Loading...

BUDIDAYA SUKUN

BUDIDAYA SUKUN
BUDIDAYA SUKUN Sukun mempunyai kelebihan sebagai sumber karbohidrat. Kandungan protein sukun segar lebih tinggi daripada ubi jalar atau kentang. Dalam bentuk tepung, nilai gizinya lebih kurang setara dengan beras. Sukun dikenal sebagai tanaman yang tidak berbiji, berbeda dengan kerabat dekatnya yang disebut keluwih yang mempunyai nama ilmiah sama, tapi tanaman keluwih mempunyai biji. Pengembangan tanaman sukun ialah dengan cara vegetative, yaitu dengan stek akar. Ditulis Oleh : Kristiana. SP (BPPKP Kab. Batang Hari) Caranya adalah dengan mengambil akar tanaman yang telah sebesar ibu jari, sebaiknya akar yang akan dijadikan stek bibit diambil dari tanaman/pohon induk yang baik, yaitu yang sehat, buahnya banyak dan umur tanamannya lebih dari 10 tahun. Bila bibit diambil dari pohon induk yang masih muda, maka masa berbuahnya akan relatif lebih lama. Akar kemudian dipotong-potong sepanjang 10-15 cm, kemudian dsemaikan di dalam kantong plastik/polibag/pot atau tempat persemaian penanaman. Siapkan lubang ukuran 75 x 75 x 75 cm. Sebaiknya lubang dibuat satu bulan sebelum penanaman, agar lubang mendapat sinar matahari yang cukup, sebelum bibit ditanam, terlebih dahulu lubang di isi dengan campuran pupuk kandan/kompos dan tanah. Pemupukan yang terbaik menggunakan pupuk kandang/kompos untuk tanaman yang berumur satu tahun dosisnya 2 blek minyak pupuk kompos/pupuk kandang dan waktu pemberian yang tepat adalah pada awal musim penghujan, selanjutnya diberikan dengan dosis 2 kali. Apabila perawatan tanaman baik, tanaman sukun mulai berbuah pada umur 2,5 tahun dan produksinya akan terus bertambah sejalan dengan pertambahan umur tanaman. Produksi sukun berkisar antara 200 – 750 buah/pohon/tahun. Pemetikan buah dilakukan bila buah sudah tua yaitu setelah buah berumur 3 bulan. Ciri-ciri buah yang sudah dapat dipanen, warna buah sudah hijau kekuningan. Permukaan buah sudah halus merata.