Loading...

Bertanam Jagung di Lahan Sawah

Bertanam Jagung di Lahan Sawah
Pengembangan jagung di lahan sawah pada musim kemarau merupakan sesuatu langkah strategis, karena (a) dapat mengurangi/mengatasi defisit pasokan jagung yang umum terjadi pada musim kemarau, (b) kualitas produk jagung pertanaman musim kemarau akan lebih baik dibandingkan dengan musim hujan, dan (c) petani jagung musim kemarau memperoleh pendapatan yang meningkat. Untuk itu diperlukan teknologi budidaya jagung pada lahan sawah irigasi dan sawah tadah hujan yang dapat memberikan : (a) produktivitas tinggi per satuan luas lahan, (b) biaya produksinya efisien, dan (c) kualitas produknya tinggi, sebagai berikut :BenihBenih berkualitas, dengan daya kecambah tidak kurang dari 95 %, dan diberi perlakuan benih yaitu 2 g metalaksil (Ridomil atau Soromil) per 1 kg benih. Setiap 2 g Ridomil atau Soromil dicampur dengan 10 ml air kemudian dicampur dengan 1 kg benih secara merata. Kebutuhan benih untuk 1 ha lahan berkisar antara 15-20 kg.Penyiapan lahanPenyiapan lahan dilakukan secepatnya setelah panen padi baik tanpa pengolahan tanah maupun dengan pengolahan tanah. Tanpa pengolahan tanah dapat dilakukan utamanya pada tanah yang mempunyai tekstur ringan. Penyiapan lahan dengan sistem olah tanah sempurna dapat dilakukan dengan bajak yang ditarik traktor/sapi atau cangkul sampai lahan siap ditanami. Untuk memenuhi kebutuhan air selama pertumbuhan tanaman, dibuat beberapa sumur gali atau sumur bor pada pinggir petakan sawah. Untuk hamparan yang luas, sumur dibuat dibeberapa tempat dan pompa air dapat digunakan secara berpindah-pindah dari petakan ke petakan lain.PenanamanPenanaman dapat dilakukan secepatnya setelah pengolahan tanah selesai dengan jarak tanam 75cmx40 cm, dan 2 benih per lubang tanam. Jika pada saat menjelang penanaman lahan kondisinya sudah mulai kering maka perlu diberikan air dari irigasi air tanah dangkal (sumur bor dengan pompa yang telah disiapkan sebelumnya).PemupukanApabila diperlukan dan tersedia di daerah setempat, pupuk organik atau pupuk kandang diaplikasikan pada saat tanam dengan takaran 25-50 gram per lubang penempatan benih (sebagai penutup benih), atau setara dengan 1.5-3.0 ton per hektar. Jenis, takaran, dan waktu pemberian pupuk anorganik pada tanaman jagung yang ditanam setelah panen padi di lahan sawah dapat disampaikan sebagai berikut : 1) Pupuk Urea yang diberikan sebanyak 300-350 kg/hektar, dengan waktu aplikasi pada umur 7-10 Hari Setelah Tanam (HST) sebanyak 25%, umur 28-30 HST sebanyak 50% dan umur 40-45 HST sebanyak 25%; 2) Pupuk SP36 yang diberikan sebanyak 100-200 kg/hektar yang diberikan sekaligus pada umur 7-10 HST; 3) Pupuk KCl yang diberikan sebanyak 50-100 kg/hektar, dengan waktu aplikasi pada umur 7-10 HST sebanyak 50% dan pada umur 28-30 HST sebanyak 50%; 4) Pupuk ZA (diberikan jika tanah kekurangan hara Sulfur (S) yang diberikan sebanyak 50-100 kg/hektar yang diberikan sekaligus pada umur 7-10 HST.Takaran atau dosis pupuk yang diberikan dapat berubah sesuai dengan ketersediaan hara dalam tanah berdasarkan analisis tanah atau rekomendasi setempat.Cara pemberian pupuk : 1) Pada saat tanaman berumur 7-10 HST, pupuk Urea + SP36+KCl+ZA (jika diperlukan) yang telah dicampur merata segera diaplikasikan dengancara ditugal sedalam 5-10 cm dengan jarak 5-10 cm disamping tanaman dan lubang pupuk ditutup kembali dengan tanah; 2) Pada saat tanaman berumur 28-30 HST, pupuk Urea + KCl diaplikasikan secara ditugal di samping tanaman berjarak 10-15 cm sedalam 5,0–7,5 