Kostratani sebagai pusat gerakan pembangunan pertanian kecamatan dalam mensinergikan semua kegiatan pembangunan pertanian seluruh unit eselon I lingkup Kementerian Pertanian dan kegiatan lintas Kementerian/Lembaga dalam pelaksanaan program dan kegiatan di kecamatan. Pelaksanaan pembangunan pertanian melalui gerakan Konstratan menjadi tanggungjawab semua Eselon I lingkup Kementerian Pertanian. Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) sebagai pusat gerakan Kostratani di kecamatan perlu dioptimalkan tugas, fungsi dan perannya melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), dalam upaya percepatan pencapaian kedaulatan pangan nasional. Peran BPP tersebut meliputi: 1) Pusat Data dan Informasi Pertanian, yang mencakup data statistik pertanian dan sumber daya manusia pertanian yang disajikan dalarn Agicultural Operatiort Room (AOR) dar, selanjutnya akan disampaikan ke Agicultural War Room (AWR) di Kostratanas; 2) Pusat Gerakan Pembangunan Pertanian dalam melakukan koordinasi dan sinkronisasi untuk mensinergikan program strategis pembangunan pertanian dan pangan; 3) Pusat Pembelajaran untuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian, melalui proses belajar mengajar, berupa bimbingan teknis, percontohan (Sekolah Lapangan/Demplot/Demfarm/Demarea); 4) Pusat Konsultasi Agribisnis sebagai tempat konsultasi pelaku utama dan pelaku usaha dengan melibatkan instansi/lembaga terkait; dan 5) Pusat Pengembangan Jejaring Kemitraan sebagai tempat pengembangan kemitraan usaha pelaku utama dan pelaku usaha dengan pihak lain. Dalam rangka meningkatkan kapasitas Pelaku Utama dan Pelaku Usaha, Kostratani sebagai pusat pembelajaran pembangunan pertanian di kecamatan perlu didukung oleh program dan kegiatan dari semua eselon 1 lingkup Kementerian Pertanian dan Kementerian/ Lembaga terkait lainnya dengan berbagai kegiatan, antara lain Program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (SIKOMANDAN). Salah satu yang menjadi kendala dilapangan terutama para peternak sapi potong belum begitu paham dan peduli penting untuk melakukan optimalisasi umur sapih bagi sapi potong kalau ini dilakukan dengan tepat tentu akan berdampak kepada peningkatan populasi dan produksi daging sapi. Kondisi di lapangan seringkali pedet terlambat disapih sehingga induk tidak segera birahi/kawin, dampaknya adalah kerugian bagi peternak karena biaya pakan yang harus terus dikeluarkan untuk induk sampai menghasilkan pedet kembali. Adapun pertimbangan lain untuk menentukan umur penyapihan pedet adalah kondisi induk. Apabila induk dalam kondisi tubuh yang buruk, maka penyapihan pedet dapat dilakukan lebih awal. Manajemen penyapihan yang optimal menentukan produktivitas ternak (induk dan anak) selanjutnya. Penyapihan Pedet Penyapihan merupakan proses pemisahan antara induk dan pedet dengan tujuan untuk membatasi hingga menghentikan proses menyusui. Waktu penyapihan sangat menentukan status reproduksi induk selanjutnya. Namun demikian kesiapan pedet untuk disapih merupakan faktor penting yang juga harus diperhatikan, ini terkait dengan kemampuan pedet hidup tanpa menyusui dan mengkonsumsi pakan sumber serat. Diperlukan managemen optimal selama masa penyapihan, di antaranya penyediaan pakan berkualitas baik dalam jumlah yang cukup sehingga berdampak positif terhadap pertumbuhan pasca sapih. Masa penyapihan merupakan masa peralihan bentuk pakan, yaitu dari bentuk halus (susu induk) menjadi bentuk kasar (hijauan, sumber serat). Pakan utama untuk pedet umur 2-4 minggu