Pemilihan Calon Induk dan pejantan Cara pemilihan calon induk dan Pejantan yang ideal adalah: Calon induk Calon Pejantan - Ukuran tubuh besar - Sehat dan tidak cacat - Lincah dan gesit - Mata bening dan bulat - Rongga perut elastis - Produksi dan daya tetas telur tinggi - Tidak mempunyai sifat kanibal. - Bebas dari penyakit - Umur 5-12 bulan - Jarak tulang paha cukup lebar - Sehat dan tidak cacat - Penampilan tegap - Bulu halus dan mengkilap - Tidak mempunyai sifat kanibal - Umur 8-24 bulan Perbandingan antara induk dan pejantan dapat disesuaikan dengan kondisi. Bila jantan berumur 8-12 bulan, perbandingannya yaitu 8-1 artinya 8 ekor betina dicampurkan dengan 1 ekor pejantan. Untuk jantan berumur 8 - 20 bulan, perbandingannya 10 : 1 artinya 10 ekor betina dicampurkan dengan 1 ekor pejantan. 2. Perkandangan Dalam kegiatan bisnis ayam kampong, ada 2 jenis kandang yang sering diterapkan yaitu kandang jenis litter dan kandang panggung atau bertingkat. Kandang jenis litter biasanya digunakan untuk usaha skala besar (intensif), lantai kandang dipadatkan atau disemen dan diberi alas sekam padi setebal 5-10 cm. Kandang sistem panggung (semi intensif) biasanya disediakan halaman yang dikelilingi pagar (rens) sebagai tempat bermain. Untuk ukuran kandang disesuaikan dengan daya tampung. Ukuran kandang 2 x 5 m dapat menampung 40 ekor anak ayam kampung berumur 2-3 bulan, atau 30 ekor ayam dewasa. Kandang ayam kampong yang sehat memiliki syarat sebagai berikut: kering,bersih dan tidak mudah tergenang air jauh dari keramaian mempunyai ventilasi yang baik kokoh dan kuat cukup mendapat sinar matahari. Kandang juga harus dilengkapi dengan tempat pakan dan air minum, tempat bertelur (sangkar) dan tempat bertengger. Selain kandang utama diperlukan juga kandang Indukan (kandang khusus untuk anak ayam yang disapih dari induknya. Kapasitas kandang indukan ukuran 100x50x30 cm dapat menampung 30 ekor anak ayam. Sebelum dipergunakan, sebaiknya kandang indukan dikapur terlebih dahulu, dan biarkan selama 3 hari untuk menghindarkan timbulnya bibit penyakit. Untuk menghangatkan suhu di dalam kotak indukan diberi lampu listrik 10-15 watt, untuk anak ayam berumur 1-7 hari lampu di nyalakan siang malam, untuk anak ayam berumur 8-15 hari lampu dinyalakan malam hari saja, setelah umur 15 hari tidak diberi lampu pemanas, kecuali untuk penerangan malam hari. Pada waktu malam, hujan dan angin, kotak indukan ditutup dengan karung goni atau bahan lainnya supaya ayam terhindar dari kedinginan atau stres. Anak ayam dipelihara dalam kotak indukan hingga umur 6 minggu. 3. Pakan Ayam umur 1-7 hari diberikan makanan ransum ayam ras starter (sama dengan ayam ras). Ayam berumur 2-4 minggu diberikan pakan campuran ransum ras starter ditambah katul, dedak halus, atau jagung giling halus dengan perbandingan 2 : 1 ditambah sumber protein. Air minum disediakan setiap saat, untuk anak ayam berumur 2 hari air minumnya ditambah gula pasir dengan perbandingan 1 liter air dengan 1 sendok gula, sedangkan untuk anak ayam berumur 2-7 hari minumnya dicampur dengan Vitachik (obat anti stres). Selain itu untuk pakan ayam kampong dapat disusun ransum sebagai berikut: Ransum Anak Ayam Umur 1 Hari-12 Minggu adalah Jagung giling 36 kg; dedak halus 45 kg, bungkil kelapa 9 kg, bungkil kedelai 7 kg, tepung kapur 2,5 kg dan garam 0,2 kg. Ransum Ayam Dara Umur 12-20 Minggu adalah jagung giling 41 kg, dedak halus 53 