Loading...

CYBER EXTENSION SEBAGAI INOVASI PERTANIAN

CYBER EXTENSION SEBAGAI INOVASI PERTANIAN
Inovasi pertanian adalah segala sesuatu yang dihasilkan melalui kegiatan penelitian dan pengkajian pertanian untuk membantu perkembangan pertanian secara umum. Secara umum, inovasi pertanian dapat berupa produk (varietas benih), pengetahuan (knowledge), maupun alat dan mesin pertanian (Sumardjo et al. 2010). Perbedaan tingkat adopsi teknologi umumnya dipengaruhi oleh karakteristik inovasi berdasarkan teori Rogers (2003) dalam Sumardjo et al. (2010) antara lain dalam aspek (a) tingkat kemudahan dalam mencoba aspek yang ditawarkan (triability), (b) tingkat keuntungan dari biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang akan diperoleh (relative advantage/efisiensi dan efektivitas), (c) tingkat kemudahan dari pemahaman dan penerapan inovasi (complexity), (d) kesesuaiannya dengan kebutuhan dan pengalaman petani, norma masyarakat (compatibility), dan (e) tingkat kemudahannya dalam pengobservasian hasil/dampak dari penerapan inovasi (observability). Menurut Mulyandari (2011) cyber extension merupakan suatu bentuk inovasi dalam komunikasi pertanian, sehingga dapat dikatakan bahwa sarana teknologi informasi selain menjadi inovasi juga merupakan pembawa inovasi. Berikut akan dijelaskan lebih dalam terkait dengan karakteristik cyber extension sebagai suatu inovasi. Tingkat kemudahan dalam mencoba aspek yang ditawarkan (triability) Kemudahan dalam mencoba aspek yang ditawarkan adalah seberapa besar kemungkinan sinergi teknologi informasi dalam implementasi cyber extension dapat dicoba dalam lingkungan yang terbatas. Dalam satu kasus, untuk mempelajari dasar-dasar website memerlukan periode waktu yang singkat, namun untuk mempelajari dan memanfaatkan perangkat lunak secara penuh sangat memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan aplikasi biasa. Menurut Van den Ban dan Hawkins (1999) kemudahan dicoba ada hubungannya dengan kemudahan memilah. Sebagai contoh pada kasus petani bahwa petani cenderung untuk mengadopsi inovasi jika telah dicoba dalam skala kecil di lahannya sendiri dan terbukti lebih baik daripada mengadopsi dalam skala besar. Inovasi cepat tersebut menyangkut banyak risiko. Tingkat keuntungan dari biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang akan diperoleh (relative advantage/efisiensi dan efektivitas) Keuntungan relatif teknologi informasi dalam implementasi cyber extension adalah derajat seberapa lebih baiknya sinergi aplikasi teknologi informasi dalam implementasi cyber extension yang digunakan dibandingkan dengan saluran atau media yang digantikan. Keuntungan relatif dapat direpresentasikan dengan nilai ekonomi. Adekoya (2007) dalam Sumardjo et al. (2010) menyatakan bahwa keuntungan yang potensial dari komunikasi cyber extension adalah ketersediaan yang secara terus menerus, kekayaan informasi (informasi nyaris tanpa batas), jangkauan wilayah internasional secara instan, pendekatan yang berorientasi kepada penerima, bersifat pribadi (individual), dan menghemat biaya, waktu, dan tenaga. Van den Ban dan Hawkins (1999) mengatakan keuntungan relatif dilihat dari kemungkinan inovasi membuat petani mencapai tujuannya dengan lebih baik, atau dengan biaya yang lebih rendah daripada yang telah dilakukan sebelumnya. Keuntungan relatif dapat dipengaruhi oleh pemberian insentif pada petani, misalnya menyediakan benih dengan harga subsidi. Menurut hasil penelitian Mulyandari (2011) keuntungan nyata yang sangat dirasakan oleh petani dari adanya cyber extension adalah dalam menghemat waktu dan biaya transportasi karena dibantu dengan pemanfaatan teknologi informasi khususnya dengan adanya telepon genggam. Dengan adanya media konvergen, jangkauan pemasaran hasil pertanian juga lebih luas hingga mencapai luar kota bahkan sudah menjangkau luar pulau dan uar negeri. Keuntungan yang juga dirasakan petani dengan pemanfaatan teknologi informasi adalah dapat mengakses informasi sesuai dengan kebutuhan melalui internet. Tingkat kemudahan dari pemahaman dan penerapan inovasi (complexity) Kompleksitas cyber extension adalah sejauh mana sinergi aplikasi teknologi informasi dalam implementasi cyber extension dianggap sulit dipahami, diterapkan, dan digunakan. Teknologi informasi cenderung akan diadopsi dalam lingkungan proses pembelajaran apabila mudah beradaptasi (kompleksitasnya rendah). Menurut Van den Ban dan Hawkins ( 1999) inovasi sering gagal karena tidak diterapkan secara benar. Beberapa diantara memerlukan pengetahuan dan keterampilan khusus. Sebagai contoh adakalanya lebih penting memperkenalkan sekumpulan paket inovasi yang relatif sederhana tetapi saling berkaitan, walaupun kaitan-kaitan tersebut mungkin sulit dipahami. Tingkat Kesesuaiannya dengan kebutuhan dan pengalaman petani, norma masyarakat (compatibility) Kompatibilitas dari sinergi aplikasi teknologi informasi dalam implementasi cyber extension merupakan derajat dimana suatu inovasi dapat konsisten dengan praktik, nilai, dan pengalaman masa lalu dari pengadopsi potensial. Dalam kasus tertentu, alat web yang lebih memungkinkan pengguna untuk meng-upload dokumen yang sebelumnya telah dibuat dalam pengolah kata akan lebih cenderung mudah diadopsi dibandingkan dengan alat web yang masih membutuhkan instruktur untuk materi kursus yang perlu diketik ulang. Menurut Van den Ban dan Hawkins (1999) kompatibilitas berkaitan dengan nilai sosial budaya dan kepercayaan, dengan gagasan yang diperkenalkan sebelumnya, atau dengan keperluan yang dirasakan oleh petani. Sebagai contoh, petani yang memperoleh tambahan panen dengan menanam varietas gandum unggul, besar kemungkinan akan menerima varietas padi unggul yang dianjurkan. Tingkat kemudahannya dalam pengobservasian hasil/dampak dari penerapan inovasi (observability) Kemudahan sinergi aplikasi teknologi informasi dalam implementasi cyber extension untuk dilihat hasilnya yaitu seberapa besar sinergi aplikasi teknologi informasi dalam implementasi cyber extension mampu memberikan hasil yang dapat dilihat. Hasil dari beberapa ide mudah diamati dan dikomunikasikan kepada orang lain, sedangkan beberapa inovasi sulit untuk diamati dan dideskripsikan. Kursus secara online dengan mensinergikan aplikasi teknologi informasi tampaknya sangat mudah dilihat hasilnya dan lebih menguntungkan sehingga lebih cenderung untuk diadopsi. By: Yoyon Haryanto