Tanaman mahkota dewa termasuk anggota famili Thymelaecae. Sosoknya berupa tanaman perdu. Tajuk tanaman bercabang-cabang. Tinggi tanaman sekitar 1,5-2,5 meter namun jika dibiarkan, ketinggiannya bisa mencapai 5 meter. Mahkota dewa bisa sampai berumur puluhan tahun. Tingkat produktivitasnnya mampu dipertahankan sampai usia 10-20 tahun. Tanaman mahkota dewa terdiri dari akar, batang, daun, bunga, dan buah. Akarnya berupa akar tunggang. Panjang akarnya bisa sampai 100 cm. Akar ini belum terbukti bisa digunakan untuk pengobatan. Batangnya terdiri dari kulit dan kayu, secara empiris terbukti bisa mengobati penyakit kanker tulang. Kulitnya berwarna coklat kehijauan, sementara kayunya berwarna putih. Batangnya bergetah, diameter mencapai 15 cm. Percabangan batang cukup banyak. Mahkota dewa berdaun tunggal, lonjong langsing, memanjang, dan berujung lancip. Sekilas menyerupai bentuk daun jambu air, tetapi teksturnya lebih liat. Warnanya hijau, daun tua berwarna lebih gelap daripada daun muda. Permukaannya licin dan tidak berbulu. Bunga mahkota dewa sosoknya sangat menawan dan harum baunya, ukurannya kira-kira sebesar bunga tanaman cengkeh. Bunga ini keluar sepanjang tahun atau tidak kenal musim, tetapi paling banyak muncul pada musim hujan. Bunga mahkota dewa belum terbukti dapat digunakan untuk pengobatan. Buah mahkota dewa, penampilannya tampak merangsang selera untuk memakannya. Pada malam hari, jika terkena sinar lampu tampak seperti berkilau, apalagi jika sudah tua. Ketebalan daging buah bervariasi, tergantung pada ukuran buah. Dalam pengobatan, kulit dan daging buah tidak dipisahkan. Jadi kulit tidak perlu dikupas dulu. Saat masih muda, rasa kulit dan daging ini seperti sepet-sepet agak manis. Jika dimakan langsung akan menimbulkan bengkak di mulut, bahkan keracunan. Karenanya, tidak dianjurkan untuk memakan langsung. Cangkang buah adalah batok pada biji. Jadi cangkang ini bagian buah yang paling dekat dengan biji. Cangkang buah berwarna putih. Ketebalannya bisa mencapai 2 mm. Rasa cangkang buah juga sepet-sepet pahit, tetapi lebih pahit daripada kulit dan daging. Pemanfaatannya juga dianjurkan dengan cara merebusnya. Cangkang ini terbukti dapat digunakan untuk pengobatan, antara lain dapat menyembuhkan penyakit kanker payudara, kanker rahim, paru-paru, dan sirosis hati. Cangkang ini lebih mujarab untuk pengobatan dibandingkan dengan kulit dan daging buah. Seperti bentuk buahnya, biji buah juga bulat. Warnanya putih dengan diameter mencapai 1 cm. Biji ini sangat beracun, jika tergigit akan menyebabkan lidah kaku, mati rasa, dan badan meriang, sehingga hanya bisa digunakan untuk obat luar sebagai obat oles. Biji ini terbukti dapat mengobati aneka penyakit kulit, digunakan dengan cara mengeringkan dan menyangrainya sampai gosong. Efek yang biasanya muncul setelah mengonsumsi mahkota dewa adalah serangan rasa kantuk. Efek seperti ini normal-normal saja. Efek yang lain adalah mabuk. Untuk menghilangkan efek ini, perbanyaklah minum air putih. Dosis mahkota dewapun perlu dikurangi jika meminumnya lagi. Jika mabuk lagi, hentikan pemakaian sementara. Dalam menyembuhkan penyakit-penyakit dalam dan sangat serius (seperti kanker rahim), setelah mengonsumsi mahkota dewa, badan bisa panas dingin dan kadang-kadang mengeluarkan gumpalan darah yang berbau busuk. Hal ini merupakan proses membersihkan penyakit. Mahkota dewa, selain bermanfaat sebagai tumbuhan obat, juga berfungsi sebagai tanaman peneduh. Karena tanaman ini juga tampak indah, terutama bunga dan buahnya, banyak orang yang memfungsikannya sebagai tanaman hias. Meskipun indah, tanaman ini sebenarnya mengandung racun. Racun ini terutama tersimpan di dalam bijinya. Oleh karena itu, sikap berhati-hati perlu dikembangkan dalam menanam, mengonsumsi, dan mengolah hasil tanaman ini. Bahkan setelah menjadi ramuan obat sekalipun, jika pemakaiannya melebihi dosis yang dianjurkan, efek-efek negatif yang tidak diharapkan bisa tetap muncul. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian