Loading...

Budaya Menjelang Panen Di Beberapa Wilayah Di Nusantara

Budaya Menjelang Panen Di Beberapa Wilayah Di Nusantara
Oleh : Yuni Indriawati, S. TP dari berbagai sumber Apabila musim panen sudah dekat, petani bersuka cita dan bersiap menyambutnya. Jerih payah mereka selama 1 musim membuahkan hasil. Hamparan bulir padi menguning dan tongkol tongkol jagung mengembang gemuk. Isyarat alam, bahwa panen sudah di depan mata. Banyak hal yang mereka siapkan dalam menyambut masa panen. Sebagai ungkapan rasa syukur pada Sang Pencipta, dan terima kasih mereka pada alam yang telah memberikan berkah bagi ladang, sawah tegal, pekarangan mereka. Berterima kasih, bersyukur karena alam telah bersahabat selama lahan lahan mereka dibudidayakan. Berterima kasih dan bersyukur karena alam telah bersama merawat benih dan pokok pokok tanaman. Sebagian besar masyarakat tani masih menjalani ritual selamatan dalam mengekspresikan ungkapan syukur tersebut. Banyak budaya yang dapat kita gali dari sini. Banyak pula hikmah, pengajaran yang bisa diambil dari budaya budaya tersebut. Berikut beberapa diantaranya. TRADISI GOYANG KARAWANG Tradisi ini kerap digelar menjelang panen raya yang disambut sukacita petani. Gerak tarian yang dimainkan oleh perempuan, sejatinya diadopsi dari proses produksi padi hingga menjadi beras. Sementara irama yang tercipta, dihasilkan dari tumbukan lesung dengan alu sembari diiringi lantunan kawih-kawih Sunda [lagu khas Sunda] (https://www.mongabay.co.id/2019/02/22/merawat-tradisi-leluhur-simbol-petani-menjaga-budaya-agraris/) Gerakan penari goyang karawang merupakan adopsi dari gerakan para ibu, wanita tani dan gadis gadis Karawang tempo dahulu ketika memproses gabah menjadi beras. Mereka memisahkan bulir beras dari kulit/ sekamnya dan pengotor beras dengan cara diinteri, menginteri, menampi beras tersebut di wadah lebar (tempeh/ tampah) (www.engkoswara.blogspot.com) Tari goyang karawang secara massal seringkali diadakan dalam menyambut panen padi di daerah Karawang Jawa Barat. Pemerintah Kabupaten Karawang pun sudah memasukkan kegiatan ini dalam agenda tahunan, sebagai upaya melestarikan seni budaya Karawang. FESTIVAL PERANG TOMAT Di Lembang, Bandung Jawa Barat, petani hortikultura memiliki tradisi unik setiap tahun menghadapi panen raya tomat. Berawal dari jatuhnya harga tomat menjelang dan saat panen tomat setiap tahunnya, petani petani tomat di Kampung Cikareumbi, Desa Cikidan Lembang menyampaikan aspirasinya dengan memanen 2-3 ton tomat masak dari lahan meraka. Tomat tomat tersebut dikumpulkan dan mereka menggelar acara lempar buah tomat, atau perang tomat. Acara ini telah berlangsung selama 2 dasawarsa dan merupakan wujud protes petani tomat terhadap pemerintah yang tidak dapat mengendalikan harga barang saat panen, utamanya tomat (https://www.mongabay.co.id/2019/02/22/merawat-tradisi-leluhur-simbol-petani-menjaga-budaya-agraris/). Saat ini, masyarakat selalu menggelar acara ini menyambut musim panen tomat. WIWITAN Wiwitan adalah ritual persembahan tradisional masyarakat Jawa sebelum panen padi dilakukan. Ritual ini dilakukan sebagai wujud terima kasih dan rasa syukur kepada bumi sebagai sedulur sikep dan Dewi Sri yang mereka percaya menumbuhkan padi sebelum panen. Disebut wiwitan karena wiwit adalah memulai memotong padi sebelum panen diselenggarakan. Yang disebut bumi adalah sedulur sikep bagi orang Jawa karena bumi dianggap sebagai saudara manusia yang harus dihormati dan dijaga kelestariannya untuk kehidupan. Memasuki musim panen, petani di daerah pedesaan banyak yang melakukan ritual wiwitan. Proses wiwitan dilakukan di sawah dan dipimpin oleh mbah kaum atau orang yang tertua di kampung halamannya. Petani pemilik lahan menyiapkan peralatan yang dipakai untuk tradisi wiwitan seperti kendil yang berisi air, ani ani (atau alat pemotong padi lain), bunga mawar, menyan serta kain jarik untuk membungkus hasil panen yang sudah dipetik mbah kaum. Mbah kaum memulai prosesi dengan berdoa, lalu dilanjut memotong sebagian padi sebagai tanda padi sudah siap dipanen. Makanan atau sesajen yang diberikan dapat berupa nasi gurih, ayam kampung, sayur nangka , krupuk, tahu, tempe, teri, peyek, serta jajan kecil, telur, yang dibungkus daun pisang atau daun jati (www.tribunnews.com/tribunners/2016/01/06/tradisi-wiwitan-cara-masyarakat-jawa-bersyukur-atas-hasil-panen) Tidak beda dengan masyarakat Jawa Timur lainnya. Di desa desa di kecamatan Tongas juga ada upacara/ prosesi semacam ini. Sesajen di diletakkan di lahan, kemudian dilakukan wiwitan oleh sesepuh ataupun pemilik lahan. Acara ini digelar dengan memperhatikan tanggal pitungan jawa. Sedangkan acara panen sesungguhnya, dapat dikerjakan dikemudian hari. Sumber : (https://www.mongabay.co.id/2019/02/22/merawat-tradisi-leluhur-simbol-petani-menjaga-budaya-agraris/) (www.engkoswara.blogspot.com) (https://www.mongabay.co.id/2019/02/22/merawat-tradisi-leluhur-simbol-petani-menjaga-budaya-agraris/) (www.tribunnews.com/tribunners/2016/01/06/tradisi-wiwitan-cara-masyarakat-jawa-bersyukur-atas-hasil-panen)