Jagung memiliki peranan penting dalam sistem pangan di Indonesia. Jagung banyak dimanfaatkan untuk konsumsi, bahan baku industri pangan, industri pakan ternak dan bahan bakar. Kebutuhan jagung dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan seiring berkembangnya industri pakan dan pangan. Untuk itu diperlukan berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga kualitas biji jagung, khususnya dari serangan hama dan penyakit. Serangan hama yang harus juga menjadi perhatian adalah hama yang menyerang pada pada saat penyimpanan. Penyimpanan jagung oleh petani, pedagang, dan produsen benih dilakukan untuk berbagai kepentingan, antara lain untuk keamanan pangan, kebutuhan benih pada musim berikutnya, dipasok ke tempat lain, atau menunggu harga yang lebih baik. Jenis Hama yang Menyerang Selama penyimpanan, biji jagung dapat terserang oleh berbagai jenis serangga hama gudang dan tikus. Setidaknya ada 13 spesies serangga hama yang dapat beradaptasi dengan baik dalam penyimpanan jagung, 10 spesies di antaranya sebagai hama utama yang tergolong ke dalam ordo Coleoptera, sedangkan tiga spesies masuk ke dalam ordo Lepidoptera. Selain itu, ada sekitar 175 spesies serangga dan kutu (mites) merupakan hama minor. Serangan hama ini dapat menyebabkan kehilangan hasil sekitar 30%. Kerusakan biji jagung oleh hama sering diikuti oleh organisme lain seperti cendawan Aspergillus sp. yang menyebabkan kualitas biji menurun, karena cendawan tersebut memproduksi senyawa beracun yang disebut aflatoksin. Dalam jangka waktu penyimpanan selama enam bulan, biji dapat jagung dapat mengalami penyusutan 17% dengan kerusakan biji dapat mencapai 85%. Hama gudang dapat dikategorikan ke dalam hama utama, yaitu hama yang mampu makan keseluruhan biji yang sehat dan menyebabkan kerusakan. Salah satu hama gudang utama adalah Kumbang bubuk (Sitophilus spp), dan Rhyzoperta dominica (Fabricius). Kumbang bubuk (Sitophilus spp) Selain menyerang jagung, hama kumbang bubuk (Sitophilus zeamais (Motsch)) juga menyerang beras, gandum, kacang tanah, kacang kapri, kelapa dan jambu. Jagung dan beras merupakan komoditas yang lebih disukai kumbang bubuk dibanding komoditas lain. Hama Bubuk Gabah (Rhyzoperta dominica (Fabricius) Ham bubuk gabah merupakan hama utama biji jagung, sorgum, jewawut, beras, dan gaplek. Ukuran tubuhnya kecil, hama ini menginfeksi biji dengan bau khas yang tajam. Cara Pengendalian • Pengelolaan tanaman: Pengendalian hama gudang, dimulai sejak tanaman masih di lapangan. Serangan di lapang dapat terjadi jika tongkol terbuka. Untuk meminimalkan serangan, salah satunya dengan melakukan panen pada waktu optimum (kadar air 35 - 40%). Panen yang tertunda dapat menyebabkan meningkatnya kerusakan biji di penyimpanan. • Varietas tanaman: Penggunaan varietas yang mempunyai penutupan kelobot yang baik disukai oleh petani yang menyimpan jagungnya dalam bentuk kelobot, karena dapat memperlambat serangan hama kumbang bubuk. • Kebersihan dan pengelolaan gudang. Kebanyakan hama gudang cenderung bersembunyi atau melakukan hibernasi pada saat gudang kosong. Oleh karena itu, pengendalian hama di dalam gudang difokuskan pada kebersihan gudang. Kebersihan gudang, bertujuan untuk mengurangi populasi serangga yang dapat terbawa pada penyimpanan berikutnya. Caranya: Bersihkan semua struktur gudang dan membakar semua biji yang terkontaminasi dan membuang dari gudang. Karung-karung bekas yang masih berisi sisa biji harus dibuang. Semua struktur gudang harus diperbaiki, termasuk dinding yang retak-retak di mana serangga dapat bersembunyi, dan memberi perlakuan insektisida pada dinding maupun plafon gudang. Semua kegiatan ini harus diselesaikan dua minggu sebelum penyimpanan jagung. • Persiapan biji jagung yang disimpan. Persiapan biji terkait dengan parameter kadar air. Kadar air biji <12% dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk. Pada kadar air 8%, kumbang bubuk tidak dapat merusak biji Populasi kumbang bubuk meningkat pada kadar air biji 15% atau lebih. • Pengendalian secara fisik dan mekanis. Pengendalian cara ini dilakukan dengan memanipulasi lingkungan agar tidak terjadi pertambahan populasi serangga. Pengendalian ini dilakukan dengan melakukan penjemuran dan sortasi dengan memisahkan biji rusak yang terinfeksi oleh serangga dengan biji sehat (utuh). • Bahan nabati. Bahan nabati yang digunakan diantaranya daun Annona sp., Hyptis spricigera, Lantana camara, daun Ageratum conyzoides, dan Chromolaena odorata, akar Khaya senegelensis, Acorus calamus, bunga Pyrethrum sp., Capsicum sp., dan tepung biji Annona sp. dan Melia sp. • Pengendalian hayati. Pengendalian dengan memanfaatkan musuh alami dimaksudkan untuk menurunkan atau menekan populasi hama. Penggunaan agensi patogen dapat mengendalikan kumbang bubuk. Pengendali alami yang dapat digunakan diantaranya Beauveria bassiana, dan parasitoid Anisopteromalus calandrae. Sumber: J. Tandiabang, A. Tenrirawe, dan Surtikanti. Pengelolaan Hama Pascapanen Jagung. Dalam Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros Penyusun: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. emai: ume_humaedah@yahoo.com