LATAR BELAKANG Tanah masam adalah tanah yang memiliki nilai PH kurang dari 5.5, baik berupa lahan kering maupun lahan basah. Keasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hidrogen di dalam tanahtersebut. Bila kepekatan ion hidrogen di dalam tanah terlalu tinggi maka tanah akan bereaksi asam, sebaliknya bila kepekatan ion hidrogen terlalu rendah maka tanah akan bereaksi basa. Pada kondisi ini kadar kation OH- lebih tinggi dari ion H+. Penyebab Tanah Masam Tanah bereaksi masam (PH rendah) adalah tanah kekurangan Kalsium (CaO ) dan Magnesium ( MgO ) , ini disebabkan oleh : Curah hujan tinggi, pada daerah dengan iklim tropika basah, dengan curah hujan yang tinggi, secara alami tanah akan menjadi masam akibat pencucian unsur hara yang ada. Pupuk pembentuk asam, pupuk nitrogen seperti Urea, ZA, Amonium Sulfat, Kcl, ZK adalah pupuk yang mempunyai pengaruh mengasamkan tanah. Drainase yang kurang baik, genangan air yang terus menerus pada tanah Kelebihan Al ( Alumunium), Fe ( Besi ) dan Cu ( Tembaga ) Proses dekomposisi bahan organik, pada tanah berbahan organik tinggi seperti tanah gambut selalu dijumpai tanah asam dengan PH rendah. Hal ini karena proses dekomposisi bahan organik yang dalam prosesnya akan mengusir dan mengeluarkan unsur ( Kalsium ) CaO dari dalam tanah. Ciri-ciri tanah masam Berbau busuk Permukaan air berkarat Pertumbuhan lumut Pengaruh negatif dari kemasaman tanah terhadap tanaman Penurunan ketersediaan unsur hara bagi tanaman Meningkatkan dampakunsur beracun Penurunan hasil tanaman Mempengaruhi fungsi penting biota tanah yang bersimbiosis dengan tanaman seperti fiksasi nitrogen oleh Rhizobium. Cara PenanggulanganTanah Masam Pengapuran Pengapuran merupakan upaya pemberian bahan kapur ke dalam tanah masam dengan tujuan: 1. Menaikkan PH tanah Nilai pH tanah dinaikkan sampai pada tingkat mana Al tidak bersifat racun lagi bagi tanaman dan unsur hara tersedia dalam kondisi yang seimbang di dalam tanah. Peningkatan pH tanah yang terjadi sebagai akibat dari pemberian kapur, tidak dapat bertahan lama, karena tanah mempunyai sistem penyangga, yang menyebabkan pH akan kembali ke nilai semula setelah beberapa waktu berselang. 2. Meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK) KTK meningkat sebagai akibat dari peningkatan pH tanah. Namun peningkatan KTK ini juga bersifat tidak tetap, karena sistem penyangga pH tanah tersebut di atas. 3. Menetralisir Al yang meracuni tanaman.Karena unsur Ca bersifat tidak mudah bergerak, maka kapur harus dibenamkan sampai mencapai kedalaman lapisan tanah yang mempunyai konsentrasi Al tinggi. Hal ini agak sulit dilakukan di lapangan, karena dibutuhkan tenaga dalam jumlah banyak dan menimbulkan masalah baru yaitu pemadatan tanah. Alternatif lain adalah menambahkan dolomit (Ca, Mg(CO3)2) yang lebih mudah bergerak, sehingga mampu mencapai lapisan tanah bawah dan menetralkan Al. Pemberian kapur seperti ini memerlukan pertimbangan yang seksama mengingat pemberian Ca dan Mg akan mengganggu keseimbangan unsur lain. Tanaman dapat tumbuh baik, jika terdapat nisbah Ca/Mg/K yang tepat di dalam tanah. Penambahan Ca atau Mg seringkali malah mengakibatkan tanaman menunjukkan gejala kekurangan K, walaupun jumlah K sebenarnya sudah cukup di dalam tanah. Masalah ini menjadi semakin sulit dipecahkan, jika pada awalnya sudah terjadi kahat unsur K pada tanah tersebut. Langkah-langkah Pengapuran a) Gemburkan dan bersihkan tanah dari rumput-rumput liar atau gulma b) Areal yang akan dikapur dibagi menjadi luasan yang lebih kecil sesuai dengan dosis pengapuran. Misalnya dosis yang dianjurkan adalah 4 ton/hektar atau 0,4 kg/m2, luas lahan 1 ha, berat kapur dolomit per karung 50 kg, maka satu karung dolomit dapat digunakan untuk luasan 50/0,4 = 125 m2 c) Untuk mempermudah penebaran kapur, lahan 1 ha tersebut dibagi menjadi 40 petakan kecil dengan memakai patok-patok bambu. Setiap petak luasnya 250 m2. Letakkan 2 karung dolomit pada setiappetakan, barulah kapur dolomit ditebarkan secara merata. Penebaran dapat dilakukan dengan tangan atau alat bantu drop spreader yang ditarik dengan traktor. Setelah kapur ditebarkan, tanah kembali dicangkul. d) Pengairan setelah penebaran kapur sangat diperlukan, khususnya jika pengapuran dilakukan pada musim kemarau. Penulis : Edy Soedarmanto., SP