Kelapa puan atau lebih sering disebut kelapa kopyor merupakan salah satu jenis kelapa eksotik yang menghasilkan buah dengan daging buah yang tidak normal. Jika daging buah kelapa biasa pada umumnya bertekstur keras dan menempel pada tempurung, pada kelapa puan atau kopyor bertekstur lunak, remah dan umumnya sudah lepas dari tempurung. Daging buah kelapa kopyor ini mempunyai rasa lebih manis, gurih, dan lezat dibandingkan dengan kelapa biasa. Kelapa kopyor sangat cocok ditanam di di bawah 200 – 700 meter dari permukaan laut (dpl) dengan suhu optimum 25º C dan kelembaban udara 80 – 90%, curah hujan merata sepanjang tahun sekitar 1200 – 2300 mm per tahun dan sinar matahari lebih dari 200 jam per bulan serta tidak pada tempat terlindung. Kelapa kopyor sebaiknya ditanam di tanah yang cukup subur, gembur dengan tekstur tanah berpasir dan mempunyai drainase yang baik dengan kedalaman air tanah >80 – 100 cm dari permukaan tanah dan pH 5,6 – 6,8. Terdapat dua jenis/tipe kelapa kopyor yaitu tipe “Dalam (Tall)” dan “Genjah (Dwarf)”. Kelapa kopyor tipe Dalam berbuah pada umur + 5 tahun, sedangkan tipe Genjah akan berbuah lebih cepat yaitu + 3 tahun mulai dari penanaman. Hal ini tergantung pada ketinggian tempat lokasi penanaman. Semakin rendah ketinggian tempat maka semakin cepat berbuah. Secara visual, pertumbuhan bibit dan tanaman kelapa kopyor tipe Dalam dan Genjah ada perbedaan. Kelapa kopyor tipe Dalam tampak lebih tinggi dan pertumbuhan vegetatifnya lebih cepat, sedangkan tipe Genjah pertumbuhan vegetatifnya lebih lambat (tampak lebih pendek). PROSEDUR PENANAMAN DI KEBUN Untuk penanaman pohon kelapa kopyor tipe Dalam harus diupayakan jauh dari pohon kelapa biasa minimal berjarak 500 m agar menghindari terjadinya penyerbukan silang. Sedangkan pohon kelapa kopyor tipe Genjah relatif lebih aman meskipun ditanam di lokasi yang berdekatan dengan kelapa biasa. Jarak tanam untuk kelapa kopyor tipe Dalam: 8 x 8 m, 9 x 9 m, dan 10 x 10 m; sedangkan untuk kelapa kopyor tipe Genjah 6 x 7 m, 6 x 8 m, 7 x 7 m, dan 7 x 8 m dalam bentuk segi tiga ataupun segi empat tergantung topografi. Ukuran lubang tanam normal minimal adalah 60 x 60 x 60 cm. Lubang tanam ideal adalah 100 x 100 x 100 m. Semakin besar ukuran lubang tanam maka akan semakin baik untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan sistem perakaran. Pembuatan lubang tanam dilakukan 30 hari sebelum tanam atau minimal 2 minggu sebelum tanam. Hal ini dilakukan untuk menetralisir keasaman tanah dan menekan mikroba patogen. Tanah galian lapisan atas dipisahkan dari tanah lapisan bawah. Dua minggu sebelum tanam (minimal 1 minggu) tanah galian lapisan atas diisikan kembali kedalam lubang tanam. Sedangkan tanah lapisan bawah dimasukkan kembali pada saat penanaman bibit dengan mencampurkan 1 ember atau lebih (20 kg atau lebih) kompos dan pupuk kandang. Pada saat penanaman juga sebaiknya ditaburi fungisida hayati Greemi-G dengan dosis 300 – 500 g/lubang. Penanaman sebaiknya dilakukan pada musim hujan, jika dilakukan pada musim kemarau perlu dilakukan penyiraman. Penanaman dilakukan dengan posisi pangkal akar atau bonggol batang ditempatkan 10 – 20 cm di bawah permukaan tanah. Setelah penanaman sebaiknya bibit diberi naungan sementara dari daun kelapa atau daun tanaman