Peningkatan mutu nilam (Pogos-temon cablin Benth) termasuk sasaran Program Gerakan Peningkatan Produksi, Nilai tambah dan Daya Saing Perkebunan (Grasida) yang dicanangkan Kementerian Pertanian terutama nilam yang dikelola oleh petani di kawasan pengembangan perke-bunan, petani milenial yang mempunyai kemauan untuk maju dan berkembang secara mandiri. Seperti kita ketahui minyak atsiri yang diambil dari nilam banyak dimanfaatkan sebagai bahan industri farmasi, bahan baku produk wewangian dan kosmetika, sehingga saat ini nilam menjadi salah satu komoditi unggulan Kementerian Pertanian karena sebagai komoditi penyumbang devisa negara. Selain itu nilam juga sebagai sumber sumber mata pencaharian petani di Indonesia. Minyak atsiri dihasilkan dari proses penyulingan dari batang dan daun tanaman (terna) nilam. Bagi petani, limbah dari hasil penyulingan yang berupa ampas daun dan batang dapat digunakan sebagai bahan pembuatan dupa, obat nyamuk bakar, pupuk dan mulsa. Namun produksi dan mutu minyak nilam masih belum optimal hal ini antara lain disebabkan penanganan karena beberapa aspek penentu mutu nilam masih sering diabaikan para petani. Untuk mendapat nilam bermutu baik, perlu disampaikan beberapa aspek yang menjadi penentu mutu minyak nilam Aspek penentu mutu minyak nilam Salah satu menentukan mutu minyak nilam antara lain: jenis dan mutu terna (daun dan batang) nilam, alat suling dan jumlah air dalam proses penyulingan. Jenis dan mutu terna nilam Varietas unggul nilam adalah yang menghasilkan kandungan Patchouli Alkohol (PA) tinggi. Ada tiga jenis varietas nilam yang mempunyai kandungan PA tinggi yaitu Sindikalang, Lhoksumawe dan Tapak Tuan dengan ciri-ciri sebagai berikut: Varietas Sidikalang (SK Mentan No.19/Kpts/SR.120/8/2005) dengan ciri-ciri: 1) produktivitas terna (daun dan ranting) 31,38 – 80,37 ton/ha); 2) Produksi minyak 176,4 – 464,4 kg/ha; 3) kemampuan daya adaptasi yang luas; 4) pangkal batangnya berwarna ungu tua; dan e) relatif toleran terhadap penyakit layu bakteri dan nematoda. Varietas Lhokseumawe (SK Mentan No.320/Kpts/SR.120/8/2005) dengan ciri-ciri: 1) produktivitas terna (daun dan ranting) 42,5 – 64,6 ton/ha); 2) Produksi minyak 273,4 – 415,6 kg/ha; 3) kemampuan daya adaptasi yang luas; 4) pangkal batangnya berwarna ungu tua Varietas Tapak Tuan (SK Mentan No.321/Kpts/SR.120/8/2005) dengan ciri-ciri: 1) produktivitas terna (daun dan ranting) 41,5 – 64,6 ton/ha); 2) Produksi minyak 234,8 – 583,2 kg/ha; 3) kemampuan daya adaptasi yang tinggi; 4) pangkal batangnya berwarna hijau dengan sedikit ungu. Alat suling Bahan konstruksi alat suling, juga berpengaruh terhadap mutu dan minyak nilam. Jika dibuat dari bahan plat besi tanpa digalvenis, akan menghasilkan minyak berwarna gelap dan keruh karena terkena karat. Alat suling yang baik dibuat dari besi tahan karat (stainless steel), atau plat besi yang digalvanis (carbon steel) minimal pada bagian pendingin dan pemisah minyak, agar diperoleh minyak berwarna lebih muda dan jernih. Jumlah air dalam proses penyulingan Terna kering nilam yang sudah dimasukkan ke dalam ketel suling sebaiknya dibasahi air supaya terna dapat dipadatkan. Yang harus diperhatikan adalah, terna kering nilam akan menyerap air sebanyak bobotnya, sehingga pada penyulingan harus memperhitungkan jumlah airnya agar tidak terjadi kekurangan air selama penyulingan. Aspek lain yang mempengaruhi mutu terna (daun dan batang tanaman), yaitu kondisi tanah dan iklim, umur tanaman, periode pemotongan, penanganan pasca panen dan penyimpanan daun kering sebelum disuling. Pada jenis nilam yang unggul standar produksi terna nilam basah panen pertama (umur 6 bulan) produksi terna basah per hektar sebesar 10.000 kg/ha; panen kedua (umur 10 bulan) produksi terna mencapai 15.000 kg/ha dan pada umur 14 bulan produksi terna basah sebesar 17.500 kg/ha. (Sri Puji Rahayu)