Oleh : Ir. Budi Kuspriyanto, MEP BAKORLUH – Matahari pagi ini tidak begitu cerah, tetapi tidak juga mendung. Tepat pukul 08.00 WIB pertengahan bulan Mei lalu kami serombongan tim penyusun Tabloid Suara Penyuluh bertolak ke Kabupaten Pringsewu. Kami berencana mengunjungi Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Mitra Alam. Tim kami yang berjumlah 5 (lima) orang berangkat dengan penuh keceriaan, karena ada harapan ingin mencicipi rasa daging kalkun yang dimasak menjadi aneka olahan makanan. P4S Mitra Alam diketuai oleh Bapak Bambang Cahyo Murad, yang salah kegiatannya adalah beternak Kalkun dan menyediakan olahan daging kalkun. Disamping itu, kami juga berencana melaksanakan monitoring dan evaluasi Kegiatan UPSUS ke BP3K Pringsewu dan BP3K Sukoharjo.Perjalanan yang kami tempuh tidak begitu jauh, sekitar 2 jam saja dari Bandar Lampung. Sepanjang perjalanan celotehan dan senda gurau yang segar terjadi, sesekali membicarakan materi MoNev dan daftar pertanyaan yang digunakan untuk menggali kisah perjalanan ternak kalkun dan P4S Mitra Alam. Tentu tindak lanjut obrolan tentang kelezatan daging kalkun, karena memang satu dua orang diantara kami sudah pernah menikmati daging kalkun sebelumnya.Medan perjalanan menuju P4S merupakan daerah persawahan, di kanan kiri terlihat tanaman padi pada umumnya sedang berbulir. Namun kelihatan bahwa tanaman padi tersebut kekurangan air dengan warna ujung daun yang mulai menguning. Ada perasaan was-was terjadi kekeringan dan fuso, namun segera kita pupus mudah-mudahan turun hujan dan petani menuai panen. Keyakinan kami tumbuh setelah melihat sebagian tanaman ada yang sudah berbulir dan menguning, siap untuk dipanen beberapa hari kemudian.Memasuki wilayah Kabupaten Pringsewu tepat di persimpangan masuk komplek kantor Pemda Pringsewu. Seorang anggota nyeletuk, “wah, ini simpang Pemda. Eh,, kantor BP4K sudah pindah belum yaaa?” Kami terhenyak, kabar yag terdengar BP¬4K Pringsewu telah menempati kantor baru di komplek Pemda tersebut. Sungguh sayang, ternyata kami semua belum pernah bersilaturahmi di kantor yang baru tersebut. Ada perasaan bersalah, namun itulah kondisinya. Kami hanya melihat persimpangan itu sambil berharap. Tanpa terasa kami telah sampai di kantor BP3K Pringsewu. Kebetulan jalan di depan kantor sedang diperbaiki, sehingga debu beterbangan kemana-mana. Halaman dan kantor BP3K yang terlihat kering yang ditumbuhi gulma dan rerumputan, daunnya jernih kelihatan putih karena debu yang menempel. Masih terlihat sisa batang jagung yang sudah dipanen dan batangnya sudah mati di kantor BP3K Pringsewu. Ruangan terkunci, ada rumah pengurus kantor yang terbuka, namun tidak ada orang yang menyambut kami. Itu bukan kesalahan petugas BP3K, karena kami tidak memberitahukan kedatangan kami. Saya ingat saat pertama rapat di Bakorluh, Bapak Kepala Sekeratriat Ir. Nasrizal Jalinus, MM pernah menyampaikan agar sesekali mengadakan Sidak ke kantor BP3K. Kebetulan juga hari itu, hari kamis tidak ada pertemuan rutin (mingguan) di kantor BP3K. Menurut informasi BP3K Pringsewu melakukan pertemuan rutin mingguan pada hari Rabu.Kami melanjutkan perjalanan menuju P4S Mitra Alam. Melanjutkan menyusuri jalan raya Sukoharjo, jalan menurun dan melintasi jembatan. Segera kita berbelok kekiri jalan berbatu sedikit menanjak. Disebelah kanan jalan pas di tikungan terpasang banner berwarna hijau kuning dengan tulisan “Rumah Kalkun”. Kami menyusuri jalan sampai ujung dan saat jalan utama berbelok ke kanan, kami terus lurus menyusuri jalan yang “underlag”. Jalan berbatu namun kelihatan belum dipadatkan dengan alat berat, walaupun kelihatannya batunya sudah lama. Jalan menurun melewati embung dan sarana bangunan air bersih yang bangun oleh PU (terlihat dari simbol yang menempel pada bak penampungan), kemudian menanjak terus berbelok ke kiri, jalan tanah yang menjadi pintu masuk P4S Mitra Alam.Lokasi P4S Mitra Alam sungguh nyaman dan menyenangkan. Lokasinya jauh dari kebisingan, menempati areal seluas ± 1 Ha. Didalamnya ada embung yang walaupun kemarau masih penuh air yang jernih, sudah tentu embung itu ditebar ikan khususnya Nila dan berjalan menuju rumah dan saung, kami melewati jembatan bambu sepanjang ± 10 m di tepian embung yang kelihatan dirancang sedikit artistik. Rupanya pak Bambang ini sedikit tampak punya isnting dan jiwa seni.Pada tiang jembatan itu tertambat “ghetek/sampan” dari bambu dengan sebuah pendayung. Sedikit sentuhan wisata air mendayung di embung. Pada areal ini terdapat bangunan sebagai Sekretariat dan