kg, tepung ikan 2 kg, bungkil kedelai 0,9 kg, tepung tulang 0,8 kg, tepung kapur 1,75 kg dan garam 0,2 kg. Ransum ayam dewasa untuk 100 kg adalah sebagai berikut : jagung giling 28,2 kg, dedak halus 58,5 kg, tepung ikan 6,3 kg, tepung kapur 6,5 kg, dan garam 0,2 kg . Cara pemberian ransum untuk ayam dewasa dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore. Kebutuhan ransumnya berkisar 70-100 gram/ekor/hari. Bila perlu diberikan pakan tambahan berupa hijauan atau sayuran. Untuk anak ayam umur 1 hari sampai 12 minggu ransum dan air minum harus tersedia setiap saat dan tidak terbatas jumlahnya. Pemberian ransum pada anak ayam muda sebaiknya 3-4 kali sehari. Hindari pemberian ransum yang berlebihan agar ransum tidak terbuang dan berjamur. Tempat pakan ayam sebaiknya terbuat dari bahan yang tidak berkarat seperti bambu atau paralon yang dibelah, belahan bambu ini hanya untuk masuk kepala ayam agar ransum tidak dicakar dan tumpah. 4. Pencegahan/Pengobatan Penyakit Penyakit ND (tetelo) pencegahan penyakit Tetelo dengan menjaga peralatan dan kandang supaya tetap bersih.Vaksinasi pertama ayam umur 3-4 hari dengan vaksin Bl, diulangi setelah 3 minggu dengan vaksin Lasota dan kemudian setiap 3 bulan. Penyakit cacar ayam, dengan memberikan vaksinasi, mencungkil kutil-kutil dengan gunting dan diolesi dengan yodium tintur, atau obat anti infeksi dan cuci hamakan kandang. Penyakit kolera ayam, dengan memberikan obat sulfa atau teramisin yang dapat dibeli di toko obat ternak. 5. Sangkar Sangkar yang dimaksudkan disini adalah tempat bertelur dan mengeram. Sangkar sebaiknya diletakkan pada bagian yang bisa memberikan rasa nyaman bagi induk ayam untuk bertelur dan jumlah sangkar harus lebih banyak dari jumlah induk yang ada dalam kandang. Selain telur dierami dan ditetaskan secara alami (oleh induk ayam) dapat juga ditetaskan dengan alat bantu. Untuk menekan biaya maka kita dapat membuat alat penetasan tradisional. Alat penetasan tradisional ini berupa sangkar penetasan yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk kerucut dan mempunyai daya tetas cukup tinggi dibandingkan dengan sistem tradisionil lainnya, demikian juga kematian embryo lebih rendah dan suhu penetasan dalam sangkar penetasan cukup baik. Cara pembuatannya adalah potong bambu berdiameter 25 – 50 cm sepanjang 125 cm, 1/3 bagian potongan tersebut untuk dibuat sangkar, oleh karena itu memotongnya harus diatas ruas, sedangkan 2/3 bagian lainnya untuk tiang penyanggga. Sepertiga potongan bambu bagian atas dibelah-belah kecil kira-kira 1 – 1,5 cm, diraut atau dihaluskan, kemudian dianyam dengan belahan bambu tipis yang dimulai dari bagian ujung bawah belahan bambu tadi hingga berbentuk kerucut. Bagian ujung paling atas diikat dengan kawat tali agar anyamannya tidak terlepas. Setelah sangkar terbentuk kemudian diletakan di tempat yang aman dan jauh dari keramaian serta terhindar dari gangguan binatang. Bagian bawah sangkar tersebut diberi alas rumput kering atau jerami kering sebagai tempat diletakannya telur dan sekaligus sebagai tempat penetasan. Keuntungan sistem penetasan dengan menggunakan sangkar kerucut ini adalah daya tetas telur dapat mencapai 77,37%, kematian embriyo 16,64%, suhu maximum 102,27 °F dan suhu minimum 83,50 F. Hasil ini lebih baik bila dibandingkan dengan penetasan dengan meggunakan kotak kayu atau bahan lainnya. Oleh : ANTONIUS TULI DE ORNAY, SP PENYULUH PERTANIAN MUDA