Loading...

ASAP CAIR

ASAP CAIR
“Asap kok cair ?” Mungkin terdengar aneh ketika ada yang menyebut asap cair. Biasa kita mengenal asap sebagai bentuk aerosol. Asap sendiri merupakan perpaduan antara bahan cair dan bahan gas. Asap merupakan bagian sisa dari pembakaran, yang juga menunjukan proses pembakaran yang tidak sempurna. Setiap ada pembakaran memerlukan oksigen, apabila proses pembakaran tersebut kekurangan oksigen maka akan muncul asap. Semakin banyak asap maka menandakan proses pembakaran tersebut tidak sempurna atau kekurangan oksigen. Lalu apa yang disebut dengan asap cair? Secara sederhana sesuai dengan namanya sesungguhnya asap cair merupakan asap yang diubah menjadi bentuk cair. Pembuatan asap cair dilakukan dalam dua tahap yakni pembakaran ( pirolisis) bahan dan pengembunan ( kondensasi ). Bahan yang bisa digunakan dalam pembuatan asap cair antara lain tempurung kelapa, kayu, daun – daun kering , bahkan sekam padi. Semua bahan yang mengandung lignin, selulosa, hemiselulosa serta senyawa karbon lainnya bisa digunakan untuk pembuatan asap cair. Proses pembuatan asap cair dengan menggunakan alat yang disebut destilator. Pembuatan asap cair diawali dengan proses pembakaran bahan tanpa oksigen atau pirolisis. Bahan untuk membuat asap cair dimasukkan ke dalam drum yang kemudian dipanaskan s.d 250-300 ° C pada kondisi tertutup. Asap yang dihasilkan dialirkan melalui pipa yang selanjutnya dimasukkan kedalam kondensator atau drum pendingin yang berisi air. Setelah mengalami proses pendinginan itu maka asap akan berubah bentuk menjadi cairan / asap cair. Asap cair hasil tampungan pada proses ini masih dalam grade 3. Untuk mendapatkan asap cair yang aman digunakan sebagai pengawet makanan masih melalui beberapa tahap lagi yakni pengendapan selama satu minggu kemudian destilasi dan pemurnian menggunakan zeolit untuk mendapatkan grade 2. Kemudian untuk mendapatkan asap cair premium atau grade 1 harus dilakukan destilasi untuk ketiga kalinya serta filtrasi dengan karbon aktif / zeolit. Pada awalnya asap cair digunakan pada dunia pangan sebagai bahan pengawet. Dalam asap cair mengandung senyawa fenol yang bersifat sebagai antioksidan, sehingga dapat menghambat kerusakan pangan. Penggunaan asap cair dalam jumlah yang sangat kecil sudah bisa efektif menghambat autooksidasi lemak, sehingga dapat mengurangi kerusakan pangan karena oksidasi lemak oleh oksigen. Selain itu kandungan asam pada asap cair juga efektif dalam mematikan dan menghambat pertumbuhan mikroba pada produk makanan. Asap cair yang digunakan sebagai pengawet bahan makanan adalah asap cair grade 2 dan grade 1. Asap cair grade 2 digunakan dalam proses pengawetan ikan yang akan diolah menjadi ikan asap. Penggunaannya juga sangat mudah, hanya dengan mencelupkan ikan pada 25 % asap cair serta ditambahkan garam. Pengawetan dengan metode ini dapat mengawetkan ikan selama 3 hari. Untuk pengawetan makanan yang siap saji semacam bakso, mie atau tahu, digunakan asap cair grade 1. Asap cair grade 1 berwana jernih dan memiliki aroma netral, sangat cocok untuk mengawetkan makanan siap saji karena tidak merusak aroma makanan. Penggunaan dalam mengawetkan makanan hanya dengan menambahkan 15 cc asap cair kedalam 1 liter air, kemudian campurkan larutan ini kedalam adonan bakso, mie atau tahu. Saat perebusan juga bisa digunakan dengan campuran asap cair ini. Dengan cara ini makanan bisa tahan sampai 6 hari. Penggunaan asap cair dalam pengawetan makanan sangat menguntungkan. Selain karena harganya murah, juga aman bagi kesehatan. Berbeda dengan penggunaan formalin yang memicu kanker. Penggunaan formalin sebenarnya bukan merupakan zat atau bahan yang bisa digunakan pada makanan. Pelarangannya sudah jelas tercantum di dalam peraturan Kementrian Kesehatan. Formalin tidak masuk ke dalam zat additive untuk makanan seperti daftar yang sudah dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Asap cair grade 3 tidak bisa digunakan untuk pengawetan pangan. Asap cair jenis ini memiliki sifat fisik berwarna hitam, banyak mengandung tar dan taste asap yang masih sangat kuat. Kandungan tar yang bersifat karsinogenik atau pemicu kanker bisa membahayakan bagi kesehatan. Namun demikian pada kepentingan yang lain asap cair jenis ini bisa digunakan untuk berbagai hal. Pada dunia pertanian penggunaan asap cair grade 3 bisa dimanfaatkan sebagai pestisida nabati. Ini karena kandungan yang terdapat dalam asap cair terdapat senyawa fenol dan formaldehida, kedua senyawa tersebut sangat efektif untuk membasmi serta mengendalikan berbagai serangan hama dan jamur tanaman. Komponen asam pada asap cair ini juga dapat menghambat pembentukan spora, menghambat pertumbuhan bakteri, fungi dan aktivitas virus. Menurut penelitian Imas Aisyah, asap cair dengan konsentrasi 0,5%, 1% dan 5%, efektif menghambat perkembangan penyakit antraknosa dan layu fusarium pada tanaman inang ketimun, dengan daya hambat masing-masing tanaman inang 100%. Pada penelitian lain oleh Hasan Ashari Oramahi didapatkan hasil bahwa asap cair dari Tandan Kosong Kelapa Sawit dapat berperan sebagai antijamur terutama pada penelitian ini adalah jamur Aspergillus Niger. Aspergillus flavus, A. niger dan Mucor sp adalah beberapa jamur yang menyerang biji jagung. Di antara jamur tersebut, A. niger menimbulkan kerusakan bahan yang disimpan, serta menyebabkan kehilangan hasil yang cukup besar. Asap cair juga memiliki kualitas radicational, yang memberikan efek merangsang pertumbuhan. Tetapi tergantung pada konsentrasi campuran, sehingga asap cair juga dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan tanaman. Asap Cair mengandung sejumlah kecil nutrisi langsung diambil oleh tanaman, juga mengandung unsur yang sangat sedikit yang memiliki efek bakterisida. Asap cair Ini bukanlah pupuk atau bahan kimia yang khusus buat pertanian, namun apabila diterapkan dengan benar, akan meningkatkan asupan pupuk dan mengurangi kerusakan oleh berbagai penyakit. Manfaat lain dari asap cair adalah meningkatkan Perakaran (rooting), membantu dalam regulating kondisi nutrisi dari tanah, dan keseimbangan populasi mikrobiologis. Perubahan dalam populasi mikrobiologi tidak hanya mengurangi kecenderungan penyakit, juga mampu meningkatkan vitalitas akar dan karenanya memungkinkan penyerapan nutrisi yang lebih baik. Melihat begitu banyaknya manfaat dari asap cair, sangatlah menguntungkan apabila kita bisa memanfaatkannya. Pembuatan yang mudah dan bahan baku yang melimpah sungguh menjadi pembuka pintu dalam pemanfaatan asap cair baik bagi dunia pertanian maupun pangan secara umum. Sumber: Aisyah, Imas, dkk. 2012. Pemanfaatan Asap Cair Tempurung Kelapa Untuk Mengendalikan Cendawan Penyebab Penyakit Antraknosa Dan Layu Fusarium Pada Ketimun.Penelitian Hasil Hutan Vol. 31 No. 2, Juni 2013: 170-178 ISSN: 0216-4329 Terakreditasi No.: 443/AU2/P2MI-LIPI/08/2012http://asapcairsebagaipengawet.blogspot.co.id/2013/02/pembuatan-asap-cair-dengan-metoda.htmlhttps://jurnalilmuhayat.wordpress.com/2014/10/08/pengaruh-liquid-smoke-terhadap-pertumbuhan-tanaman/Oramahi, Hasan Ashari, dkk. 2010. Efikasi Asap Cair Dari Tandan Kosong Kelapa Sawit (Tkks) Dalam Penekanan Perkembangan Jamur Aspergillus Niger. HPT Tropika. ISSN 1411-7525 Vol. 10, No. 2: 146 – 153, September 2010