Loading...

BUDIDAYA BAWANG MERAH DARI TRUE SHALLOT SEED

BUDIDAYA BAWANG MERAH DARI TRUE SHALLOT SEED
Biji bawang merah TSS adalah biji botani bawang merah yang dihasilkan dari bunga/umbel bawang merah yang sudah tua (masa tanam sekitar empat bulan) dan diproses sebagai benih. Penggunaan biji bawang merah sebagai sumber benih merupakan salah satu solusi untuk mencukupi kebutuhan benih bawang merah bermutu. Selama ini, kekurangan benih bermutu selalu terjadi dari tahun ke tahun dengan kisaran 65-70%. Kekurangan benih dipenuhi dengan penggunaan umbi konsumsi atau menggunakan umbi impor. Selain kekurangan dari sisi kuantitas, penggunaan umbi sebagai benih secara terus menerus oleh petani dapat menurunkan kualitas benih akibat akumulasi patogen tular umbi termasuk virus yang akan berdampak pada menurunnya produktivitas tanaman. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan TSS yang memiliki potensi produksi lebih tinggi (>20 ton/ha) dan lebih sehat karena tidak adanya akumulasi pathogen tular umbi seperti bakteri, jamur dan virus. Pengertian Umbi MiniUmbi mini adalah umbi berukuran kecil yaitu berukuran 2–3 g yang dihasilkan sebagai produk benih hasil perbanyakan TSS. Umbi mini dihasilkan dengan mengurangi dosis pupuk tanaman dan menggunakan kerapatan sebar/jarak tanam yang rapat. Tujuan produksi umbi mini adalah untuk menghasilkan umbi bermutu dengan ukuran kecil agar mempermudah proses distribusi benih dari penangkar TSS ke petani atau penangkar benih. Teknik Produksi Umbi MiniPersiapan Lahan dan rumah naungan Persiapan lahan berupa pembersihan lahan dan pembuatan bedengan dengan lebar 1,2 m dan panjang sesuai kondisi lahan, tinggi bedengan 30 cm dengan jarak antarbedengan 1 m. Media bagian atas bedengan dikeruk sedalam 20 cm dan diganti dengan media persemaian berupa campuran arang sekam, kompos pupuk kandang dan tanah dengan perbandingan 1:1:1 dalam volume. Pada bedengan dibuat larikan dengan jarak awal dari pinggir bedengan 10 cm dan jarak antar larikan dalam bedengan 10 cm (10 larikan/m). Pada masing-masing bedengan dibuat naungan dengan atap plastik transparan (PE) dengan ketinggian tiang bambu 2 m dan 1,5 m (atap miring) dengan arah atap plastik menghadap ke timur (Rosliani et al. 2002). Jika curah hujan tinggi dapat ditambah tirai yang dapat dibuka tutup untuk menghindari percikan air hujan pada tanaman. Model lain adalah dengan menggunakan rumah naungan model buka tutup dengan bentuk menyerupai busur, seperti yang umum digunakan untuk perbibitan tembakau atau sayuran. Model kedua ini relatif lebih murah dan mudah dibuat, namun membutuhkan kesabaran membuka tutup saat pemeliharaan dan lebih mudah rusak dibandingkan model rumah naungan yang pertama. Teknik lain adalah dengan menanam pada screen house atau net house (rumah jaring) untuk menjamin tidak adanya vektor/hama yang dapat menginfeksi virus pada pertanaman. PemupukanPupuk dasar diberikan saat olah tanah/pembuatan bedengan berupa pemberian pupuk kandang 5 ton/ha dan SP 36 dengan dosis 200 kg/ha. Pupuk kandang yang digunakan, sebelumnya telah dicampur dengan Trichoderma harzianum dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) 1 l formulasi/ton pupuk kandang dan didiamkan selama 1 minggu. Beberapa bakteri dari genera Azospirilum, Alcaligenes, Arthrobacter, Acinetobacter, Bacillus, Burkholderia, Enterobacter, Erwinia, Flavobacterium, Pseudomonas, Rhizobium dan Serratia telah terbukti dapat berasosiasi dengan perakaran tanaman dan memberikan efek yang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman (Saharan & Nehra 2011). Trichoderma harzianum merupakan salah satu agensia hayati dari golongan cendawan yang berfungsi sebagai agens antagonis terhadap beberapa cendawan penyebab penyakit layu semai seperti (Sclerrotium rolfsii dan Rhizoctonia solani) pada berbagai tanaman (Elad etal. 1980), serta Fusarium spp. (moler), Altenaria porri (trotol/mati pucuk) padabawang merah (Prayudi & Kusumasari 2011). Disamping itu juga dapat digunakan sebagai dekomposer dalam pembuatan