Padi Raja Uncak merupakan jenis padi lokal yang berasal dari Kabupaten Kapuas Hulu yang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat. Pengembangan padi lokal ini terus diupayakan karena memiliki potensi jual yang tinggi untuk memenuhi permintaan dari Negara Malaysia meskipun belum ada regulasi pemerintah secara resmi, namun masyarakat daerah perbatasan antara negara Indonesia dengan Malaysia ini sering melakukan transaksi jual beli beras yang sangat terkenal di Malaysia ini. Dalam rangka pengembangan padi lokal raja uncak atau oleh masyarakat di Kapuas hulu disebutnya sebagai beras seluang, untuk itu, disampaikan teknis budidayanya sebagai berikut : Penyiapan Benih Benih Padi Raja Uncak diperoleh secara manual yang dilakukan oleh para petani dengan cara memilih langsung dilahan pada saat panen. Mereka melakukan pemilihan terhadap bulir-bulir padi yang dianggap baik dan memenuhi syarat dijadikan benih, diambil. Sedangkan yang tidak, dimasukkan ke karung yang berbeda untuk digiling menjadi beras.Dalam proses ini, setelah padi yang dianggap memenuhi syarat untuk dijadikan benih dirontokkan kemudian dijemur selama dua hari, dengan rata-rata 3 s/d 4 jam perhari, dan setelah benih dianggap kering maka benih tersebut disimpan ditempat penyimpanan untuk disiapkan dimusim tanam berikutnya. Penyiapan Lahan dan Persiapan TanamDalam persiapan lahan, lokasi dibersihkan dengan cara ditebas lalu lahan dibajak menggunakan hand traktor. Bagi lahan yang sudah bersih dan tidak ada tunggul kayu. Sedangkan bagi lahan baru yang masih belum bersih, hanya dilakukan penebasan. Kemudian untuk persiapan tanam, didahului dengan penyemaian benih. Penyemaian dilakukan secara tradisional yaitu dengan sistem tugal. Dan umumnya dilakukan 14 hari sebelum target tanam. PenanamanSetelah lahan siap ditanami, dan semaian dianggap sudah cukup umur, maka semaian dicabut dan ditanam dilahan yang sudah disiapkan secara bergotong royong (dalam istilah daerah disebut dengan berambek hari). Pola tanam yang umum digunakan adalah pola tana tegel. Namun beberapa petani telah mulai merubah pola tanamnya menjadi sistem jajar legowo, dengan jumlah bibit berkisar antara 4 sampai 8 batang perlubang tanam. PemeliharaanPemeliharaan tanaman dilakukan dengan cara penyiangan rumput yang tumbuh diantara baris tanam. Penggunaan racun rumput dan bahan kimia tidak pernah dilakukan untuk memperoleh hasil tanam yang baik dan sehat. PanenPemanenan tanaman dilakukan saat bulir padi sudah menguning dengan menggunakan alat tradisional yaitu ani-ani secara berambek hari (Gotong Royong). Pemanenan biasanya dilakukan secara bertahap, karena masaknya bulir padi dalam satu rumpun tidak serempak. Bulir padi yang terlebih dahulu masak adalah bagian tanaman yang berada diatas. Dan yang paling akhir dipanen adalah tanaman yang berada pada bagian paling bawah. Dalam satu kali musim tanam, tahapan panen umumnya dilakukan sebanyak 2 sampai 3 kali, dengan tenggang waktu sebulan. Pasca PanenHasil panen dirontokkan dengan menggunakan mesin perontok gabah (Power Threser). Biasanya mesin perontok diangkut ke lahan dan perontokan gabah dilakukan langsung di lahan tersebut secara berambek hari. Terus menerus secara bergiliran dari satu lahan ke lahan petani lainnya. Gabah kemudian dijemur selama dua hari, dengan rata-rata 6 sampai 8 jam perharinya. Gabah yang sudah kering dan dianggap layak giling kemudian dibawa ke tempat penggilingan dan digiling. Setelan mesin yang digunakan sama dengan setelan mesin pada beras lokal lain. Penggilingan dalam dua tahap, yaitu tahap pertama pecah kulit dilanjutkan dengan tahap yang kedua yaitu pembersihan (pembersihan kulit ari). Berdasarkan pengalaman dan penelitian, tingkat rendemen beras raja uncak mencapai sekitar 60%. Proses seleksi beras dilakukan dengan teliti. Beras kepala dipisahkan dari beras menir, beras pecah dan beras kapur. Beras kepala yang kemudian di kemas (packing) dan diberi label MPIG. Sementara beras menir, pecah dan beras kapur umumnya dicampur dan dijual terpisah di pasar-pasar lokal tanpa label dengan harga yang lebih murah. Pada saat ini, kemasan beras yang umum dipakai antara lain kemasan 2 Kilogram dan 5 Kilogram. Dengan asumsi, jika kedepan permintaan melonjak maka tidak menutup kemungkinan akan dibuat kemasan yang lebih besar yaitu kemasan 10 Kg sampai kemasan 20 Kg. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.comSumber : 1) Buku Persyaratan Permohonan Pendaftaran Perlindungan Indikasi Geografis Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Beras Raja Uncak Juni 20152) https://www.google.com