CARA BUDIDAYA DURIAN MONTONG Tips yang pertama yaitu pilihlah lahan yang cocok untuk budidaya durian montong. Mengenai kriteria lahan yang cocok, akan kita pelajari bersama di dalam sub judul berikutnya. Selanjutnya yaitu kita juga harus menanampohon durian montong dari bibit yang benar-benar baik, untuk itu sangat penting bagi kita untuk mendapatkan bibit unggul dari pihak-pihak yang terpercaya. Kemudian tips yang berikutnya adalah kita harus mempelajari betul-betul teknik budidaya durian montong sehingga usaha kita bisa berjalan dengan baik. Dan yang terakhir, penting juga bagi kita untuk tahu teknik memasarkannya. Persiapan Lahan dan Pembibitan Durian Montong Lahan yang ideal bagi tanaman atau pohon durian montong yakni yang terletak pada ketinggian antara 50 hingga 600 mdpl dengan suhu rata-rata yakni sekitar 22 hingga 30 derajat celcius. Tanah lempung berpasir yang memiliki kandungan organik tinggi adalah jenis yang sangat pas untuk menanam pohon durian montong. Persiapan lahan dilakukan dengan membersihkan lahan dari tanaman-tanaman pengganggu seperti gulma, alang-alang, dan tumbuhan-tumbuhan lain yang tidak perlu. Untuk pembibitan, maka kita bisa memesan bibit dari tempat yang terpercaya, seperti misalnya dinas pertanian. Cara Menanam Pohon Durian Montong Cara tanam atau teknik menanam durian montong cukup sederhana, namun kita tetap harus melakukannya dengan penuh konsentrasi supaya hasilnya sempurna. Cara menanam durian montong, mula-mula kita membuat lubang tanam di lahan yang telah kita persiapkan dengan diameter sekitar 50 cm persegi. Selanjutnya diamkan selama dua minggu sebelum dipupuk dengan pupuk kandang matang dan Dolomit dengan jumlah cukup. Kemudian, penanaman bibit baru bisa kita lakukan kurang lebih sepuluh hari setelah pemupukan. Saat menanam yang baik yaitu pada musim hujan, dan jarak tanam yang ideal yakni sekitar 10 m persegi. Cara Memelihara Pohon Durian Montong Perawatan dilakukan dengan melakukan pengairan dan pemupukan secara rutin. Selanjutnya, ketika pohon durian telah mencapai ketinggian hingga 5 meter maka pucuknya perlu kita pangkas. Selain itu, setelah pohon durian tumbuh besar, kita perlu membersihkannya dari benalu-benalu dan hama pohon durian. Untuk meningkatkan efektifitas buah durian yang akan dihasilkan, maka ranting-ranting tertutup yang tidak kena sinar matahari sebaiknya kita pangkas, karena pembungaan pohon durian terjadi dengan pencahayaan sinar matahari. Jika ranting-ranting telah berbunga, maka kita perlu membantu proses penyerbukan supaya buah durian yang dihasilkan jumlahnya maksimal. Proses ini bisa dilakukan dengan menyapukan kuas halus secara perlahan pada bunga yang mekar di malam hari, dengan demikian akan semakin banyak putik yang dapat bertemu serbuk sari. Kemudian setelah buah durian berdiameter sekitar 5 cm, penyeleksian perlu kita lakukan. Sisakan buah-buah terbaik dengan jarak kurang lebih 30 cm. Setelah buah mulai matang, kita perlu mengikatnya supaya ketika jatuh buah tidak rusak. Demikian cara budidya durian montong. Pemeliharaan Gulma dibabat dan dibiarkan sebagai mulsa, tetapi lahan di bawah kanopi pohon diusahakan bebas dari gulma. Penyedotan hara sampai saat panen berjumlah 2,4 kg N, 0,4 kg P, 4,2 kg K, 0,3 kg Ca, dan 0,5 kg Mg per ton buah Praktek di Thailand ialah memberikan pupuk majemuk dekat dengan garis-tetes segera setelah muncul kuncup bunga, ditunjang dengan pemberian pupuk di atas tanah jika telah ada pembentukan buah yang lebat; pemberian pupuk lainnya dilakukan setelah panen. Jika tersedia pupuk kandang, dapat menggantikan pemberian pupuk yang terakhir. Hama dan Penyakit Penyakit busuk akar, penyakit busuk pangkal batang, atau kanker-bintik (patch canker), yang disebabkan oleh Phytophthora palmivora, merupakan pembunuh yang ditakuti. Jamur ini hidup di dalam tanah dan memperlemah pohon dengan cara menginfeksi akar. Infeksi bagian di atas permukaan tanah juga terjadi, barangkali terutama disebabkan oleh cipratan partikel-partikel tanah. Pohon durian akan