Pembangunan sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan sektor pertanian, dimana sektor ini memiliki nilai strategis dalam memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat atas bertambahnya jumlah penduduk Indonensia, dan peningkatan rata-rata pendapatan penduduk Indonesia dan taraf hidup petani, peternak dan nelayan.Dalam rangka mempercepat pencapaian peningkatan produksi daging di dalam negeri guna memenuhi permintaan konsumsi masyarakat Indonesia, mengurangi ketergantungan impor terhadap daging dan ternak bakalan serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas usaha budidaya ternak ruminansia, Kementerian Pertanian meluncurkan program Upaya Khusus Percepatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting (UPSUS SIWAB). Upsus SIWAB mencakup dua program utama yaitu peningkatan populasi melalui Inseminasi Buatan (IB) dan Intensifikasi Kawin Alam (INKA). Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan merupakan salah satu setra pengembangan ternak sapi PO di Indonesia. Dengan jumlah populasi ternak sapi PO mencapai 3705 ekor. Yang pengelolaannya dilakukan secara berkelompok dalam bangkir – bangkir Kelompok Tani Ternak.Salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan populasi melalui Inseminasi Buatan (IB) adalah deteksi birahi yang tepat pada ternak. Birahi atau estrus atau heat didefinisikan sebagai periode dimana ternak betina mau menerima kehadiran pejantan untuk kopulasi. Dalam program perkawinan alam maupun artificial, seorang peternak harus mampu mengenali tanda-tanda birahi dan faktor-faktor yang mendorong berlangsungnya tingkah laku birahi yang normal.Pada dasarnya pemunculan tingkah laku birahi secara sempurna merupakan pengaruh interaksi antara hormon estrogen dan indra. Dalam hal ini terlibat suatu gabungan indra penciuman, pendengaran dan indra penglihatan. Indra perasa/sentuhan pun menjadi pentin pada sapi betina yang melangsungkan perkawinan, melalui gigitan, jilatan, endusan (percumbuhan sebelum kopulasi). Satu kunci sukses dalam deteksi berahi adalah lamanya waktu untuk mengamati betina-betina, memeriksa tanda-tanda berahi. Petani/Peternak dianjurkan untuk meluangkan waktu selama minimal 30 menit pada pagi hari dan 30 menit pada sore hari. Petani/peternak juga dianjurkan memperhatikan betina-betina pada waktu-waktu yang sama setiap hari.Tanda - tanda birahi pada sapi betina adalah :Ternak gelisah, Sering berteriak ( dalam bahasa jawa bengak bengok dalam suara emah emoh), Suka menaiki dan dinaiki sesamanya, Vulva : bengkak, berwarna merah, bila diraba terasa hangat (3 A dalam bahasa Jawa: abang, abuh, anget, atau 3 B dalam bahasa Sunda: Beureum, Bareuh, Baseuh), Dari vulva keluar lendir yang bening dan tidak berwarna, Nafsu makan berkurang, Posisi siap kawin,lebih tenang saat di pegang, Ekor diangkat, adanya pangkal ekor yang diangkat merupakan pertanda bahwa seekor ternak sapi dalam keadaan birahiSatu hal yang dianjurkan untuk pengamatan birahi adalah dengan melepaskan sapi betina pada padang penggembalaan deteksi birahi, yang diisi dengan sekelompok ternak. Padang penggembalaan dibuat tidak terlalu sempit agar memungkinkan sapi betina kesana kemari bebas merumput, dengan demikian peternak dapat mengadakan deteksi birahi dengan mudah.Alat Bantu Deteksi Birahi :Catatan Perkawinan, Catatan aktifitas reproduksi merupakan alat bantu terbaik dimana dengan catatan tersebut akan memberikan petunjuk betina mana yang mengalami birahi pertama kaliChinball Marker, Alat yang diletakkan pada rahang bawah pejantan yang sudah divasektomiDeteksi Elektronik, alat ini dikenal dengan sebutan Heatwatch, yang dibungkus dengan kain dan ditempel pada pangkal ekor, sehingga jika betina tersebut dilepas dan birahi, maka alat tersebut akan mengirimkan transmisi ke komputer yang telah diset di ruangan.Faktor berpengaruh pada keberhasilan reproduksi• Kondisi umum sapi• Ketepatan deteksi berahi• Proses perkawinan• Kesehatan saluran reproduksi• Kualitas sperma dan oositPelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) harus dilakukan ketika ternak dalam keadaan birahi, karena pada saat birahi liang leher rahim (servix) pada posisi yng terbuka. Keberhasilan IB yang ditandai dengan terjadinya konsepsi (kebuntingan) bila diinseminasi pada periode-periode tertentu dari birahi. Tingkat keberhasilan IB pada setiap periode birahi berdasarkan hasil penelitian : 1. Permulaan birahi : 44%. 2. Pertengahan birahi : 82% 3. Akhir birahi : 75% 4. 6 jam sesudah birahi : 62,5% 5. 12 jam sesudah birahi : 32,5% 6. 18 jam sesudah birahi : 28% 7. 24 jam sesudah birahi : 12% .Penulis : Mellyanti Dewi, SP. Penyuluh Pertanian Kecamatan Tanjungsari, Lampung Selatan. Sumber : 1. http://kttsumbermulyo.blogspot.co.id/2015/12/tanda-tanda-birahi-sapi- betina.html 2. http://ternakdanburung.blogspot.co.id/2016/10/cara-deteksi-birahi-dan- tanda-tanda.html