Loading...

BUDIDAYA GADUNG (Dioscore hispida Dennst)

BUDIDAYA GADUNG (Dioscore hispida Dennst)
Gadung mengandung karbohidrat cukup tinggi, sehingga dapat dijadikan pangan sumber karbohidrat. Selain untuk memenuhi kebutuhan gizi, konsumsi gadung juga memiliki manfaat karena gadung berkhasiat untuk penyembuhan berbagai penyakit antara lain : Keputihan, Kencing manis, mulas, nyeri empedu, nyeri haid, radang kandung empedu, dan rematik. Pemanfaatan umbi gadung sebagai bahan makanan masih sangat terbatas, karena umbi gadung mengandung suatu jenis racun, yaitu dioscorin, diosgenin dan dioscin yang dapat menyebabkan gangguan syaraf, sehingga apabila memakannya akan terasa pusing dan muntah-muntah. Namun dengan dilakukannya penelitian-penelitian terhadap cara penghilangan racun tersebut secara efektif, maka umbi gadung dapat dikonsumsi secara aman. Di Indonesia, khususnya di daerah perdesaan, banyak dikenal cara untuk menghilangkan racun yaitu merendam umbi gadung ke dalam larutan garam atau abu. Kemudian setelah dijemur dilakukan perendaman di dalam air yang mengalir selama 1 hari. Perendaman ini juga dapat dilakukan pada air yang tidak mengalir dengan cara mengganti air rendaman setiap 4 jam sekali. Selanjutnya dilakukan pencucian dengan air yang mengalir selama 2 hari.Bagian umbi gadung yang dapat dimakan sekitar 85%. Teknik budidaya Teknik membudidayakan tanaman gadung sangat mudah, berikut langkah-langkahnya: Bibit/bahan tanaman Biasanya gadung diperbanyak dengan menggunakan umbi. Gadung sebaiknya ditanam pada awal musim hujan. Di areal dengan musim hujan kurang dari 8 bulan, penanaman awal sampai dengan 3 bulan sebelum datangnya musim hujan dapat meningkatkan hasil sebesar 30 %. Penyiapan lahan dan penanaman Tanaman gadung menghendaki tanah dengan drainase yang baik, subur, kandungan bahan organik yang tinggi, dan tekstur tanah yang ringan. Sebelum penanaman, areal pertanaman dipupuk menggunakan pupuk NPK beberapa hari sebelum penanaman dilakukan. Umbi ditanam sebanyak 3 atau 4 buah per lubang pada guludan-guludan. Jarak antar tanaman adalah 37,5 - 50 cm, tergantung besarnya habitus tanamannya.Kemudian tanaman muda ditutupi dengan rumput kering pada saat penanaman berlangsung. Tanaman muda disarankan diikat pada bambu yang dipasang saat penanaman. Pemeliharaan Pemeliharaan pada tanaman gadung tidaklah rumit. Utnuk memenuhi kebutuhan air, tanaman ini cukup memanfaatkan hujan. Selain itu, pada pertanaman gadung tidak terdapat gulma penting yang dilaporkan mengganggu tanaman ini. Sedangkan hama yang penting yaitu yam beetle (Heteroligus claudius) yang pada stadium larva memakan jaringan umbi dan yam schoot beetle(Criocerts livida) yang pada stadium larva memakan daun-daun muda dan tajuk. Hama pertama biasanya ditanggulangi dengan melakukan rotasi tanaman dan melakukan penanaman yang lambat (late planting). Hama yang kedua dikendalikan melaksanakan penyemprotan pyrethrum. Hama yang lainnya adalah ulat yang menyebabkan umbi mengeras (rot). Hama ini dapat dikendalikan dengan memusnahkan tanaman yang terinfeksi dan dengan rotasi atau pergiliran tanaman. Penyakit yang menyerang adalah mosaik virus yang menyebabkan penyakit white yam, yellow guinea yam I (paling mematikan), water yam, dan Chinese yam. Gejala yang ditimbulkan adalah tanaman menjadi kerdil atau terhambat pertumbuhannya. Pemilihan umbi yang sehat, pemusnahan tanaman yang terinfeksi dan tanaman liar merupakan cara yang dianjurkan untuk mencegah serangan penyakit-penyakit tersebut. Panen Umbi gadung dapat dipanen setelah tanaman berumur 12 bulan. Gadungdapat dipanen satu kali dan dua kali.Pemanenan dilakukan setelah sebagian besar daun menguning yang dilakukan 1 bulan sebelum penuaan sampai 1-2 bulan sesudahnya. Panen pertama dilakukan kira-kira pada 4-5 bulan sesudah tanam.Caranya, tanah digali disekeliling tanaman dan umbi diangkat, kemudian umbi dilukai tepat pada bagian bawah sambungan umbi-tajuk. Selanjutnya tanaman ditanam kembali sehingga tanaman akan membentuk lebih banyak umbi lagi di sekitar luka setelah panen pertama.Saat tanaman menua pada akhir musim, panen kedua dilakukan. Saat ini tidak ada perlakuan khusus untuk menjaga sistem perakaran. Gadung biasanya dipanen dengan cara yang pertama atau panen tunggal. Sumber: Anonim. Gadung. Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian) emai: ume_humaedah@yahoo.com