Loading...

Budidaya Sayuran dengan Sistem Hidroponik

Budidaya Sayuran  dengan  Sistem Hidroponik
Dalam upaya meningkatkan kompetensi penyuluh dalam mengikuti perkembangan teknologi pertanian serta memberikan contoh untuk petani, maka Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Wonosari membuat demplot budidaya sayuran dengan system hidroponik..Hidroponik merupakan cara budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah.. Media yang digunakan bisa media air, pecahan genteng, hidroton, cocopeat, dll. Hidroponik berada dari kata Yunani hydro yang berarti air dan phonos yang berarti daya. System hidroponik ada bermacam macam seperti NFT ( Nutrient Film Technique ), DFT ( Deep Fluid Technique ), Dutch Bucket, Ebb & Flow , serta Drip Irigation. Kelebihan dari budidaya system hidroponik adalah bisa dilakukan di tempat yang tidak mungkin untuk budidaya tanaman sayuran, Kelebihan lainnya adalajh penggunaan air yang hemat, penggunaan pupuk yang efisien, pengerjaan yang lebih bersih , serta produktivitas per satuan luas yang lebih tinggi. Sistem instalasi yang digunakan adalah system Deep Fluid Technique ( DFT ) dan system Dutch Bucket. Sistem DFT menggunakan pipa pvc ukuran diameter 3 inchi dan panjang 4 meter dan modul menggunakan frame meja. Pemilihan system DFT ini dengan pertimbangan menghemat penggunaan daya listrik dan pemilihan frame meja akan dihasilkan tanaman yang tumbuh baik dan berbentuk simetris. Pada hidroponik system DFT di BPP Kecamatan Wonosari menggunakan media air dan ditanamani tanaman selada hijau. Satu unit instalasi hidroponik terdiri dari 5 batang pipa pvc yang masing masing sepanjang 4 meter dengan 20 lubang tanam. Jadi dalam satu unit instalasi terdapat 100 lubang tanam. Pemilihan tanaman selada hijau dilakukan dengan pertimbangan tanaman selada bebas hama ulat dan belalang dan harga jual yang cukup tinggi. Satu unit instalasi yang terdiri dari 100 lubang tanam menghasilkan rata-rata 12 kg selada segar.. Harga 1 kg selada di Pasar Wonosari adalah Rp 30.000 dan bila diambil pedagang harga perkilonya adalah Rp 18,000.. Jadi untuk satu unit instalasi menghasilkan pendapatan kotor minimal sebesar Rp 18.000 x 12 kg = Rp 216.000. Biaya produksi per kilogram selada adalah Rp 6.000 sehingga masih didapatkan keuntungan sebesar Rp 12.000 per kilogram. Di BPP Kec. Wonosari juga dilakukan demplot hidroponik dengan sistem dutch bucket. Pada demplot sistem ini digunakan wadah penanaman dari talang air pvc dengan tanaman ketimun. Media tanam yang dipakai adalah campuran sekam bakar dan cocopeat dengan perbandingan 1 : 1. Tanaman mentimun merupakan tanaman yang merambat maka diberikan tali rafia sebagai panjatan tanaman agar dapat berdiri tegak. Demplot yang dipakai talang pvc sebanyak 4 batang masing-masing sepanjang 4 meter yang berjajar 4 batang, Jarak tanam yang dipakai adalah 50 cm dan jarak antar talang adalah 30 cm. Hasil panen ketimun pada demplot ini cukup memuaskan karena berbuah cukup lebat dan besar buah juga maksimal. Disusun Oleh Tugimin STP .Penyuluh BPP Wonosari