisi pengunaan pupuk NPK Mutiara sebanyak 300 kg / 1000 tanaman dan pupuk ZA sebanyak 1,5 kg / 1000 tanaman. Dengan cara melarutkan pupuk NPK Mutiara dengan 200 lt air, lalu dikocorkan pada tanaman cabai rawit sebanyak 200 ml / tanaman dan Pupuk ZA dilarutkan 100 lt air,lalu dikocorkan pada tanaman cabai rawit sebanyak 100 ml / tanaman.Pemupukan dilakukan setiap 1 minggu dengan dosis secara berkala. g. Pengairan Pengairan dilakukan dengan sistem kocor dari awal tanam dengan selang 2 hari sekali sampai tanaman cabai rawit panen. h. Pemeliharaan Pemeliharaan dilakukan penyiangan dengan mencabut tumbuhan pengganggu (gulma), agar tidak mengganggu tanaman utama. Keberadaan gulma akan menjadi pesaing bagi tanaman utama dalam mendapatkan air dan unsur hara yang ada di tanah. Gulma yang telah dicabut sebaiknya ditampung atau dikubur agar menjadi kompos. i. Pengamatan Hama dan penyakit Hama yang menyerang di lahan kaji terap adalah thrips,aphids/kutu daun.Sedangkan Penyakit yang menyerang cabi rawit dilahan kaji terap adalah layu fusarium,antraknosa,bercak daun dan busuk buah. Pengendalian bisa dilakukan dengan penyemprotan menggunakan insektisida dan fungisida. j. Panen Cabai rawit dipanen saat umur 90 HST (Hari Setelah Tanam), cabai rawit bisa dipanen dengan 2 cara yaitu panen dengan cara masih hijau dan cabai sudah merah. Penulis : Heni kusminingsih,SP (THL – TB PP Kec.Parengan)