Loading...

CARA PENANGANAN TELUR TAHAN LAMA

CARA PENANGANAN TELUR TAHAN LAMA
Telur adalah salah satu bahan makanan hewani yang dikonsumsi selain daging, ikan dan susu. Umumnya telur yang dikonsumsi berasal dari jenis-jenis unggas, seperti ayam, bebek, dan angsa. Telur merupakan bahan makanan yang sangat akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Telur sebagai sumber protein mempunyai banyak keunggulan antara lain, kandungan asam amino paling lengkap dibandingkan bahan makanan lain seperti ikan, daging, ayam, tahu, tempe, dll. Telur mempunyai citarasa yang enak sehingga digemari oleh banyak orang. Telur juga berfungsi dalam aneka ragam pengolahan bahan makanan. Selain itu, telur termasuk bahan makanan sumber protein yang relatif murah dan mudah ditemukan. Hampir semua orang membutuhkan telur. Telur merupakan produk peternakan yang memberikan sumbangan terbesar bagi tercapainya kecukupan gizi masyarakat. Dari sebutir telur didapatkan gizi yang cukup sempurna karena mengandung zat – zat gizi yang sangat baik & mudah dicerna. Oleh karenanya telur merupakan bahan pangan yang sangat baik untuk anak – anak yang sedang tumbuh dan memerlukan protein dan mineral dalam jumlah banyak dan juga dianjurkan diberikan kepada orang yang sedang sakit untuk mempercepat proses kesembuhannya . Telur merupakan kumpulan makanan yang disediakan induk unggas untuk perkembangan embrio menjadi anak ayam didalam suatu wadah. Isi dari telur akan semakin habis begitu telur telah menetas. Telur tersusun oleh tiga bagian utama: yaitu kulit telur, bagian cairan bening, & bagian cairan yang bewarna kuning. Upaya pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat dapat dilakukan dengan konsumsi telur ayam. Telur ayam memiliki kandungan gizi tinggi, terjangkau dan secara umum disukai masyarakat. Namun, telur memiliki umur simpan yang singkat, sehingga pengaturan pasokan sulit dilakukan, dan fluktuasi harga sulit dicegah. Pola peningkatan harga eceran telur ayam setiap tahun terjadi di awal tahun sebagai dampak lanjutan dari Hari Natal dan Tahun Baru serta liburan anak sekolah, kemudian menurun selama 1-2 bulan dan kembali meningkat menjelang puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Fluktuasi harga ini pada dasarnya bukan karena kurangnya produksi nasional. Telur memiliki umur simpan yang singkat, yaitu sekitar 7-14 hari pada suhu ruang. Umur simpan yang singkat menyebabkan sulitnya mengantisipasi peningkatan kebutuhan masyarakat di saat permintaan meningkat. Kesegaran telur dapat ditentukan dari kondisi cangkang/kerabang, kondisi putih telur, kondisi kuning telur, serta bau. Perubahan pada parameter-parameter tersebut menyebabkan telur tidak disukai konsumen. Lebih jauh, dari sisi keamanan pangan, telur yang telah menurun mutunya dapat memiliki tingkat cemaran mikroba yang melebihi batas, sehingga berbahaya bagi kesehatan. Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB-Pascapanen) mengembangkan teknologi penanganan telur ayam untuk memperpanjang umur simpan dan mempertahankan kesegarannya. Pemberian lapisan khusus (coating) pada telur dapat meningkatkan umur simpan telur menjadi 30 hari di suhu ruang, atau hingga 40 hari di ruangan ber-AC. Coating yang dapat digunakan dalam penanganan telur adalah bahan alami berbasis protein serta larutan kapur. Peningkatan umur simpan juga ditentukan oleh penanganan telur yang baik dari sejak ditelurkan di kandang hingga siap didistribusikan. Sanitasi dan higienitas kandang sangat penting untuk diperhatikan. Telur yang dipanen harus segera disortasi dan dipisahkan dari yang kotor maupun retak dan abnormal. Pembersihan telur yang kotor perlu dilakukan dengan cara yang tepat. Telur yang bersih dan ditangani dengan baik, tanpa pemberian coating terbukti tetap terjaga kesegarannya dan masih diterima oleh konsumen setelah penyimpanan selama 15 hari di suhu ruang, bahkan lebih. Tidak hanya masih memenuhi preferensi konsumen, dari sisi keamanan pangan pun hasil analisis menunjukkan telur sangat aman dikonsumsi. Teknologi coating telur, dikombinasikan dengan pengaturan suhu yang lebih rendah seperti suhu AC atau suhu lemari pendingin (kulkas) dapat diterapkan jika umur simpan yang dibutuhkan lebih panjang lagi. Misalnya, saat stok telur perlu didistribusikan lebih jauh dari sentra penghasil telur, atau saat mengantisipasi peningkatan permintaan dimana persiapan pasokan perlu dilakukan lebih awal. Lebih lanjut, implementasi teknologi ini relatif mudah dan tidak membutuhkan investasi besar. (Suwarna- Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber : Berbagai sumber