ruang pelatihan dan beberapa kamar untuk menginap. Walaupun sederhana, namun bertingkat 2 lantai. Rumah yang merangkap dapur dan ruang makan dan beberapa pondok santai yang dibangun terbuka untuk berbagai keperluan diskusi kelompok dll. Sudah barang tentu tidak lupa kandang kalkun, bangunan penetasan dan sarana lainnya.Berbagai tanaman buah seperti kelengkeng, jeruk, jambu jamaika, buah naga dan tidak lupa tanaman obat. Tanaman obat salah satunya adalah: Nimba. Pohonnya seperti pohon Mindi yang daunya dimanfaatkan untuk pakan tambahan untuk kalkun serta sebagai vaksin alami pada kalkun. Cerita tentang bagaimana perjalanan P4S Mitra Alam dan Kalkunnya dikupas oleh teman-teman, sebab tim dipecah menjadi 2 tim, ada yang melanjutkan perjalanan ke BP3K Sukoharjo. Di BP3K Sukoharjo, kami telah ditunggu oleh Kepala BP3K Sukoharjo Bpk. Suryono dan beberapa penyuluh serta seorang penyuluh swadaya yang kebetulan mendapat fasilitasi dari program UPSUS. Walaupun cuaca panas namun pertemuan berlangsung menyenangkan, kadang-kadang diselingi dengan komentar-komentar yang lucu menyegarkan. Seperti biasa, materi yang disampaikan tentang Paket Hemat dan Paket Lengkap yang mencakup 17 Kegiatan. Sebenarnya kegiatan tersebut sudah mendarah daging bagi penyuluh pertanian dan menjadi tugas dan fungsi dari penyuluh, jadi secara teknis seharusna tidak menjadi masalah bagi penyuluh. Kami tidak membahas detail materi pembinaan, yang jelas teknis dan administrasi dibahas semua dengan cara administrasi dua arah. Seorang teman rombongan menambahkan beberapa materi khususnya tentang administrasi kegiatan.Saya tertarik dengan kegiatan yang dilaksanakan oleh Penyuluh Swadaya. Ia menerapkan Sistim Tanam Padi Jajar Legowo (Jarwo). Saat itu saya berpendapat bahwa sistim Jarwo yang diterapkan kurang pas. Saya mohon pak Suryono (Ka. BP3K) menjelaskan sistim Jarwo. Paling tidak beliau paham tentang Jarwo dan sudah menjelaskannya pada berbagai kesempatan. Akan tetapi penyuluh swadaya tadi tidak menerapkannya. Hal itu bisa terjadi karena dia tidak tahu teori jarwo, akan tetapi menurut pengalaman di daerah tersebut (Spesifik Lokasi) petani melakukan modifikasi Jarwo.Apakah pembaca bisa memperkirakan apa yang dilakukan oleh penyuluh swadaya tersebut? Mungkin pembaca mengira bahwa penyuluh swadaya tersebut melakukan “Jarwo Kurang” (istilah yang digunakan oleh Penyuluh Senior Provinsi). Sistim yang sering dillakukan oleh petani adalah tanam tugal dengan jarak tanam (25 – 35 cm) tergantung lahan dan kondisinya. Kami tidak membahas mana yang efektif menurut teori, yang jelas itu realitasnya dan saya yakin petani lebih tahu kondisi lahannya. Berbagai alasan dikemukakan antara lain adalah jumlah rumpun/anakan dan ruang tumbuh optimal (itu yang saya tangkap). Sistim Jarwo yang diterapkan oleh penyuluh swadaya tersebut adalah sistim tegel yang diberi lorong, namun jarak tanamnya dipersempit menjadi ± 20 cm, lebih kecil dari petani umumnya didaerah itu. Realitanya demikian, teori tanaman pinggir, mudah perawatan, menghindari hama, jumlah tanaman yang lebih banyak, yang diusung teknologi jarwo, rasanya terpenuhi. Saya tidak memberikan penilaian, karena bukan ahlinya dan bukan wewenangnya. Menurut pengalaman ke berbagai wilayah, memang penerapan jarwo ini banyak mengalami modifikasi. Saya yakin dan sudah pasti benar bahwa semua orang yang terkait dengan Jarwo, baik peneliti, Penyuluh, dan Petani muaranya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan petani lebih spesifik Peningkatan Pendapatan Petani.Selesai MoNev dan pembinaan kami kembali menuju ke P4S untuk menjemput tim yang bekerja di P4S tersebut. Kami sampai, mereka telah tertawa lepas karena mereka telah mencicipi lezatnya daging kalkun yang dimasak gulau dan sate. Kami menyusul mencicipi dan pulangnya kami tidak lupa membawa sate, bakso, gulai untuk oleh-oleh orang-orang tercinta dirumah.Sate daging kalkun memang lezat, tekstrunya empuk, rasanya enak dan baunya tidak amis. Dan yang paling menenangkan daging kalkun ini rendah lemak, cocok bagi Anda yang tidak diperbolehkan makan daging tinggi lemak. Delapan piring yang berisi masing-masing 15 tusuk sate langsung habis seketika. Perpaduan bumbu khas dan daging Kalkun begitu mengenyangkan perut kami. Selain sate, kami pun disuguhi dengan gulai Kalkun. Rasanya pun tidak kalah enak dengan sate Kalkun. Bagi Anda yang ingin berlibur, berwisata, atau studi lapang ada baiknya mengunjungi P4S Mitra Alam dan pastikan Anda berwisata sekaligus menambah khasanah ilmu pengetahuan.