Risiko yang harus diperhitungkan dalam budi daya tanaman adalah Organisme pengganggu tanaman (OPT) karena berpotensi mengurangi kehilangan hasil. Risiko ini juga merupakan konsekuensi dari perubahan ekosistem akibat budi daya tanaman. Perlindungan tanaman dalam sistem produksi terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi. Strategi pengendalian hama dan penyakit mengacu pada konsep pengendalian hama terpadu (PHT) melalui penerapan taktik pengendalian yang tepat, berupa kombinasi berbagai komponen teknologi pengendalian yang disesuaikan dengan stadia pertanaman padi serta jenis llama dan penyakitnya, merupakan alternatif pernecahan masalah hama dan penyakit yang tepat Penggunaan pestisida yang bijaksana menguntungkan manusia, seperti meningkatnya produksi tanaman dan ternak karena menurunnya gangguan hama dan penyakit, terjaminnya kesinambungan pasokan makanan dan pakan karena hasil panen meningkat, serta meningkatnya kesehatan, kualitas dan harapan hidup manusia akibat tersedianya bahan makanan bermutu dan perbaikan lingkungan. Penggunaan pestisida secara tidak bijaksana, tidak hanya mempengaruhi kehidupan musuh alami tetapi juga sistem fauna dan flora, lingkungan dan kesehatan manusia. Budidaya padi di lahan pasang surut cukup menarik karena dengan frekuensi penggunaan insektisida sintetik yang rendah, bahkan di sebagian tempat tidak menggunakannya tetapi mampu menekan populasi hama penggerek batang padi pada tingkat yang rendah. Penyebabnya antara lain a. waktu tanam serempak, b. cara tanam dengan cara memotong turiang padi dan c. membiarkannya sampai membusuk, d. tanam pindah dan e. memotong daun padi pada saat tanam. Cara ini dapat menggagalkan pupa penggerek batang berkembang menjadi imago, membunuh larva yang berada di dalam batang dan menggagalkan telur menetas menjadi larva. Dalam Penelitian Thamrin dkk. Menyampaikan pada umumnya pola tanam padi di lahan rawa pasang surut Kalimantan Selatan adalah satu kali setahun menggunakan varietas lokal, antara lain Siam mayang, Siam mutiara, Siam gumpal dan Siam rukut. Jika mengusahakan padi dua kali setahun digunakan padi varietas lokal dan unggul. Varietas unggul yang digunakan antara lain Ciherang, Situ Bagendit, Situ Patenggang, Inpara 2, Inpara 3 dan Inpara 4. Padi unggul ditanam pada musim hujan sedangkan padi lokal ditanam sejak musim hujan sampai musim kemarau. Umur padi lokal kurang lebih 280 hari dengan periode fase vegetatif berkisar antara 210-240 hari. Persiapan tanam padi di lahan rawa pasang surut dilakukan dengan cara menebas turiang padi dan memintalnya, kemudian dibiarkan di lahan sampai membusuk. Kegiatan ini dilakukan pada lahan yang tergenang. Bersamaan dengan persiapan tanam juga dilakukan semai atau taradak (bahasa Banjar) varietas unggul dan lokal selama kurang lebih 21- 30 hari. Varietas unggul ditanam pada bulan Nopember dan dipanen pada bulan Maret. Varietas lokal ditanam pada bulan April dan panen pada bulan Juli/Agustus. Varietas lokal ditanam tiga kali (tanam pindah). Tanam pertama atau ampak (bahasa Banjar) memerlukan area seluas 15 - 20% dari total area tanam. Tanam kedua atau lacak (bahasa Banjar) dilakukan kurang lebih 60 hari setelah tanam pertama yang memerlukan area seluas 25 - 30% dari total area tanam. Tanam ketiga (setelah panen varietas unggul) dilakukan kurang lebih 60 hari setelah tanam kedua yang memerlukan seluruh area. Setiap kali tanam, anakan padi dibagi menjadi beberapa bagian sehingga yang ditanam hanya 2 - 3 bibit per lubang, sambil melakukan pemotongan daun agar tanaman tidak mudah rebah. Menebas turiang padi dan memintalnya kemudian membiarkan sampai membusuk dapat menggagalkan larva penggerek batang padi menjadi imago (dewasa). Tanam pindah yang dilakukan beberapa kali sangat menggangu perkembangan larva penggerek batang, bahkan dapat mengakibatkan kematian larva instar satu dan dua. Pemotongan daun bibit sebelum tanam dapat mengurangi populasi kelompok telur hama penggerek. Cara tersebut dapat mengurangi tingkat kerusakan padi (sundep) 6,0%. Kerusakan tanaman padi disebabkan oleh larva yang menggerek batang dari bagian atas ke arah pangkal batang. Gerekan larva mempengaruhi pertumbuhan tanaman di bagian atas yang dapat menimbulkan gejala sundep pada pertumbuhan vegetatif dan beluk pada pertumbuhan generatif. Yulia T S. yuliatrisedyowati@gmail.com Pustaka Thamrin, S. Asikin dan M. A. Susanti, 2017 Budi Daya Padi Di Lahan Rawa Pasang Surut Dan Pengendalian Alami Hama Penggerek Batang dalam Jurnal Litbang Pertanian Vol. 36 No. 1 Maret 2017: 28-38 Balai Penelitian Lahan Rawa.2011 Monograg “ Hama dan Penyakit Padi di lahan Pasang surut. http://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/6441 http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/29228