Kakao merupakan tanaman yang sudah cukup lama dikembangkan secara komersial di Indonesia. Sekitar tahun 1850, budiaya tanaman kakao di Minahasa mengalami kehancuran karena serangan penyakit. Kondisi tersebut mendorong pergeseran budi daya kakao ke Pulau Jawa. Wilayah Kediri merupakan salah satu daerah yang mengembangkan kakao pada waktu itu. Tetapi sama halnya dengan kondisi di Minahasa, Kakao di Jawa juga mengalami kehancuran karena serangan hama Penggerek Buah Kakao (PBK) yang dumulai pada tahun 1886. Pada tahun 1900 tanaman kakao sudah tidak dikembangkan lagi di Jawa. Walaupun pernah mengalami kehancuran, tetapi petani tetap tertarik menanam kakao, salah satu pemicunya adalah semakin membaiknya harga kakao pada tahun 1970-an (Departemen Pertanian, 2005). Dalam perkembangannya performa tanaman kako di Indonesia belum begitu baik. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi antara lain adalah tanaman yang berumur lanjut, bibit yang kurang baik, pemeliharaan yang kurang serta masih adanya serangan hama penggerek batang kakao. Tanaman Kakao merupakan salah satu potensi perkebunan Kabupaten Kediri. Tanaman tersebut diusahakan hampir merata di wilayah Kabupaten Kediri. Pada tahun 2010 luas areal tanaman kakao di Kabupaten Kediri mencapai 999 Ha dengnan produktivitas mencapai 5,01 kuintal/ha. Dilihat dari l uasannya, memang tanaman kakao belum diusahakan secara ektensif seperti tebu atau tanaman pangan. Prospek tanaman kakao untuk dikembangkan sangat potensial karena didukung oleh permintaan sektor agroindustri misalnya untuk industri pangan seperti coklat ataupun untuk industri kosmetik. Pelaksanaan Bimbingan Teknis Pengoperasian Teknologi Perkebunan Tepat Guna " Budi Daya Tanaman Kakao bertujuan untuk lebih mengenalkan budi daya kakao kepada para petani dan petugas penyuluh lapang di Kabupaten Kediri. Petani yang telah mengikuti bimtek diharapkan tertarik untuk menanami kebun mereka dengan tanaman kakao, sehingga kebun yang selama ini kurang menghasilkan secara ekonomi dapat lebih diberdayakan untuk membantu perekonomian petani. Bagi petani yang telah mengusahakan kakao, bimtek tersebut diharapkan dapat menambah pengetahuan petani kakao untuk membudidayakan kakao dengan metode lebih baik yang sesuai teknologi anjuran sehingga produktivitas kakao di lahan mereka meningkat. Sementara petugas penyuluh lapang yang mengikuti kegiatan tersebut diharapkan dapat menyebarluaskan informasi dan pengetahuan tentang budi daya kakao kepada petani lain di wilayah binaannya. Sasaran pelaksanaan Bimbingan Teknis Pengoperasian Teknologi Perkebunan Tepat Guna "Budi Daya Tanaman Kakao" adalah para perwakilan petani yang belum ataupun yang mulai membudidayakan tanaman kakao di lahan mereka. Perwakilan Petani tersebut berasal dari wilayah-wilayah di Kabupaten Kediri yang potensial untuk pengembangan kakao. Selain itu bimtek juga diikuti oleh para petugas penyuluh lapang (PPL dan THL) dari wilayah-wilayah tersebut. Bimbingan Teknis Pengoperasian Teknologi Perkebunan Tepat Guna " Budi Daya Tanaman Kakao" Tahun 2013 diikuti oleh 80 orang petani dan petugas (PPL dan THL-TB PP) yang berasal dari Kecamatan Semen, Mojo, Tarokan, Grogol, Kandat, Ringinrejo, Puncu, Plosoklaten, Kepung dan Kandangan. Tempat pelaksanaan Bimtek terbagi atas dua lokasi. Pemberian materi/teori tentang Budi Daya Kakao dilaksanakan di Local Education Center (LEC) jalan Penanggungan no 3B Kediri, sedangkan Pelaksanaan praktek lapang budidaya dan perawatan tanaman kakao dilaksanakan di kebun kakao yang terletak di Ds. Besowo Kec. Kepung Kab. Kediri. Waktu pelaksanaan bimtek adalah selama 2 (dua) hari , yaitu pada tanggal 16 dan 18 Desember 2013. Pemberian materi kegiatan Bimbingan Teknis Pengoperasian Teknologi Perkebunan Tepat Guna "Budi Daya Tanaman Kakao" dilakukan melalui metode ceramah, tanya jawab dan praktek lapang di kebun kakao. Materi Bimbingan Teknis Pengoperasian Teknologi Perkebunan Tepat Guna "Budi Daya Tanaman Kakao" meliputi : 1. Budidaya Tanaman Kakao, 2. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Kakao, 3. Perawatan Tanaman Kakao dan 4. Penanganan OPT Kakao.