Loading...

DILEMA DALAM MENERAPKAN SISTEM TAJARWO PADA TANAMAN PADI SAWAH MERUPAKAN TANTANGAN BAGI PENYULUH PERTANIAN UNTUK MENUNJUKKAN

DILEMA DALAM MENERAPKAN SISTEM TAJARWO PADA TANAMAN PADI SAWAH MERUPAKAN TANTANGAN BAGI PENYULUH PERTANIAN UNTUK MENUNJUKKAN
‘Legowo’ diambil dari bahasa Jawa yang berasal dari kata “lego” yang berarti luas dan “dowo” yang berarti panjang. Tujuan utama dari tanam padi dengan sistem jajar legowo yaitu meningkatkan populasi tanaman dengan mengatur jarak tanam dan memanipulasi lokasi dari tanaman seolah-olah tanaman padi berada di pinggir atau seolah-olah tanaman lebih banyak berada di pinggir. Berdasarkan pengalaman, tanaman padi yang berada di pinggir akan menghasilkan jumlah anakan lebih banyak, postur batang tanaman padi lebih besar dan kokoh, sehingga menghasilkan produksi padi lebih tinggi dengan jumlah kualitas gabah yang lebih baik. Ini dikarenakan tanaman padi yang berada di pnggir akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak itulah sebabnya sistem tanam jajar legowo (sitajarwo) menjadi salah satu pilihan dalam proses meningkatkan produksi gabah. Sekarang ini, sosialisasi serta praktek tanam sitajarwo sudah sampai ke pelosok desa yang ada dalam Kabupaten Pidie Jaya. Ini semua karena kerja keras penyuluh, pagi sore bahkan sampai malam hari. Penyuluh senantiasa ikhlas mendampingi petani dalam menyampaikan inovasi-inovasi baru dalam dunia pertanian dengan tujuan akhir kesejahteraan petani dengan bertambahnya pendapatan petani. Serta menyukseskan program pemerintah dan kementerian pertanian yaitu swasembada beras dan Indonesia terbebas dari impor beras. Tetapi kenyataan di lapangan terkadang tak seindah seperti yang kita bayangkan dan direncanakan. Di era tahun pertama sosialisasi sitajarwo, nampak hamparan sawah di Kabupaten Pidie Jaya 60% menerapkan sistem sitajarwo pada tanaman padi sawah. Tetapi akhir-akhir ini persentasenya malah berkurang. Minat petani semakin menurun. Ini dikarenakan hasil produksi setelah panen yang relatif berasa tidak sesuai dengan teori. Pola jajar legowo di teori memakai jarak tanam 20cm x 10cm x 40cm untuk jarwo 2:1. Terkadang pada saat aplikasi di lapangan waktu penanaman berlangsung terjadi jarak tanam 20cm x 20cm x 40cm, jarak lorong 40cm, jarak antara barisan ke samping 20cm dan jarak ke dalam juga 20cm sehingga jumlah populasi berkurang, karena memakai sistem tanam jajar legowo tetapi jarak tanam tidak mengikuti aturan jarwo, memakai aturan biasa. Tantangan yang semacam itu menuntut kerja penyuluh untuk lebih ekstra di lapangan dan memberi penyuluhan serta membujuk petani dan buruh tani (buruh tanam) untuk mau benar-benar menerapkan sitajarwo. Karena bukan teori yang salah tetapi aplikasi di lapangan yang tidak sesuai dengan anjurn yang ada, sehingga hasil panen petani yang menerapkan sitajarwo tidak maksimal. Ditulis oleh: Megawati, S.TP, PPL di BPP Kec. Panteraja