1. King Grass (Pennisetum Purpurhoides). Jenis ini merupakan persilangan antara P. Purpureum dan P. Ameriacnum (Amerika tropis). Di Indonesia, rumput ini dikenal sebagai rumput raja. Berasal dari Afrika daerah tropis, rumput ini memiliki kualitas nutrisi lebih baik daripada rumput gajah. Protein kasarnya lebih tinggi daripada rumput gajah. Secara fisik hampir sama dengan rumput gajah tetapi tekstrurnya lebih kasar (berbulu). Tanaman rumput raja memerlukan pemeliharaan yang teratur untuk memperoleh hasil yang tinggi dan pertumbuhan yang cepat. Untuk itu perlu dilakukan penyiangan terhadap gulma agar tidak terjadi persaingan. Pada waktu penyiangan perlu diadakan penggemburan tanah dan pembumbunan disekitar rumpun tanaman. Pemotongan pertama dapat dilakukan pada umur tanaman 2-3 bulan sebagai potong paksa. Hal ini bertujuan untuk menyamakan pertumbuhan dan merangsang pertumbuhan jumlah anakan. Pemotongan berikutnya dilakukan sekali setiap 6 minggu, kecuali pada waktu musim kemarah waktu potong sebaiknya diperpanjang. Tinggi pemotongan 10-15 cm dari permukaan tanah. Hindari pemotongan yang terlalu tinggi karena akan banyak sisa batang yang mengayu (keras). Jangan dipotong terlalu pendek karena akan mengurangi mata atau tunas muda yang tumbuh. 2. Signal Grass (Brachiaria Decumbens Stapf). Di Indonesia, rumput ini dikenal dengan rumput signal atau rumput BD. Jenis ini cocok digunakan untuk padang penggembalaan. Rumput ini berasal dari Afrika Timur (Uganda, Rwanda, Tanzania, dan lain-lain). Kualitas rumput ini dangat baik dengan protein kasar sekitar 6-11% dan serat kasar sampai dengan 37%. Palatabilitas rumput jenis ini cukup baik dan bisa digunakan sebagai tanaman sela dengan tanaman besar (kelapa, karet, sawit, dan lain-lain). Perakaran dangkal sampai dalam tergantung varietas. Batang agak kasar dan beruas pendek-pendek. Daun pendek kaku berbulu bertekstur halus. Bunga berbentuk mayang bendera. Rumput ini tumbuh membentuk hamparan lebat dengan tinggi tanaman mencapai 20 sampai 250 cm tergantung pada varietas tanaman. Rumput jenis ini dapat tumbuh pada curah hujan 1000 mm/th dan toleran terhadap jenis tanah dengan kisaran cukup luas mulai dari berstruktur ringan dengan pH 6-7. Tidak hanya itu, rumput BD tahan terhadap kekeringan selama 6 bulan dan terhadap cuaca dingin serta toleran terhadap penggembalaan. Kandungan protein dalam rumput ini 8-10 % tergantung kultivarnya. Produksi berat segar 80-150 ton/ha/th tergantung pada varietasnya. Jenis ini responsif terhadap pemupukan nitrogen. Dengan produksi berat segar 100 sampai 150 ton/ha/th atau sekitar 12,5-18,75 ton satu kali pemotongan, berarti mencukupi kebutuhan untuk 9-13 ekor sapi dengan berat badan 300 kg. Penanaman dapat dilakukan dengan pols atau biji. Apabila ditanam dengan pols sebaiknya dengan jarak tanam 30 x 30 cm atau disesuaikan dengan kondisi tanah. Jika ditanam sebagai penguat teras, jarak tanamnya bisa 20 cm. Apabila ditanam dengan biji, takarannya 2 kg/ha. Pemanenan pertama dilakukan saat berumur 60 hari setelah tanam. Pada musim hujan, interval panen 40 hari dan musim kemarau 50-60 hari. Tinggi pemotongan 5-10 cm dari permukaan tanah. Selain rumput, terdapat juga beberapa jenis legum untuk makanan ternak antara lain: 1. Sentro Butterfly Pee (Centrosema Pubescent Benth) yang dikenal dengan nama kacang sentro. Jenis ini berasal dari Amerika Tengah dan Selatan Tropis. Palatabilitas jenis ini sangat baik dan dapat digunakan sebagai sumber protein yang baik untuk ruminansia. Protein kasarnya berkisar antara 11-24%. 2. Calopogonium (Calopogonium Mucunoides Descv) atau kacang asu. Kacang ini berasal dari Amerika tropis dengan palatabilitas kurang baik karena daun dan batangnya mempunyai bulu. Protein kasarnya tidak terlalu tinggi yaitu sekitar 15%, tetapi serat kasarnya cukup tinggi yaitu 35%. 3. Calliandra Calothyrsus (Messn) atau kaliandra. Jenis ini berasal dari Amerika Tengah dengan populasi yang sudah menyebar ke seluruh Indonesia. Jenis ini pada umumnya tidak mengandung racun dan memiliki protein kasar daun sekitar 24% dengan serat kasar yang relatif rendah yakni 24%. 4. Gliricidia Sepium (Jacq) atau Gamal, Liriksidia. Jenis ini berasal dari Amerika Tengah dengan kualitas bervariasi dengan protein kasar sekitar 19% dan akan menurun dengan penambahan umur tanaman. Palatabilitas jenis ini kurang baik sehingga sebaiknya dilayukan terlebih dahulu sebelum diberikan ke ternak. 5. Leucana Leucocephala (Lamk) de Wit atau Klandingan, Lamtoro. Jenis ini berasal dari Guatemala dengan protein kasar bervariasi 14-19% dan serat kasar bervariasi besar antara 33-66%. Kandungan vitamin C dan A biasanya tinggi. Jenis ini mengandung antinutrisi minosin yang berbahaya terutama untuk monogastrik. 6. Sesbania Grandiflora (L) Poiret atau Turi, Toroy, Tuwi. Jenis ini berasal dari Asia Tenggara dengan palatabilitas sangat baik. Protein kasar jenis ini cukup tinggi sekitar 29% dan serat kasar cukup rendah yakni 5-15%. Jenis ini mengandung saponin dan tannin dan pada unggas menimbulkan efek negatif. Ir. Amirudin Aidin Beng, MM. Penyuluh Pertanian Pusat. Sumber: Direktorat Pakan Ternak, Dorektorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementrian Pertanian 2011, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian 2006, Heri Ahmad Sukria & Rantan Krisnan, Sumber dan Ketersediaan Bahan Baku Pakan di Indonesia.