mati jika infeksi pada pangkal batang lama-lama melukai keliling batang pohon itu. Untuk memberantas penyakit ini, pangkal batang diusahakan bebas dari tunas-tunas lateral setinggi 1 m atau lebih, lahan sekitar pohon agar bebas dari gulma, dan pengairan hendaknya tidak membasahi pangkal batang atau tanah yang dekat situ, juga air penyiraman dari satu pohon tidak membasahi pohon lain. Semacam pasta fungisida (sistemik) dicatkan pada pangkal batang durian, dan pohonnya hendaknya seringkali diperiksa, bagian yang terinfeksi agar dipotong dan bekas lukanya dibersihkan. Penyakit-penyakit lain, seperti bintik daun yang disebabkan oleh Colletotrichum spp., Homortegia durionir dan Phyllorticta durionir, dan busuk buah (Rhizopus sp.), tidak begitu berarti. Berbagai hama telah diamati menyerang durian, tetapi kerusakannya tampaknya hanya kadang-kadang. Suatu ulat pengebor buah, Hypoperigea (Plagideicta) lepro.rtricta, memakan biji durian, dan tampaknya lebih sering terjadi. Mamalia, seperti tikus, babi hutan, dan beruang, senang sekali memakan buah durian, dan buahbuah yang berjatuhan harus dikumpulkan setiap pagi agar mengurangi kerugian. Panen dan Pasca Panen Panen Pohon durian tumbuh sangat tinggi, dan karena sulit menerka matangnya buah, praktek yang umum dilakukan ialah menunggu sampai buah itu berjatuhan. Pemanenan secara selektif itu perlu, dan pemetik yang berpengalaman menggunakan berbagai kriteria untuk menaksir kematangan buah durian. Diawali dari jumlah hari yang telah dilewati sejak bunga mekar, mereka juga mungkin memperhatikan warna, elastisitas dan letaknya duri, intensitas bau yang keluar dari buah, suara yang terdengar jika jari-jari dijentikkan pada alur-alur di antara duri, perubahan pada tangkai buah, dan uji-apung di air. Penanganan pasca panen Berkat kulitnya yang kuat, pengangkutan buah durian dipermudah, tetapi adanya duri-duri itu menyulitkan penanganannya; buah ini perlu dipegang tangkainya. Buah yang telah pecah sewaktu jatuh ke tanah, cepat sekali rusak, arilusnya menjadi tengik dalam waktu 36 jam saja. Buah yang masih bertangkai, yang dipungut dari bawah pohonnya masih dapat dimakan setelah 2-3 hari, tetapi jika daya tahan buah yang telah dipungut itu dapat diperpanjang sekitar 1 minggu lagi, hal ini akan merupakan keuntungan yang besar. Buah durian harus segera diangkut ke pasar, diwadahi karung, keranjang bambu atau ditumpuk saja dalam bak truk. Ruang pendingin bersuhu 15° C dapat memperpanjang daya tahan, buah durian selama 3 minggu, dan daging buah yang dibekukan secara cepat akan dapat mempertahankan rasanya selama 3 bulan atau lebih Bunga dan Buah Durian Muda Rontok, Inilah Penyebabnya Tidak berbeda dengan pohon buah-buahan umumnya, durian yang mulai berbunga memerlukan banyak makanan dan unsur penunjang pembentukan makanan tersebut. Ia menguras cadangan makanan dalam batang dan kemudian menyalurkan untuk asupan bunga. Jika proses asupan ini tidak lancar, ditambah dengan kondisi lingkungan yang kurang mendukung, maka akibatnya bunga dan buah muda durian akan rontok. Berikut sebab-sebab bunga dan buah muda durian rontok; Kekurangan Air Makanan tanaman begitupula durian adalah mineral dan air. Pada musim berbunga cabang pohon durian mulai menimbun karbohidrat hasil fotosintesa dengan bantuan hormon tertentu. Hasilnya ialah, kelurnya tandan bunga di sekujur cabang tersebut. Sejauh air tanah masih mencukupi, pertumbuhan putik bunga akan berlangsung normal hingga saat bunga mekar . Biasanya hal ini berlangsung sekitar 6-8 minggu. Keadaan akan menjadi kritis kalau air tanah berkurang atau tidak ada, sementara pohon durian sudah mulai membentuk tanah. Kekurangan air inilah yang mengakibatkan bunga dan buah muda rontok. Cara mengatasi kekurangan air ini sudah tentu dengan menyiram atau mengairi pohon durian itu pada masa pembentukan bunga di musiam kemarau. Kekurangan mineral kalium Jikla menjelang berbunga durian kekurangan mineral, pembentukan bunga tidak juga memuaskan. Kekurangan mineral kalium menyebabkan