Loading...

BEBERAPA JENIS TANAMAN HIJAUAN PAKAN TERNAK (BAGIAN I)

BEBERAPA JENIS TANAMAN HIJAUAN PAKAN TERNAK (BAGIAN I)
Bahan pakan adalah sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak, dicerna dan diserap baik sebagian maupun seluruhnya tanpa menimbulkan keracunan pada ternak yang bersangkutan. Bahan pakan dapat berasal dari tumbuh-tumbuhan maupun dari hewan. Ternak ruminansia lebih memerlukan bahan pakan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, sedangkan ternak non-ruminansia memerlukan bahan pakan baik dari tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Hijauan yang biasa digunakan sebagai pakan pada usaha peternakan rakyat di pedesaan adalah rumput lapangan dan limbah pertanian seperti jerami padi, jerami jagung, jerami kedelai, jerami sorghum, daun ubi jalar, daun ubi kayu, dan pucuk tebu. Demikian juga dengan pakan penguat yang biasa digunakan antara lain jagung, dedak halus, bungkil kacang tanah, bungkil kelapa, dan lain-lain. Berdasarkan kandungan serat kasarnya, bahan makanan ternak dapat dibagi ke dalam dua golongan yaitu bahan penguat (konsentrat) dan hijauan. Konsentrat dapat berasal dari bahan pangan atau dari tanaman seperti serealia (misalnya jagung, padi, atau gandum), kacang-kacangan (misalnya kacang hijau, kacang tanah, dan kacang kedelai), umbi-umbian (misalnya ubi kayu dan ubi jalar), buah-buahan (misalnya kelapa kopra dan kelapa sawit). Konsentrat dapat juga berasal dari hewan seperti tepung daging, tepung tulang dan tepung ikan. Di samping itu, konsentrat dapat juga berasal dari industri kimia seperti protein sel tunggal, limbah atau hasil ikutan dari pangan seperti dedak padi dan pollard, hasil proses ekstraksi seperti bungkil kelapa dan bungkil kedelai, limbah pemotongan hewan seperti tepung darah dan tepung bulu serta limbah dari proses fermentasi seperti ampas bir. Bahan Pakan Lokal Pada dasarnya kandungan yang terdapat dalam pakan ternak dapat dibagi menjadi 6 (enam) golongan yaitu: air, karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Energi sebagai unsur yang vital yang mendukung kehidupan ternak diperoleh dari: 23,5% karbohidrat, 53% lemak, dan 23,5% protein. Sumber energi dapat diperoleh dari jagung kuning, katul, tapioka, sagu, pollard (wheat bran), minyak nabati, minyak hewani, dan lain-lain. Sumber protein nabati bisa diperoleh dari bungkil kedelai/soya bean meal (SBM), corn glutten meal (CGM), bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, ampas kecap, biji kapuk, dan lain-lain. Sumber protein hewani bisa diperoleh dari meat bone meal, poultry by product meal, tepung ikan, dan lain-lain. Sumber mineral dapat diperoleh dari tepung tulang, tepung kerang, tepung kepala udang, garam, dan lain-lain. Sumber vitamin dan lainnya bisa diperoleh dari tepung daun, premix/feed additive, asam amino sintetik, pemacu pertumbuhan (growth promotor) koksidiostat, anti jamur, antitoxin, antioksidan, perekat, pigmen, flavor, dan lain-lain. Additive, asam amino sintetik, pemacu pertumbuhan, koksidiostat, anti jamur, antitoxin, antioksidan, perekat, pigmen, flavor. Hijauan Pakan Ternak Hijauan adalah makanan utama (sumber energi dan protein) bagi ternak ruminansia yang terdiri dari dua macam yakni rumput-rumputan (energi) dan leguminosa (protein). Pada batas tertentu leguminosa dapat diberikan pada monogastrik. Kandungan nutrisinya berfluktuasi menurut spesies, lingkungan, dan cara budidaya. Terdapat beberapa jenis rumput yang umum digunakan antara lain: Guinea grass, green panic (Panicum Maximum Jacq) yang dikenal dengan nama rumput Benggala atau suket londo. Rumput ini berasal dari Afrika dan tersebar ke Asia, Australia, dan Eropa. Rumput yang memiliki palatabilitas yang sangat baik