Loading...

CARA TANAM JAHE YANG BAIK DI PEKARANGAN

CARA TANAM JAHE YANG BAIK DI PEKARANGAN
Jahe (zingiber officinale) merupakan salah satu jenis empon-empon, yaitu rimpang yang seringkali digunakan untuk bumbu masak dan jamu tradisional, karena mempunyai rasa pedas dan hangat di badan. Jahe dikonsumsi dapat untuk menjaga imunitas atau daya tahan tubuh, yaitu dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit, termasuk mampu menangkal serangan virus Corona 19 yang sedang menjadi wabah saat ini. Jahe dapat ditanam di pekarang, berikut cara menanam jahe yang baik. Tanaman jahe akan tumbuh dan berproduksi dimana saja, namun untuk berproduksi maksimal pada daerah dengan curah hujan 2.500-4.000 mm/tahun dan memiliki pH tanah antara 6,8 – 7,4. Jika pH rendah biasanya di pekarangan tanah rawa/gambut, sebelum dilakukan penanaman tanah perlu diberi kapur sekitar 10 – 30 kg per 100 meter persegi (perhitungan dari 1-3 ton per hektar) atau dolomit 5 – 20 kg per 100 meter persegi (perhitungan dari 0,5 – 2 ton per hektar). Tanaman jahe di pekarangan dapat ditanam langsung di tanah atau dalam polybag. Tanaman jahe dalam polybag dapat disusun keatas secara bertangga agar menampung banyak tanaman, sehingga pada pekarangan yang sempit (luas kurang dari 120 meter persegi) mendapatkan hasil panen persatuan luas lebih banyak bahkan dapat berlipat ganda. Menanam tanaman jahe langsung di tanah meliputi kegiatan-kegiatan: persiapan benih, pengolahan tanah, penanaman, penyulaman, pemupukan, penyiangan dan pembumbunan. Persiapan Benih Tetapkan jenis jahe yang akan ditanam, jahe emprit, jahe gajah, atau jahe merah. Cara memperbanyak ke-tiga jenis jahe tersebut sama saja, yaitu menggunakan stek rimpang yang telah berumur minimal 10 bulan, jelas asal usulnya, sehat dan tidak tercampur dengan varietas lain. Rimpang yang dapat dijadikan benih berada pada ruas kedua dan ketiga dan memiliki 2 – 3 bakal mata tunas yang baik dengan berat sekitar 25 – 60 gram untuk jahe gajah, untuk jahe emprit dan merah beratnya sekitar 20 – 40 gram. Benih yang telah dipilih untuk ditanam, terlebih dahulu disemaikan agar tumbuh tunas kecil dengan cara: rimpang dihampar di atas jerami atau alang-alang yang tipis, di gudang penyimpanan atau tempat yang teduh. Kalau menunas dilakukan dalam bangunan, bisa menggunakan alas dari bambu atau kayu dengan dilakukan penyiraman setiap hari sesuai dengan kebutuhan untuk menjaga kelembaban rimpang. Benih yang siap ditanam, yaitu rimpang yang memiliki tunas sekitar 1 – 2 cm. Sebelum penanaman, terlebih dahulu diseleksi tunas rimpang yang baik dan dipotong menurut ukuran. Lakukan perendaman antibiotik sesuai anjuran setelah dilakukan pemotongan untuk menghindari terjadinya infeksi bakteri kemudian dikering anginkan. Kebutuhan benih per meter persegi untuk jahe gajah sekitar 20-30 kg (atau 2 – 3 ton per hektar) dan untuk jahe emprit serta merah 10-15 kg (atau 1 – 1,5 ton per hektar). Pengolahan Tanah Tanah yang akan ditanami jahe dibersihkan dari kotoran plastik, batuan, akar bekas tanaman tahunan, dan lainnya. Lalu diolah untuk memperoleh tanah yang gembur, memiliki drainase dan aerasi udara yang baik. Tujuan dari penggemburan tanah agar rimpang jahe dapat tumbuh dengan leluasa, tanah yang berliat jika tidak dilakukan pengolahan dengan baik maka akan menyebabkan rimpang jahe tertekan dan tidak akan tumbuh dengan subur, sementara tanah yang berkerikil akan menyebabkan rimpang tergores sehingga hasil tanaman yang baik tidak akan diperoleh. Drainase yang baik juga sangat dibutuhkan tanaman jahe untuk mencegah serangan penyakit seperti layu karena tergenag air. Sementara aerase udara yang baik akan memberikan ruang gerak akar untuk menyerap unsur hara dan air serta dapat mengurangi pembentukan senyawa anorganik yang bersifat racun dalam tanah. Cara mengolah tanah dengan dicangkul kedalaman sekitar 30 cm, lalu dibuat bedengan lebar 60 – 120 cm, tinggi 25 – 30 cm dan jarak antara bedengan sekitar 30 cm. Untuk lubang