daya tahan tanaman menurun hingga tak mampu mengahdapi lingkungan yang tidak mendukung. Seperti kekeringan, misalnya. Untuk itu pohon durian sebaiknya diberi pupuk sekitar 2 bulan menjelang berbuah. Gagalnya Penyerbukan Bunga durian umumnya melakukan penyerbukan silang. Putik bunga dari satu pohon harus diserbuki oleh tepung sari dari pohon lain agar dapat berbbuah. Di, duga hanya 5 % saja bunga durian yang dapat menyerbuk sendiri. Penyerbukana dan pembuahan durian hanya dapat terjadi pada saat bunga mekaar penuh dari pukul 5 sore hingga pukul 3 dinihari berikutnya. Bunga yang tidak diserbbuki dalam masa itu akan rontok pada pagi harinya. Karena pemekaran bunga penuh itu berlangsung malam hari, maka peranan serangga malam penting sekali dalam penyerbukan. Inilah yang menyebabkan pohon durian yang berbbunga terlalu awal, tumbuh terpencil, atau ditanam dalam secara sendirian, tidak terserbuki dengan baik, hingga ada saja bunga yang rontok. Cara mengatasinya sudah tentu dengan menanam durian lebih dari satu pohon bersama-sama. Umur dan diameter cabang Semakin besar cabang atau dahanm, semakin besar pula kemampuannya menimbun makanan yang diperlukan untuk menghasilkan bunga dan memperbesar buah. Bunga dan buah yang keluar dari cabang atau dahan seperti inilah yang dapat selamat sampai panen nanti. Biasanya, cabang atau dahan itu paling tidak sudah berdiameter 2 cm dan umur sedikitnya dua tahun. Kadang juga ditemukan pohon durian yang berumur kurang dari dua tahun dapat berbunga, bahkan buah juga, namun sering rontok, Jika tidak rontok cabang atau dahannya yang kemudian menderita, kamasih lemah guna menahan beban durian yang berat. Cara mengatasinya dapat digunakan penyangga berupa tongkat bambu atau sejenisnya Mengatasi Kerontokan Bunga dan Bakal Buah Durian Periode berbunga dan berbuah suatu tanaman adalah saat yang paling dinantikan oleh petani buah dan penanam karena harapan terbesar penanam adalah memanen buah dari tanaman yang sudah dirawat dengan baik dan dalam kurun waktu yang cukup panjang. Namun, harapan ini terkadang tidak menjadi kenyataan karena bunga rontok dan berguguran sebelum berkembang sempurna, berubah menjadi bakal buah. Kalaupun berubah, bakal buah yang terbentuk hanya berjumlah sangat sedikit, Secara umum, kerontokan bakal buah pasca persarian bunga, disebabkan karena beberapa faktor : Kerontokan karena faktor fisiologis kimiawi : Kandungan nutrisi, khususnya hara fosfat (P) dan kalium (potassium = K) yang terbatas dalam tanah atau media tanam tabulampot menjadi faktor penyebab utama kerontokan bunga dan bakal buah atau buah yang sedang mengalami proses pembesaran. Jika kandungan kalium dalam tanah sangat terbatas, maka kerontokan buah akan menjadi lebih banyak. Kerontokan buah ini akan semakin parah jika pasokan air dari dalam tanah ke tanaman juga terbatas. Jika kerontokan buah disebabkan oleh faktor malnutrisi kalium, maka pemberian pupuk kalium, baik dalam bentuk tunggal (Kalium Chloride, KCl) maupun dalam bentuk majemuk (Kalium nitrate, KNO3) dapat menjadi solusi untuk mengatasi kerontokan buah. Pemberian pupuk yang mengandung kalium harus dilakukan seawal mungkin, sebelum pembungaan berlangsung dan pasca persarian selesai sehingga pemanfaatan unsur hara oleh tanaman dapat terjadi secara optimal. Pada beberapa kasus, pemberian pupuk fosfat yang dikombinasikan dengan kalium (pupuk MKP, mono kalium phosphate, KH2PO4 misalnya) sangat membantu tanaman untuk berbunga dan berbuah dengan normal karena pasokan kalium diberikan dalam jumlah lebih sedikit, namun diberikan bersamaan dengan pemberian fosfat yang sangat dibituhkan tanaman saat memasuki periode vegetatif untuk berbunga dan berbuah. Pasokan air sebagai salah satu komponen utama dalam proses fotosintesis juga akan sangat membantu mencegah timbulnya masalah kerontokan bakal buah. Pasokan air yang cukup jangan diartikan bahwa tanaman harus mendapatkan air dalam jumlah berlebihan, namun harus dimaknai bahwa kondisi tanah di sekeliling media tanam haruslah selalu