cm dan ditutup tanah; 3) Pada saat tanaman berumur 40-45 HST, pemberian pupuk urea ketiga, didasarkan pada hasil pemeriksaan warna daun dengan mengunakan Bagan Warna Daun (BWD). Dengan menggunakan BWD akan diketahui jumlah pupuk yang harus ditambahkan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Setiap selesai aplikasi pupuk, lahan diairi melalui alur irigasi yang telah dibuat pada setiap dua baris tanaman.Pembuatan saluran irigasiDalam kondisi keterbatasan air, efisiensi pendistribusian air mutlak diperlukan, untuk itu perlu dibuat saluran irigasi di antara baris tanaman. Pembuatan saluran irigasi dapat dilakukan pada setiap baris tanaman atau setiap dua baris tanaman. Pembuatan saluran irigasi sebaiknya dikerjakan bersamaan dengan penyiangan pertama (14-20 HST) untuk penghematan tenaga. Pembuatan saluran irigasi dapat dilakukan secara manual atau dengan bajak singkal yang ditarik sapi.Pemberian airSumber air diperoleh dari sumur gali atau sumur bor yang telah dibuat dan dinaikkan dengan mesin pompa. Pendistribusian air ke pertanaman dilakukan melalui saluran irigasi yang telah dibuat. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat pendistribusian air sehingga lebih efisien. Selama pertumbuhan tanaman jagung, pemberian air biasanya dilakukan sebanyak 5-6 kali atau tergantung kondisi lingkungan. Indikator yang dapat digunakan perlunya pemberian air yaitu jika daun tanaman sebelum waktu tengah hari telah mulai menggulung, maka pemberian air perlu secepatnya dilakukan. Pemberian air dapat dihentikan 10 hari menjelang umur panen tanaman.Pengendalian hamaHama yang umum mengganggu pada pertanaman jagung adalah lalat bibit, penggerek batang dan tongkol. Lalat bibit umumnya mengganggu pada saat awal pertumbuhan tanaman, oleh karena itu pengendaliannya harus dilakukan mulai saat tanam dengan menggunakan insektisida utamanya pada daerah-daerah endemik serangan lalat bibit. Untuk hama penggerek batang, jika mulai nampak ada gejala serangan dapat dilakukan dengan pemberian carbofuran (3-4 butir carbofuran/tanaman) melalui pucuk tanaman.Pengendalian penyakitPenyakit utama yang biasanya merusak tanaman jagung adalah bulai yang disebabkan oleh jamur Peronosclerospora sp. Pada tingkat penularan yang parah, penyakit bulai dapat menurunkan produksi dan bahkan menggagalkan panen. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan perlakuan benih (seed treatment), yaitu mencampur benih dengan fungisida metalaksil secara merata dengan takaran 2 gram metalaksil untuk setiap kilogram benih.PenyianganPenyiangan pertama biasa dilakukan pada saat tanaman berumur 14-20 HST dan sekaligus dengan pembumbunan dan pembuatan saluran irigasi. Penyiangan kedua pada umur 35-40 HST dengan herbisida paraquat (Gramoxone, dengan takaran 1,0-1,5 liter/ha) tergantung kondisi gulma, namun tetap perlu diperhatikan jangan sampai larutan mengenai daun tanaman. Penyiangan dapat pula dilakukan secara manual dengan menggunakan cangkul. Panen dan prosesingSebelum panen sebaiknya dilakukan pemangkasan bagian tanaman di atas tongkol pada saat biji telah mencapai masak fisiologis. Hasil brangkasan daun ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Panen dilakukan pada 1-2 minggu sesudah masak fisiologis dalam kondisi kering, sampai kadar air biji Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.comSumber : 1) Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Jagung Tahun 2017, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian; 2) Sumber gambar: https://www.google.com