adalah susu segar. Konsumsi pakan tambahan dan hijauan masih rendah karena belum berkembangnya volume dan mikroba rumen. Standar kebutuhan nutrisi untuk pakan pemula adalah kandungan protein kasar (PK) >10%, TDN (Total Digestible Nutrient) >60% dan serat kasar (SK) <15%. Seiring dengan pertambahan umur, konsumsi hijauan dan ransum pemula semakin meningkat. Penyapihan pedet akan berhasil dengan baik apabila pedet tersebut telah mampu mengkonsumsi ransum pemula minimal 0,5- 0,6 kg/ekor/hari. Selama periode tersebut akan terjadi perubahan fungsi rumen dari kondisi pre-ruminant menjadi ruminansia sejati yang ditandai oleh meningkatnya volume dan pertumbuhan papilla rumen. Manajemen penyapihan yang tidak tepat dapat menghambat pertumbuhan pedet yang ditandai dengan bulu kasar, kusam dan berperut buncit (pot belley), bahkan dapat berakibat pada kematian pedet. Waktu Penyapihan Pedet Waktu penyapihan pedet pada peternakan rakyat sangat beragam. Pada umumnya penyapihan pada pedet sapi potong di peternakan rakyat dilakukan antara umur 3-6 bulan. Penyapihan dini dapat dilakukan pada umur satu bulan namun resiko kematian pedet tinggi dan pertumbuhan pedet terhambat. Penyapihan pedet pada umur tiga bulan dapat memperpendek periode estrus setelah beranak (anoestrus post partus/APP) dan memperpendek jarak beranak (calving interval/ CI) menjadi 384 hari. Pada kondisi peternak yang melakukan sapih dini, mereka jarang memperhatikan pertumbuhan pedet pasca-sapih karena sebagian besar peternak akan segera menjual pedetnya setelah disapih. Bila ditelusuri lebih lanjut, sebagian besar peternak pembeli pedet sapih dini ternyata belum mampu memelihara pedet tersebut dengan baik sehingga dampak negatif sapih dini akan lebih dominan. Susu induk merupakan pakan termurah dan terbaik untuk pedet sapi potong pra-sapih. Pada kondisi pakan yang cukup, induk sapi potong dapat beraktivitas reproduksi normal yaitu dapat beranak setiap tahun meskipun penyapihan pedet dilakukan pada umur 7 bulan. Sapi induk masih dimungkinkan untuk menyusui anak hingga umur kebuntingan 7 bulan tanpa pengaruh negatif terhadap kebuntingan berikutnya. Yangperlu dirubah adalah keyakinan peternak, bahwa sapi tetap dapat birahi meskipun dalam kondisi menyusui. Pedet yang disapih pada umur 7 bulan (205 hari) diharapkan mampu mengkonsumsi dan memanfaatkan pakan kasar dengan baik. Secara fisiologis, penyusuan merangsang pengeluaran hormon oleh kelenjar susu. Kondisi prolaktin yang tinggi menyebabkan suasana progesteron meningkat sehingga estrogen menjadi rendah yang pada akhirnya berpengaruh terhadap aktualisasi estrus (keterlambatan estrus). Artinya bahwa pada masa menyusui, induk sudah dapat kawin kembali dan bunting, sehingga saat pedet disapih usia 7 bulan induk sudah bunting 4 bulan. Penyapihan usia 7 bulan tidak akan merugikan petani karena induk tetap bisa bunting dan dengan kebuntingan tersebut (masa kebuntingan sapi 280 hari) maka induk dapat beranak setiap tahun (menahun). Penyapihan pedet merupakan faktor penting yang menentukan produktivitas ternak selanjutnya. Penyapihan pedet dapat dilakukan pada usia dini jika kondisi pedet memungkinkan yaitu mampu mengkonsumsi pakan tambahan berkualitas baik dan peternak mampu membiayainya. Penyapihan pedet sebaiknya dilakukan pada umur 7 bulan, pertimbangannya adalah efisiensi pakan pedet dan efisiensi reproduksi induk karena tidak menghambat induk untuk bunting kembali sehingga peternak tidak akan rugi. (Suwarna-Penyuluh Pertanian) Sumber : Berbagai Sumber