kompos. Trichoderma harzianum mampu mempercepat pelapukan bahan-bahan organik. PGPR atau BP3T (bakteri perakaran pemacu pertumbuhan tanaman) adalah kelompok bakteri yang dapat mengolonisasi rizosfer (lapisan tanah tipis antara 1–2 mm di sekitar zona perakaran) maupun didalam jaringan korteks (endofit) dan berfungsi sebagai biostimulan, biofertilizer, dan bioprotektan sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman secara keseluruhan (Husen et al. 2006, Saharan & Nehra 2011). Pemupukan susulan pertama diberikan dalam bentuk kocoran NPK (16: 16: 16) dengan dosis 80 kg/ha (8 g/m) pada umur tanaman 30 hari setelah semai, kemudian dilakukan pemupukan kembali saat tanaman berumur 60 hari setelah semai. PenanamanBenih TSS disebar merata pada larikan dalam bedengan dengan kerapatan 2–4 , dengan jarak antar larikan 10 cm. Lubang larikan kemudian ditutup dengan media persemaian dari bagian atas bedengan atau menggunakan arang sekam. Bedengan ditutup dengan daun pisang selama kurang lebih 4–7 hari dimana benih sudah mulai akan tumbuh. PenyiramanPenyiraman dilakukan setiap hari pada pagi (sebelum matahari terbit) dan sore hari dengan sprayer/gembor bertekanan rendah sampai tanaman siap panen dengan memperhatikan kondisi pertanaman. Pada saat turun hujan di siang hari juga dilakukan penyiraman, untuk membilas sisa embun yang tertinggal di pertanaman. Hal ini untuk menghindari infeksi cendawan pada pertanaman. Pengendalian gulma, penyakit dan hamaPengendalian gulma dilakukan secara mekanis yaitu dengan mencabut gulma secara hati-hati, karena dapat menghambat pertumbuhan tanaman muda. Pengendalian terhadap hama penyakit dilakukan sesuai serangan yang ada pada pertanaman dengan metode pengendalian OPT ramah lingkungan. Sebagai tindakan pencegahan dilakukan pemasangan perangkap kuning dan Feromon exi. Feromon exi adalah feromon sex sintetik yang digunakan untuk perangkap ngengat jantan Spodoptera exiqua, yang dipasang 1 minggu sebelum penanaman sebanyak 30–40 perangkap/ha untuk pemantauan populasi dan pengendalian Spodoptera. Perangkap kuning dapat dibuat dengan memanfaatkan botol kemasan bekas, yang dimasukkan kertas kuning dan dilapisi lem tikus pada permukaan luas botol. Perangkap dipasang segera setelah tanam sebanyak 40 perangkap/ha. Perangkap kuning tidak bersifat spesifik seperti halnya feromon sex, namun sangat efektif untuk pengendalian ngengat ulat pengorok daun (Liriomyza sinensis). Bila populasi hama sangat banyak dapat juga digunakan perangkap lampu. Penggunaan agens hayati T. harzianum dan Beauveria bassiana sebaiknya dilakukan secara rutin dengan melakukan penyemprotan, masing-masing seminggu sekali dengan kepadatan 10 spora/ml, konsentrasi 10 ml formulasi/l air bersih, dengan dosis 500 l larutan/ha. PanenPanen umbi mini dilakukan saat tanaman berumur 85 sampai dengan 90 hari setelah tanam disesuaikan dengan kondisi fisik tanaman di lapangan. Tanaman dibongkar, dibersihkan dan diproses sebagai umbi benih dengan masa dormansi 2 bulan, sebelum siap ditanam kembali. Processing BenihTeknik processing umbi mini menjadi benih, sama dengan teknik processing benih umbi pada umumnya. Umbi hasil panenan diikat seberat 1–1,5 kg setiap ikatan kemudian dilayukan dengan dijemur selama 2–3 hari di bawah terik sinar matahari dengan posisi daun di atas, dilanjutkan pengeringan 7–14 hari di tempat pengeringan hingga mencapai susut bobot 25–40 % atau sampai kering askip, dengan posisi umbi dan daun di bolak-balik. Selanjutnya benih disortasi dan disimpan di para-para/gudang benih. Untuk menghndari serangan hama gudang dan jamur dapat digunakan fungisida atau teknik pengasapan pada benih. Umbi mini yang dihasilkan (G0) umumnya terdiri atas 1–2 umbi per tanaman. Perbanyakan lebih lanjut di tingkat penangkar menjadi G1, G2, dan G3 dapat meningkatkan jumlah anakan sehingga saat digunakan petani untuk produksi umbi konsumsi telah memiliki anakan normal (> 6 anakan). Bentuk umbi yang pada G0terlihat bulat juga telah kembali ke karakter asalnya pada G2 dan G3.