lainnya untuk menghindari daun bibit terbakar matahari. PEMELIHARAAN Bibit yang ditanam pada musim kemarau perlu dilakukan penyiraman minimal sekali sehari dengan dua liter air per bibit. Penyiraman dihentikan sampai perakaran tanaman diperkirakan telah tumbuh cukup kuat. Penyiangan gulma dilakukan di sekitar tanaman sampai radius 1 meter. Alang-alang diberantas sampai ke akar-akarnya dan perlu dilakukan pemagaran kebun agar terhindar dari binatang liar atau ternak. Pemupukan untuk tanaman 0 – 2 tahun diberikan pupuk Urea, TSP dan KCl dengan dosis masing-masing pupuk 0,2 – 0,5 kh/pohon/tahun atau pupuk majemuk 1 – 1,5 kg/pohon/tahun. Untuk tanaman usia 3 – 10 tahun diberikan pupuk Urea 1 – 1,5 kg/pohon/tahun; TSP 0,75 – 1 kg/pohon/tahun dan KCl 1 – 1,5 kg/pohon/tahun atau pupuk majemuk 1,5 – 3 kg/pohon/tahun. Dan untuk tanaman usia > 11 tahun diberikan pupuk Urea 1,5 – 2 kg/pohon/tahun, TSP 1 – 1,5 kg/pohon/tahun, KCl 1,5 – 2 kg/pohon/tahun atau pupuk majemuk 3 – 4,5 kg/pohon/tahun. Pemupukan dilakukan 2 atau 3 kali per tahun, yaitu pada awal dan akhir musim hujan (September & Maret atau September – Januari - Mei). Untuk daerah yang bercurah hujan tinggi akan lebih efektif bila pemupukannya dilakukan 4 kali setahun dengan dosis tersebut tapi setiap kali pemberian menjadi seper empat dari jumlah anjuran. Pada lahan datar pupuk diberikan ke dalam lubang-lubang atau parit (± 15 cm dalamnya) yang dibuat mengelilingi pohon sejarak tajuk pohon. Setelah pemupukan lubang ditutup tanah kembali. Sedangkan untuk lahan miring berteras, dapat dibuat 3 – 3 lubang tetapi pembuatan lubang tersebut bukan pada sisi lereng. Hama yang sering mengganggu pohon kelapa yang baru ditanam di antaranya adalah kumbang, belalang pemakan daun, dan ulat pemakan daun. Sedangkan penyakit yang sering mengganggu antara lain jamur akar putih serta penyakit fisiologis. Pemberantasan kumbang dan belalang pemakan daun bisa dilakukan dengan cara tradisional yaitu menangkap satu per satu, atau secara kimiawi menggunakan insektisida (misalnya Basudin 60 EC, 2 cc/l atau Supracide 2 g/l) yang disemprotkan langsung pada tanaman. Pemberantasan ulat pemakan daun dengan menggunakan insektisida (Curacron 2 cc/l atau Nuvacron 2 cc/l atau Supracide 2 g/l) setiap kali terlihat gejala. Sedangkan pencegahan jamur akar putih, pada waktu tanam sebaiknya ke dalam tanah lapisan atas diberi perlakuan bahan kimia pencegah jamur akar putih (Benlate atau Dithane M-45, 2 g/l). Penyakit fisiologis, gejalanya muncul dengan terhambatnya pertumbuhan daun yang kerdil dan menggulung pada bibit kelapa kopyor selama tahap awal pertumbuhannya di lapangan. Gejala fisiologis ini dapat diminimalisir dengan pemberian pupuk mikro mengandung Boron (Bo) ke sekitar lubang tanam ± 10 g/bibit. Sedangkan gejala pertumbuhan akar ke atas yang biasanya terjadi pada lahan dengan tingkat kemasaman tinggi (pH rendah) sebaiknya ditanggulangi dengan pemberian tanah kapur (Dolomit atau Kaptan). Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Imron Riyadi. Petunjuk Teknis Penanaman dan Perawatan Kelapa Kopyor Asal Kultur Jaringan. Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia, Bogor. Teknologi Kelapa Merajut Peluang, Menuai Untung. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta