Loading...

BUDIDAYA SORGUM MANIS

BUDIDAYA SORGUM MANIS
Sorgum merupakan salah satu tanaman pangan lahan kering yang potensial dikembangkan di Indonesia. Sorgom dapat digunakan sebagai pangan, pakan, dan bioenergi(bioetanol), maupun beradaptasi pada lahan marginl dan membutuhkan air relatif lebih sedikit karena lebih toleran terhadap kekeringan dibanding anaman pangan lain (Deptan 1990).Tanaman sorgum sudah lama dikenal di Indonesia dan dengan penyebuan berbeda untuk setiap daerah. Pemanfaatan biji sorgum di masyarakat masih sebatas umyuk pangan dari Kemenrian Pertanian, pengembangan sorgum diharapkan mendapat perhatian yang lebih baik, karena komoditas ini mempunyai potensi yangcukup besar untuk dijadikan berbagai produk pangan olahan maupun pakan dan bahan baku industri (Deptan 2004). Syarat Tumbuh Tanah Sorgum dapat tumbuh pada hampir semua jenis tanah, kecuali pada tanah Podzolik Merah Kuning yang masam, dan mempunyai kemampuan adaptasi yang luas. Tanaman sorgum mempunyai sistem perakaran yang menyebar dan lebih toleran dibanding tanaman jagung yang ditanam pada tanah berlapisan keras dangkal. Tanah Vertisol (Grumol), Aluvial, Andosol, Regosol, dan Mediteran umumnya sesuai untuk sorgum. Iklim Daerah yang mempunyai curah hujan dan kelembaban udara rendah sesuai untuk tanaman sorgum. Curah hujan 50–100 mm per bulan pada 2,0–2,5 bulan sejak tanam, diikuti dengan Suhu dan Tinggi Tempat Sorgum lebih sesuai ditanam di daerah yang bersuhu panas, lebih dari 20 derajat dan udaranya kering. Oleh karena itu, daerah adaptasi terbaik bagi sorgum adalah daratan rendah, dengan ketinggian antara 1–500 m dpl. Daerah yang selaluberkabut dan intensitas radiasi matahari yang rendah tidak menguntungkan bagi tanaman sorgum. Pada ketinggin lebih 500 m dpl, umur panen sorgum menjadi lebih panjang. Teknik Budidaya Penyiapan Benih kebutuhan benih sorgum untuk 1 hektar lahan berkisar antara 10–15 kg, tergantung pada varietas yang akan ditanam, ukuran benih, jarak tanam, dan sistem tanah. Untuk mendaptkan pertumbuhan tanaman yang baik, vigor kecambah benih yang digunakan 90%. Beberapa varietas memiliki masa dormansi benih 1 bulan pertama setelah panen. Benih sorgum dapat dipertahankan kemampuan tumbuhnya selama periode tertentu asal disimpan dengan baik dalam kemasan yang dapat memepertahankan kadar airnya 10% dan disimpan pada ruangan yang bersuhu 10–16 derajat. Waktu Tanam Sorgum dapat ditanam sepanjang tahun, baik pada musim hujan maupun musim kemarau asal tanaman muda tidak tergenang atau kekeringan. Di lahan kering sorgum dapat ditanam pada awal atau akhir musim hujan secara monokultur setelah panen palawija. Jika ditanam pada musim kemarau, sorgum dapat ditanam setelah panen padi kedua atau setelah palawija di lahan sawah. Tanaman musim kemarau umumnya memberi hasil lebih rendah dibandingkan dengan musim hujan. Hal ini antara lain disebabkan oleh hama burung, selain proses pengisian biji kurang sempurna karena ketersediaan air terbatas. Penanaman Penanaman pada areal yang telah disiapkan sebelumnya dibuatkan lubang tanam dengan jarak tanam yang disesuaikan dengan varietas yang digunakan (60–70 cm) x 20 cm, ketersediaan air dan tingkat kesuburan. tanah. Pada lahan yang kurang subur dan kandungan air tanah rendah sebaiknya menggunakan jarak tanam lebih lebar atau populasi tanam dikurangi dari populasi baku (sekitar 125.000 tanaman/ha). Untuk mengurangi penguapan air tanah, jarak tanam antar baris dapat dilakukan dengan cara ditugal. Pembuatan lubang tanam menggunakan alat tugal mengikuti arah yang telah ditentukan sesuai dengan jarak tanam yang diinginkan. Kedalaman lubang tanam tidak lebih dari 5 cm. Setiap lubang tanam diisi 3–4 benih, kemudian ditutup dengan tanah ringan atau pupuk organik. Penutupan lubang tanam dengan bongkahan tanah atau tanah berat menyebabkan benih tumbuh, 5 hari setelah tanam. Pada umur 2–3 minggu setelah tanam dapat dilakukan penjarangan tanaman dengan meninggalakan dua tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sampai batas tertentu peningkatan populasi tanaman dapat meningkatkan hasil varieas yang mempunyai tingkat batang sedang. Pemupukan Secara tradisional sorgum umumnya ditanam di lahan kering dengan ingkat kesuburan tanah rendah, sehingga hasil rendah. Sorgum dengan sisem perakaran meneybar berpotensi menigkatkan penyerapan hara dan air dari dalam tanah. Pada kondisi lingkungan terbatas, sorgum dapat tumbuh dengan baik dibandingkan tanaman pangan lainnya, namun hasilnya akan tinggi pada kondisi air dan hara yang opimal. Tanaman sorgum tumbuh baik pada lahan pH 6–7,5. Pada tanah dengan pH <5,5 ketersediaan Al dan Mn dapat bersifat racun bagi tanaman sedangkan P dan Mg mengalami defisiensi. Ketersediaan hara mikro menjadi pembatas jika pH > 7,5 namun gejala defisiensi jarang terjadi pada tanaman sorgum. Pada tanah yang kekurangan hara mikro, hasil sorgum rendah. Hara mikro adalah nitrogen, fosfor, dan kalium. Sedangkan hara makro adalah besi, seng, magnesium, boron, tembaga, khlor, dan timah. Penggunaan pupuk perlu memperhatikan waktu dan cara pemberian, jenis, dan tekanan pupuk. Aspek tersebut tidak dapat disamakan di semua lokasi, karena tanah di masing-masing lokasi mempunyai sifat yang berbeda. Tanaman sorgum tanggap terhadap pupuk nitrogen. Takaran pupuk N bergantung pada tingkat kesuburan tanah dan varietas tanah yang digunaan. Varieas unggul lebih tanggap terhadap pupuk N optimum untuk sorgum adalah 90% kg N/ha. Pada lahan kering, penggunaan pupuk N tidak lebih dari 100 kg/ha. Sedangkan pada lahan cukup air dapat mencapai 135 kg/ha. Pemeliharaan Selama pemeliharaan tanaman kegiatan yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut : Pemberian air, dilakukan jika tanaman kekurangan air. Sebaliknya, kelebihan air justru harus segera dibuang melalui saluran drainase. Sorgum termasuk tanaman yang toleran kekeringan, namun pada periode tertentu memerlukan air dalam jumlah cukup, yaitu pada tanaman berdaun empa (pertumbuhan awal) dan periode pengisian biji sampai biji mulai mengeras. Penyiangan gulma. Kompeisi tanaman sorgum dengan gulma dapat menurunkan hasil dan kualitas biji, terutama pada awal musim hujan. Bahhkan keberadaan gulma dapat menurunkan hasil sorgum secara nyata. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa hasil sorgum turun 10% jika penyiangan gulma tidak menurunkan hasil lebih 20% jika dilakukan penyiangan gulma tidak dilakukan penyiangan gulma selama 2 minggu pertama pertumbuhan. Pada tanaman musim kemarau, kompetisi gulma dapat menggunakan herbisida 2,4-D atau herbisida pratumbuhan. Dan penyiangan gulma umumnya bersamaan dengan saat penjarangan tanaman atau bergantung pada pertumbuhan gulma. Pembumbuan dilakukan bersamaan dengan pemupukan kedua (3–4 minggu setelah tanam) atatu sebelumnya. pembumbuan dilakukan dengan cara menggemburkan tanah di sekitar batang tanaman, kemudian menimbunkan tanah pada pangkal batang untuk merangsang pertumbuhan akar dan memperkokoh tanaman agar tidak mudah rebah. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan jika tanaman menunjukkan gejala-gejala serangan. Cara dan waku pengendalian bergantung pada jenis hama dan penyakit yang menyerang. Panen Tanaman sorgum sudah dapat dipanen pada umur 3–4 bualn setelah tanam, bergantung pada varietas yang ditanam. Saat panen dapat ditentukan berdasarkan umur tanaman setelah biji terbentuk atau melihat ciri-ciri visual biji atau setelah melalui masak fisiologisnya. Panen juga dapat dilakukan setelah dan berwarna kuning dan mengering, biji bernas dan keras dengan kadar tepung maksimal. Terlambat panen menurunkan kualitas biji dan biji mulai berkecambah jika kelembaban udara cukup tinggi. Panen sebaiknya dilakkan pada keadaan cuaca cerah. Cara panen yang baik adalah memotong tangkai malai sepanjang 15–20 cm dari pangkal malai. Selanjutnya malai dijemur di bawah sinar matahari dan dirontokkan.