Loading...

BOKASHI CAIR PLUS MENGEMBALIKAN HASIL PANEN PADI YANG TERKENA PENYAKIT TUNGRO

BOKASHI CAIR PLUS MENGEMBALIKAN HASIL PANEN PADI YANG TERKENA PENYAKIT TUNGRO
Padi sawah merupakan tanaman yang paling banyak dibudidayakan di daerah kami. Dalam 1 tahun bisa 3 kali tanam (IP 3). Kemudahan mendapatkan air membuat petani di daerah kami enggan tanam yang lain. Budidaya padi sawah dianggap lebih mudah dan lebih murah dari pada tanam tanaman hortikultura, selain itu dianggap lebih menguntungkan dari pada tanam palawija atau pun tanam tanaman pangan yang lain. Boleh dikatakan sepanjang waktu selalu menanam padi sawah. Karena itulah di daerah kami adalah daerah endemis hama dan penyakit padi. Yang paling menarik perhatian kami ketika datang wereng hijau dan menyebarkan penyakit tungro. Tidak ada perlakuan khusus dari petani, tanaman padi dirawat dan dipupuk seperti biasa, yang mayoritas pemupukannya hanya menggunakan Urea. Petani umumnya mengetahui penyebaran penyakit tungro makin meluas setelah pemupukan. Dengan menyebarnya tungro, petani memang melakukan pengendalian secara kimia dengan pestisida, tetapi kebanyakan mereka menyerah dalam upaya yang tidak maksimal. Ketika daun padi banyak yang menguning karena tungro, petani pun menyabit semua tanaman padinya untuk diberikan pada hewan ternaknya. Padi dianggap rumput yang tidak akan menghasilkan apa-apa. Jangankan keuntungan hasil panen, modal untuk tanam kembali pun tidak bisa diharapkan, petani merugi dengan modal tanam sebelumnya. Dengan adanya kegiatan yang dilaksanakan di kelompok tani, wawasan tentang penyakit tungro dan cara pengendaliannya bisa disebarluaskan. Dari sini kami sampaikan bahwa penyakit tungro masih bisa diupayakan pengendalian secara maksimal. Bersama POPT, petani diajak merubah pola pikir dan perilaku, bahwa padi yang terkena penyakit tungro masih bisa dilakukan upaya-upaya pengendalian secara maksimal dengan menyehatkan kembali tanaman padi, sehingga petani masih bisa berharap hasil panen, minimal untuk mengembalikan modal tanam. Petani juga dianjurkan supaya tidak hanya mengandalkan pestisida dan ZPT pabrikan. Produk ZPT dan pestisida nabati, bisa dibuat petani sendiri, berupa bokashi cair plus, dengan bahan dasar bokashi berasal dari limbah cair yang ada disekitar kita (Air limbah cucian beras, limbah tempe, limbah tahu, air kelapa, dll.). Plusnya Kami mencampurkan beberapa pestisida nabati ke dalam bokashi cair, diantaranya temu lawak, serai, biji maoni, bawang merah, dll sesuai kebutuhan. Dengan penggunaan bokashi cair plus secara intensif, yaitu penyemprotan bokashi cair plus setiap 5 hari sekali pada tanaman yang terserang penyakit tungro dan mengurangi penggunaan pupuk Urea ternyata mampu menyehatkan tanaman dan mengendalikan serangan penyakit tungro, sehingga bisa mengembalikan hasil panen petani. Kini Petani di daerah kami bisa kembali mendapatkan modal untuk tanam berikutnya, bahkan memperoleh sedikit keuntungan, walaupun tidak sebanyak saat tanaman padi normal. Sumber : Dikutip dari berbagai sumber