tanam, kedalaman antara 5 sampai 7 cm dengan jarak untuk jahe gajah (panen tua; 80 cm x 40 cm/60 cm x 40 cm, panen muda; 40 cm x 30 cm), jahe emprit dan merah bisa dengan jarak 60 cm x 40 cm. Penanaman Penanaman jahe dapat dilakukan sepanjang tahun jika selalu tersedia air, tetapi di daerah yang hanya mengandalkan air hujan penananman dilakukan pada awal musim hujan. Benih yang sudah siap, ditanam pada lubang yang telah disiapkan sesuai jenisnya, jahe emprit, jahe gajah, atau jahe merah. Setelah penanaman, perlu diberikan penutup berupa alang-alang atau jerami untuk melindungi tunas yang baru muncul dari teriknya matahari. Selain itu, penggunaan jerami/alang-alang bisa memperbaiki kondisi permukaan tanah serta mengurangi erosi akibat aliran air. Penyulaman Penyulaman perlu dilakukan setelah tanaman berumur 1-1,5 bulan, yaitu pencabutan dan penggantian tanaman yang mati atau memiliki pertumbuhan yang kurang baik dengan benih cadangan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Hal ini untuk memperoleh tanaman dengan pertumbuhan yang seragam sehingga dapat dilakukan panen secara serentak. Perlu menjadi perhatian, jika tanaman mati yang disebabkan penyakit layu bakteri jangan menggantinya dengan bibit baru, tetapi berikan kapur pada bekas tanaman untuk menghindari penularan tanaman yang berada disekitarnya. Pemupukan Pemupukan tanaman jahe perlu dilakukan meskipun menanam di pekarangan, dengan tujuan untuk meningkatkan unsur hara, memperbaiki tekstur dan aerasi tanah agar produktivitasnya maksimal. Pemupukan dilakukan sebelum dan setelah tanam dengan jenis dan dosis pupuk yang berbeda-beda. Pemupukan tanaman jahe emprit sama dengan jahe merah, yaitu: 2-4 minggu sebelum tanam, tanah diberi pupuk kandang yang sudah matang sebanyak 200-300 kg per 100 m2. Pada saat tanam benih diberikan pupuk SP-36 sebanyak 2-3 kg per 100 m2 dan KCL sebanyak 2-3 kg per 100 m2. Setelah tanaman berumur sebulan diberi pupuk Urea sebanyak 1-1,3 kg per 100 m2, selanjutnya umur 2 bulan dan 3 bulan pemberian pupuk Urea diulang dengan dosis yang sama. Sedangkan pemupukan jahe gajah sebagai berikut: 2-4 minggu sebelum tanam, tanah diberi pupuk kandang yang sudah matang sebanyak 200-400 kg per 100 m2. Pada saat tanam benih diberikan pupuk SP-36 sebanyak 3-4 kg per 100 m2 dan KCL sebanyak 3-4 kg per 100 m2. Setelah tanaman berumur sebulan diberi pupuk Urea sebanyak 1,3-2 kg per 100 m2, selanjutnya umur 2 bulan dan 3 bulan pemberian pupuk Urea diulang dengan dosis yang sama. Penyiangan Penyiangan tanaman untuk menghilangkan gulma juga harus dilakukan secara berkalan setiap 2-4 minggu sekali, selanjutnya setiap 4-6 minggu sekali tergantung tingkat pertumbuhan gulma. Gulma yang dibiarkan tumbuh di sekitar tanaman jahe sampai umur 6 bulan akan menurunkan hasil panen sampai 60 %. Penyiangan yang dilakukan pada umur tanaman lebih 4 bulan harus dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak perakaran dan melukai rimpang jahe yang bisa menjadi jalan masuknya penyakit. Penyiangan bisa dilakukan dengan cara mencabut gulma atau menggunakan herbisida. Pembumbunan Pembumbunan dilakukan setelah anakan jahe terbentuk 4 – 5 rimpang. Selain untuk mencegah rimpang terkena langsung sengatan matahari, dan sekaligus untuk menggemburkan tanah. Pada tanah berliat dan daerah yang memililki curah hujan yang tinggi Rimpang jahe yang terkena sinar matahari akan berwarna hijau dan keras sehingga kualitas rimpang akan turun. Pembumbunan dapat dilakukan sesering mungkin sebelum pemupukan. Selamat mencoba. (Penulis: Susilo Astuti H. – Penyuluh Pertanian Pusluhtan) Daftar Pustaka: https://www.honestdocs.id/10-manfaat-jahe-yang-diakui-dunia-medis. Dipublish tanggal 22 Februari 2019 terakhir Maret 23 Mar 2020. Pedoman Budidaya Tanaman Obat Yang Baik, Direktorat Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementan. 2014. Varietas dan Nomor Harapan Unggul. Tanaman Obat dan Aromatik. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Bogor. 2006.