berada dalam keadaan lembab (bukan becek, apalagi tergenang), untuk memastikan bahwa pasokan air selalu tersedia saat dibutuhkan oleh tanaman untuk proses persarian, pembesaran dan pemasakan buah. Ketersediaan kalium dan fosfat yang baik akan lebih bermakna bagi tanaman jika ketersediaan air juga mencukupi, sehingga proses pembentukan dan pengisian buah akan berlangsung dengan baik pula. Kerontokan karena faktor biologis : Pasca persarian bunga, seharusnya diikuti oleh pembentukan bakal buah yang akan berkembang menjadi buah sempurna, namun sering terjadi bakal buah rontok karena terserang beberapa jenis hama maupun penyakit buah. Hama-hama ini umumnya menyerang, dimulai pada saat pembentukan kelopak bunga hingga pembentukan bakal buah pasca persarian bunga. Beberapa hama berwujud ulat yang memakan bakal buah yang baru terbentuk, hama penggerek berupa serangga yang menghisap cairan sel bakal buah yang baru terbentuk, serta beragam jenis kutu penghisap cairan sel yang mengeluarkan sejenis madu yang disukai oleh semut. Simbiosis antara kutu dengan semut ini menimbulkan gejala lapisan hitam (embun jelaga) di sekujur bakal buah dan daun di sekelilingnya. Selain merusak buah muda, tampilan tanaman secara keseluruhan juga menjadi jelek karena lapisan jelaga hitam terlihat mengotori tanaman. Selain itu, jelaga hitam juga menghalangi daun tanaman untuk berfotosintesis dengan normal, dan mengurangi jumlah fotosintat yang terbentuk untuk disimpan sebagai cadangan bahan kering (biomassa) di dalam tubuh tanaman. Kerontokan karena faktor fisik : Di musim penghujan dengan curah hujan yang tinggi, yang mengguyur terus-menerus dengan intensitas jangka waktu panjang, menjadi penyebab utama rontoknya bunga atau bakal buah pasca persarian. Dalam kondisi basah, benangsari (alat kelamin jantan pada bunga) lengket satu sama lain karena terikat oleh air, benangsari tidak bisa bertemu dan membuahi kepala putik (alat kelamin betina pada bunga). Sebaliknya di musim kemarau, suhu panas yang ekstrim disertai dengan pengaruh kelembaban yang rendah di siang hari, juga menjadi faktor fisik penyebab kegagalan persarian, karena pada suhu ekstrim, viabilitas atau daya hidup dan vigor benangsari menjadi sangat rendah (singkat) sehingga sulit bagi benangsari untuk tetap viabel dan membuahi kepala putik. Akibat kedua penyebab utama ini, bunga akhirnya layu dan gagal membentuk bakal buah karena proses persarian bunga tidak berlangsung secara normal. Ada dua hal penyebab rontoknya bunga atau bakal buah durian yang masih kecil. 1.Musim kering yang berjalan lebih lama dari tiga bulan. 2.Musih Hujan dengan Intensitas tinggi dan disertai angin kencang yang merontokkan bunga dan bakal buah 3.Kekurangan unsur makanan berupa unsur N (nitrogen), P (fosfor), dan K(kalium) dari pupuk majemuk NPK. Penyebab pertama dan kedua tidak dapat dicegah. Mestinya sebelum bertanan durian kita harus melihat dahulu apakah di sekitar tempat yang akan ditanam pohon durian itu sudah ada durian orang lain yang tumbuh subur. Kalau tidak, berarti iklim di daerah itu tidak memenuhi syarat. Durian membutuhkan curah hujan yang merata sepanjang tahun, jadi, setiap bulan harus ada hujan. Penyebab ketiga, dapat diusahakan dengan pemupukan teratur dan cukup. Semasa pohon durian masih muda, perlu di beri pupuk kandang sebanyak tiga blek minyak tanah setahun, ditambah pupuk majemuk NPK 15-15-15 sebanyak 200 g per pohon per tahun.Pupuk dibenamkan dalam empat buah lubang yang di gali di sekeliling batang pohon sejauh daun yang terluar. Kalau sudah berbunga, jumlah pupuk di tingkatkan. Pupuk kandang ditambah satu blek minyak tanah tiap tahun, sedangkan yang majemuk ditambah dua kali lipat sehingga mencapai 600 g. Tapi kalau kelak sudah mencapai 4 kg, tidak perlu ditambahkan lagi. jadi, tiap tahun hanya diberikan 4 kg per pohon. Namun perlu juga di ketahui bahwa pemupukan itu akan sia-sia, bila pada tahun musim kemarau yang berlangsung lebih dari tiga tahun Oleh : Muhamad Nu`em, S. Pt BPP Kecamatan Paninggaran