Loading...

Budidaya Tanaman Akar Wangi ( Andropogon zizanoides, Vetiner zizanoides)

Budidaya Tanaman Akar Wangi ( Andropogon zizanoides, Vetiner zizanoides)
Tanaman akar wangi merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi karena dapat menghasilkan minyak akar wangi yang banyak digunakan dalam pembuatan parfum, kosmetik, pewangi sabun, obat-obatan, pembasmi dan pencegah serangga. Tanaman akar wangi merupakan tanaman berumpun lebat, mempunyai akar tinggal yang bercabang banyak, berwarna kuning pucat atau abu-abu sampai merah tua. Tanaman akar wangi ada dua macam yaitu akar wangi berbunga yang disebut akar wangi Gajah atau Usar Gajah yang kurang menghasilkan minyak dan akar wangi tidak berbunga yang banyak dibudidayakan oleh petani di daerah Garut, Jawa Barat. Kesesuaian iklim dan lahan: Tanaman akar wangi dapat tumbuh pada ketinggian 800-1000 m di atas permukaan laut. Curah hujan yang dikehendaki antara 2000-3000 mm/th, dengan hari hujan 140 hari per tahun. Suhu udara 17-27 derajat Celcius , pH tanah 5-7, kelembaban 60% -70% , struktur tanah berpasir atau tanah abu vulkanik di lereng-lereng bukit. Jenis tanah antosol dengan tekstur gembur berpasir, kemiringan lahan maksimum 20-30 %. Pemilihan lahan: Tanaman akar wangi dapat tumbuh pada tanah gembur yang berpasir dan menyukai sinar matahari secara langsung. Namun demikian, tanah yang sudah ditanami dengan akar wangi 3 kali berturut-turut sebaiknya tidak ditanami dengan akar wangi lagi karena kadar minyak yang dihasilkan akan menurun. Pemilihan benih: Benih berasal dari bonggol-bonggol akar tanaman induk yang sehat dan mempunyai produksi bonggol ± 10 ton/ha. Benih dari 1 hektar tanaman dapat digunakan untuk penanaman seluas 5 hektar. Kebutuhan benih per hektar sebanyak 2 ton dan tidak perlu dilakukan penyemaian benih karena tidak efisien. Persiapan lahan: Persiapan lahan yang dilakukan untuk penanaman akar wangi terdiri dari: 1) Membersihkan gulma; 2)membuat bedengan dengan ukuran lebar 120 cm , dan tingginya disesuaikan dengan kondisi lahan. Bedengan dipakai bila akan ditanami secara tumpangsari atau pada lahan yang tinggi kemiringannya; Bila ditanam secara tumpangsari dengan kentang, diperlukan pupuk kandang sebanyak 20 ton/ha. Untuk tanah liat juga perlu diberi pupuk organic, pupuk kandang atau kompos); 3) Membuat lubang tanam sedalam 10 cm; 4) Jarak tanam pada lahan kurang subur 0,75 cm x 0,75 cm, 5) Jarak tanam untuk lahan subur, bila ditanam secara monokultur 20 cm x 30 cm, dan bila tumpang sari 40 cm x 40 cm. Penanaman: Penanaman dilakukan pada musim hujan karena tanaman akar wangi memerlukan air yang cukup pada awal pertumbuhan sekitar bulan Oktober-November. Bila tumpang sari maka tanaman tumpang sari dilakukan terlebih dahulu dari pada akar wangi (± 1 bulan sebelumnya). Cara penanaman yaitu dengan memasukkan bonggol pada lubang tanam, kemudian tanah disekitarnya dipadatkan agar tanaman tumbuh kuat. Pemeliharaan: Penyulaman dilakukan pada saat tanaman berumur satu bulan. Penyiangan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 bulan dan penyiangan terakhir dilakukan pada saat tanaman berumur 6 bulan. Pemupukan dan pencangkulan pada saat tanaman berumur 4 bulan. Pupuk yang diberikan yaitu pupuk ponska sebanyak 5 kuintal per ha dengan cara memasukkan pupuk ke dalam lubang sedalam 10 cm. Panen: Panen mulai dilakukan pada saat tanaman berumur 10-12 bulan. Bila umur tanaman lebih dari 18 bulan maka kadar minyak akar wangi akan rendah. Panen dilakukan dengan cara mencabut akar dengan hati-hati agar tidak tertinggal di dalam tanah. Kemudian daunnya dipangkas dan dan akarnya dibersihkan. Produksi akar pada musim kemarau mencapai ±20 ton per hektar, sedangkan pada musim penghujan ± 15 ton per hektar. Produksi akar musim penghujan sebagian digunakan untuk benih penanaman berikutnya sedangkan produksi akar pada musim kemarau seluruhnya disuling menjadi minyak akar wangi. Pengeringan: Setelah dibersihkan, akar dijemur sekitar 1-2 hari untuk mengurangi kadar air yang ada dalam akar. Sebaiknya tidak menjemur langsung pada cuaca terang. Selanjutnya dilakukan penyimpanan di atas para-para atau lantai beralas papan berkaki. Bila penyimpanan dilakukan di gudang maka harus ada sirkulasi udara yang baik dan tidak lembab. Penyulingan: Minyak akar wangi didapat dengan cara penyulingan. Teknologi yang digunakan untuk penyulingan minyak akar wangi yaitu dengan uap. Alat yang digunakan yaitu: 1) Ketel penyulingan untuk menampung akar wangi kering yang telah dipotong-potong. 2). Ketel air yang dilengkapi dengan tutup yang dapat diangkut secara terpisah dan dilengkapi dengan pipa leher angsa untuk mengalirkan uap ke ketel, 3) Alat pendingin berupa bangunan bak permanen yang diisi dengan air dingin dan didalamnya terdapat pipa spiral dari bahan stainless steel. 4) Pemisah minyak dari bahan stainless steel. Penulis: Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian Sumber: Budidaya Tanaman Akar Wangi, Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta 2008.