Loading...

CARA MENANAM PISANG DI PEKARANGAN SEBAGAI SUMBER PANGAN PENGGANTI BERAS YANG SEHAT

CARA MENANAM PISANG DI PEKARANGAN SEBAGAI SUMBER PANGAN PENGGANTI BERAS YANG SEHAT
Pisang (Musa parasidiaca) salah satu tanaman buah yang dianjurkan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk ditanam sebagai sumber pangan pengganti beras dari pekarangan. Untuk itu, beliau mengajak masyarakat luas untuk bertanam pisang di sejengkal tanah yang kosong, termasuk di pekarangan. Buah pisang sebagai sumber pangan pengaanti beras yang sehat, karena memiliki manfaat, antara lain: mengendalikan tekanan darah tinggi/stroke dan gula darah, mengobati radang pencernakan, dan menyehatkan mata. Buah pisang dikonsumsi setelah matang dengan langsung dimakan atau direbus atau digoreng dahulu, kecuali untuk kripik dari pisang mentah. Sebelum menanam pisang, sebaiknya mengetahui dahulu tentang sifat kehidupan tanaman pisang, agar pohon pisang yang ditanam tumbuh dan berbuah baik. Pada umumnya pohon pisang tumbuh dan berbuah dimanapun, namun lokasi yang sangat cocok untuk tumbuh dan berbuah baik di daerah tropis basah, panas, dan lembab. Curah hujan optimal 1.520 - 3.800 mm/tahun dan 2 bulan kering. Perlu diketahui, bahwa pohon pisang dapat tumbuh subur dengan menyerap nutrisi yang terkandung dalam tanah humus, lebih baik lagi jika tanahnya sudah melalui proses pemupukan. Selain itu, pastikan ketersediaan air pada media tanam, karena air sangat penting bagi pertumbuhan pisang, tetapi media tanam jangan sampai tergenang air. Lokasi tanam yang berangin kencang tidak terlalu cocok untuk pohon pisang, karena berpotensi merusak daun. Selanjutkan, Anda dapat melakukan tanam pohon pisang di pekarangan dengan memperhatikan sifat-sifat kehidupan pohon pisang tersebut dan cara bertanamnya sebagai berikut: Penyiapan Bibit Bibit pisang yang ditanam berupa anakan yang memiliki tunas setinggi 100 – 150 cm dengan garis tengah umbi/bonggol sekitar 15 - 20 cm. Bibit anakan tersebut dipastikan dari pohon pisang unggul dan sehat. Ada dua jenis bibit anakan, yaitu bibit anakan muda dan dewasa. Pilihlah bibit anakan dewasa yang telah memiliki calon bunga, tunas mirip bentuk tombak, daunnya mirip bentuk pedang, dan sehat tidak terinfeksi hama penyakit. Persiapan lahan Tanah pekarangan yang akan ditanami pohon pisang dipilih memiliki banyak kandungan humus dan kapur. Lahan dibersihkan dari gulma dan kotoran lainnya (batu, plastik, sisa-sisa tanaman), digemburkan, lalu dibuat lubang tanam dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm dengan jarak antar tanaman 300 x 300 cm. Tempat tanam dapat disesuaikan agar tidak mengganggu tanaman lain, bisa ditaruh di pojok atau di pigir melingkari lahan pekarangan. Penanaman Tanaman pisang sebaiknya dilakukan menjelang musim penghujan agar bibit yang baru ditanam mendapatkan pasokan air yang cukup. Cara tanamnya, bibit pisang dimasukkan ke dalam lubang tanam yang telah disiapkan, kemudian ditutup dengan tanah yang sudah dicampur dengan pupuk organik/kandang matang sebanyak 15 - 20 kg per lubang. Bibit pisang dipastikan dalam posisi tegak agar tidak mudah roboh. Pemupukan Tanaman pisang setelah ditanam dilakukan pemupukan sebanyak 5 (lima), yaitu: 1) Sebulan setelah tanam setiap tanaman diberi pupuk berupa 150 gram urea, 100 gram SP-36, dan 200 gram KCl. Selanjutnya diberi pupuk lagi pada umur 4 bulan, 8 bulan, dan 12 bulan dengan jenis dan dosis per tanaman 150 gram urea, 100 gram SP-36, dan 35 - 450 gram KCl. Adapun cara memupuknya, dengan membuat lubang 50 cm dari pohon (melingkari pohon atau larikan) sedalam 10 – 15 cm, lalu pupuk disebarkan pada lubang dan ditutup dengan tanah kembali. Pemeliharaan Pemeliharaan tanaman pisang, yaitu meliputi: 1) Pemangkasan, sehingga setiap rumpun hanya terdiri dari 3-4 batang; 2) Penyiangan secara berkala untuk menghindari gangguan gulma dan sekaligus dilakukan penggemburan tanah serta penimbunan, tidak perlu dilakukan terlalu dalam agar tidak mengenai akar pisang; 3) Pengendalian hama dengan insektisida, seperti pestona dan malathion, 4) Pembuatan parit untuk air di sekitar pohon pisang; 5) Pengairan perlu dilakukan, terutama jika menginjak musim kemarau meskipun pada dasarnya tanaman pisang tidak terlalu membutuhkan pengairan rutin pagi dan sore seperti tanaman lainnya; dan 6) Pemotongan jantung pisang saat tandan pisang sudah berbuah maksimal (5-7 sisir), agar hasil panen buah pisang optimal. Pengendalian OPT Beberapa jenis hama yang sering menyerang tanaman pisang, meliputi ulat penggulung daun pisang, penggerek bonggol, penggerek batang, thrips dan burik. Sementara penyakit yang sering menyerang adalah layu fusarium, bercak daun sigatoka, dan kerdil pisang. Cara pengendaliannya dapat secara mekanis atau kimia yang tidak diuraikan pada lembar ini. Panen Buah pisang yang siap panen telah berumur 100-120 hari setelah muncul bunga (tergantung kultivar atau klon). Buah yang matang ditandai adanya perubahan warna dari hijau muda menjadi hijau tua, atau agak kekuning-kuningan. Cara panennya, buah pisang dipotong dari tandannya dengan pisau tajam, kemudian diletakkan terbalik agar getah dari tandan tidak mengotori buah pisang. Agar proses pematangan dapat seragam dan serentak, sebaiknya dirangsang menggunakan bahan misalnya asap dari daun-daun kayu yang dibakar, daun yang segar (daun akasia), penggunaan karbit, ethrel/ethepon, propilen, asetilen sekitar 10-12 jam. Penulis: Susilo Astuti H. (Pusluhtan) Daftar Pustaka: Buku Pintar: Budidaya Tanaman Buah Unggul Indonesia.Redaksi Agro Media, Cetakan Pertama. 2009. Acuan Standar Operasional Produksi Pisang. Kementerian Negara Riset dan Teknologi RI, Pusat Kajian Buah-Buahan Tropika, Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat, IPB. 2007. Pedoman Jaminan Mutu (Standar Prosedur Operasional Pisang). Direktorat Tanaman Buah, Ditjen Bina Produksi Hortikultura. 2003.