ini memiliki protein kasar yang bervariasi antara 4-14% dan serat kasar sekitar 28-36%. Kandungan pospor dalam rumput ini umumnya sudah mencukupi kebutuhan ruminansia. Rumput Benggala dapat membentuk rumpun dengan tinggi mencapai 1,25 m tergantung varietasnya. Rumput ini cocok untuk dataran rendah dan dataran tinggi (1.700 m dpl) dengan curah hujan 600-1800 mm/th. Pada ketinggian di atas 1400 m dpl, rumput ini tidak dapat berbunga. Namun, jenis ini masih dapat tumbuh pada tanah dengan solum tipis dan berbatu, tahan terhadap naungan dan kekeringan serta dapat tumbuh baik pada pH tanah 5-8. Hijauan segar ini bisa mencapai 100-150 t/ha/th. Dengan produksi berat segar 100 sampai 150 ton/ha/th (satu kali pemotongan interval 45 hari adalah 12.5-18.75 to) berarti dapat mencukupi kebutuhan ternak sebanyak kurang lebih 9-13 ekor sapi dengan berat badan 300 kg. Budidaya jenis ini dapat dilakukan dengan biji dan pols, bisa juga dengan stek batang. Jarak tanam 60 x 60 m atau disesuaikan dengan kondisi tanah. Pemanenan pertama umur 90 hari setelah tanam. Interval panen pada musim hujan 30-40 hari dan musim kemarau 50-60 hari. Tinggi pemotongan sebaiknya 5-10 cm dari permukaan tanah. Elephant Grass, Napier Grass (Pennisetum Purpureum Schumach). Di Indonesia, rumput ini dikenal dengan nama rumput gajah. Jenis ini berasal dari Afrika daerah tengah dan tersebar luas di seluruh wilayah tropis. Jenis ini masuk ke Indonesia dari Afrika pada akhir masa penjajahan Belanda sejak tahun 1926. Di Indonesia, mula-mula disebarkan di daerah peternakan sapi perah seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Namun, sekarang sudah tersebar pula di wilayah peternakan sapi potong. Rumput ini merupakan hijauan yang populer karena produktivitasnya cukup tinggi. Pada rumput muda, bahan keringnya rendah 12-18%, tetapi naik dengan cepat seiring dengan umur. Rumput ini memiliki palabilitas yang cukup baik. Rumput ini tumbuh membentuk rumpun. Perakarannya cukup dalam dengan rhizoma atau rimpang pendek. Pada umur 4-5 tahun, kumpulan batang di bagian bawah membentuk bonggol sehingga perlu diremajakan. Batangnya tegak, berbuku, dan keras bila sudah tua. Tinggi tanamannya bisa mencapai 1,8 sampai 4,5 m tergantung pada kultivasinya dengan diameter batang 3 cm. Di Afrika dilaporkan bisa mencapai tinggi 7 m. Sebaliknya, di Amerika dikenal juga rumput gajah kerdil (Kultivar Mott) tetapi nilai gizinya cukup tinggi. Daunnya keras dan berbulu dengan panjang mencapai 90 cm dan lebar 8-35 cm. Bunganya berbentuk tandan (seperti es lilin), tetapi bijinya sulit didapat. Rumput ini dapat tumbuh baik di dataran rendah dan dataran tinggi dan pada berbagai jenis tanah dengan curah hujan di atas 1.000 mm/tahun. Rumput ini dilaporkan juga tahan terhadap naungan. Kandungan protein rumput ini sekitar 7.6% (tergantung pada kultivar), sedangkan daya hasil mencapai 350 sampai 525 ton bobot segar per ha per tahun. Dengan hasil setiap panen (interval 45 hari) 8-12 ton bobot segar berarti cukup untuk kurang lebih 32-46 ekor sapi dengan berat badan 300 kg. Penanaman rumput ini dilakukan dengan pols dan stek. Panjang stek 20-30 cm (mempunyai dua mata tunas). Jarak tanaman 1 m x 1 m dapat disesuaikan dengan kondisi tanah. Pemanenan pertama umur 60-80 hari setelah tanam. Pada musim hujan interval panen 30-40 hari dan musim kemarau 50-60 hari. Tinggi pemotongan 15-20 cm dari permukaan tanah. Ir. Amirudin Aidin Beng, MM. Penyuluh Pertanian Pusat. Sumber: Direktorat Pakan Ternak, Dorektorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementrian Pertanian 2011, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian 2006, Heri Ahmad Sukria & Rantan Krisnan, Sumber dan Ketersediaan Bahan Baku Pakan di Indonesia.