Loading...

BUDIDAYA TANAMAN CABE MERAH DI LAHAN PASIR

BUDIDAYA TANAMAN CABE MERAH DI LAHAN PASIR
BUDIDAYA TANAMAN CABE MERAH DI LAHAN PASIROleh : Penyuuh Pertanian BPP Sruweng Kab. Kebumen Budidaya cabe merah di lahan pasir sangat menuntut ketekunan, keuletan, kejelian, kesabaran dan pengetahuan serta modal yang besar jika dibandingkan dengan menanam cabe merah di lahan sawah. Pasir pantai adalah kandungan pasir melebihi 95%, struktur tanah kurang baik, konsistensi lepas, kurang kuat menahan air, drainase sangat cepat, serta miskin hara. Pemberian bahan organik atau pupuk kandang, mulsa jerami, dan pembenah tanah dapat memperbaiki sifat fisik tanah, terutama agregat, yang pada gilirannya akan meningkatkan kelembapan tanah.Pengelolaan air pada tanah pasir berbeda dengan jenis tanah lainnya. Dalam mengelola air untuk tanaman, petani di wilayah tersebut umumnya mengembangkan bak-bak penampung air berupa sumur renteng serta teknik penyiraman. Pengelolaan hama dan penyakit juga penting untuk me- ningkatkan produktivitas tanaman.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman cabe merah diantaranya :1. Penggunaan PupukBahan organik yang terdapat pada pupuk, khususnya pupuk kandang sangat dibutuhkan untuk pengolahan lahan. Pupuk kandang dapat mempertahankan kelembaban tanah lebih lama, terutama tanaman cabe dengan fase pertumbuhan yang cukup panjang. Selain itu, kesuburan tanah di lahan pasir pantai sangat rendah, pasir sebagai media tanam sangat porous sehingga air mudah terserap. Oleh karena itu digunakan pupuk kandang untuk meningkatkan daya simpan lengas tanah.Aplikasi pupuk kandang saat pengolahan lahan / Kuni Saffana. Bahan organik berguna sebagai cadangan unsur-unsur mineral, mensuplai makanan untuk organisme tanah, mengurangi erosi, limpasan dan meningkatkan kelengasan tanah. Berdasarkan hasil penelitian Saffana (2017), rerata dosis pupuk kandang optimal yang dibutuhkan petani sebanyak 5,02 kg/m2.2. PenyiramanAir dibutuhkan tanaman untuk siklus hidupnya. Adanya pasokan air yang cukup, akar dapat menyerap air dengan baik menuju daun kemudian digunakan untuk fotosintesis, menjaga suhu tanaman agar tetap konstan dan memberikan turgor pada sel untuk proses pembelahan dan perbesaran sel. Pasir yang porous mudah kehilangan air, perlu dilakukan penyiraman secara intensif, minimal satu kali dalam satu hari. Penyiraman juga berfungsi menghilangkan kandungan garam (salin) di tanah dan tanaman agar tidak menghambat pertumbuhan akibat kemampuan penyerapan air terhalangi. Supaya lebih efisien, air diberikan secara langsung ke daerah perakaran. Penyiraman bisa menggunakan air tanah yang diambil melalui penggalian dan pompa, kemudian disebarkan dengan alat yang disebut shower. Penelitian Agil (2002) melaporkan, pemberian air optimal sebanyak 1,2 l/hariItu yang utama, tetapi ada hal-hal lain yang harus diperhatikan untuk keberhasilan budidaya di lahan pasir pantai. Penggunaan mulsa seperti mulsa plastik warna hitam perak untuk menutupi permukaan tanah yang panas serta menjaga kelembaban tanah. Penyiangan gulma dilakukan secara rutin agar gulma tidak menjadi inang vektor pembawa penyakit tanaman, serta yang tidak kalah penting penanaman tanaman border seperti jagung atau cemara udang dibutuhkan untuk memecah angin yang kencang di daerah pantai dan menjerap udara salin.3. Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) CabePengelolaan hama dan penyakit menggunakan pendekatan PHT. Setiap petani mengamati serangan hama dan penyakit pada 10% luasan lahan mereka dengan fre- kuensi seminggu sekali, dimulai sejak tanaman berumur 2 minggu setelah tanam (mst) hingga 15 mst. Pengamatan bertujuan untuk menentukan metode pengendalian dan perlu tidaknya penyemprotan pestisida. Selain hama dan penyakit, diamati pula predator dan parasitoid sebagai agens pengendali hayati hama.Pupuk organik yang digunakan berupa kotoran sapi yang telah diproses dengan menggunakan probiotik, suatu bahan yang berfungsi memicu proses pematangan kotoran sapi agar bahan organik yang terkandung di dalamnya lebih mudah diserap tanaman. Penggunaan pupuk kandang yang telah matang juga dapat mencegah penularan hama dan penyakit yang terbawa tanah (soil borne diseases). Dengan menggunakan pupuk kandang yang telah matang, tanaman cabai dapat terhindar dari serangan penyakit busuk leher batang dan layu fusarium, serta hama uret yang biasa terbawa pupuk kandang yang belum matang. Diduga telur dan larva mati pada saat pematangan pupuk kandang. Waktu tanam yang tepat merupakan salah satu strategi dalam pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Penyakit umumnya lebih banyak menyerang tanaman pada musim hujan, termasuk penyakit pascapanen. Oleh karena itu, cabai ditanam pada musim kemarau, yaitu pada bulan Juli, dan dipanen pada bulan SeptemberPenyakit utama pada tanaman cabai merah adalah keriting daun. Penyakit ini disebabkan oleh virus dan hama Thrips yang mengisap cairan daun. Intensitas serangan mencapai 8% pada umur 10-15 mst. Gejala infeksi virus dimulai dengan menguningnya tulang daun, daun menjadi belang hijau muda atau hijau tua, ukurannya lebih kecil dan mengerut. Tanaman sakit menghasilkan buah kecil-kecil dan keriput. Penyakit lain adalah antraknose yang disebabkan oleh Colletotrichum capsici dan layu bakteri oleh Ralstonia solanacearum.Makin banyak populasi dan jenis hama, musuh alaminya pun makin beragam. Musuh alami berperan dalam menekan populasi hama. Makin banyak jumlah musuh alami, makin efektif mengendalikan hama. Musuh alami dapat berupa predator dan parasitoid. Gambar : Budidaya cabe merah di lahan pasir pantai Budidaya tanaman cabe merah di lahan pasir mempunyai tingkat resiko tinggi didukung dengan pengetahuan yang luas sehingga petani yang menanam cabe merah di lahan pasir pantai dapat eksis untuk mencapai sasaran yang diharapkan yaitu keuntungan maksimal dengan biaya rendah.(agis)