Loading...

Efisiensi Pemupukan Nitrogen Pada Tanaman Padi

Efisiensi Pemupukan Nitrogen Pada Tanaman Padi
Pendahuluan Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Beras bukan hanya sekedar komoditas pangan, tetapi juga merupakan komoditas strategis yang memiliki sensitivitas politik dan perekonomian bangsa. Sebagai komoditas strategis, pemerintah berupaya meningkatkan ketersediaan pangan melalui peningkatan produksi nasional agar seluruh kebutuhan beras dapat dipenuhi dari dalam negeri serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Keberhasilan dalam budidaya padi sangat tergantung pada kemampuan mengelola sumber daya lahan secara optimal dan berkesinambungan. Demi tercapainya produksi pertanian yang optimal maka kesuburan tanah perlu dipelihara dengan baik. Menurut Foth (1994), tanah memegang peranan yang penting dalam keberhasilan produksi pertanian. Tanaman dapat tumbuh dengan optimal jika tanah mempunyai sifat fisika, kimia dan biologi tanah yang baik. Salah satu penentu keberhasilan dalam budidaya padi adalah kandungan hara dalam tanah. Tanaman padi dapat tumbuh dan berkembang secara optimum apabila hara yang ada dalam tanah sifatnya mudah tersedia dan mudah diserap tanaman. Salah satu penyebab penurunan produksi padi diantaranya adalah karena levelling off (kejenuhan tingkat produksi lahan) akibat penggunaan bahan-bahan agrokimia (Prabowo, 2007). Levelling off disebabkan kurangnya kandungan bahan organik dalam tanah. Adanya intensifikasi pertanian dengan pemakaian pupuk anorganik seperti pupuk N ternyata sudah tidak mampu lagi memberikan peningkatan hasil. Secara umum efisiensi serapan nitrogen pada lahan sawah beririgasi hanya dapat mencapai 45% dan sisanya sekitar 55% tidak dapat dimanfaatkan tanaman (Jipelos, 1989). Akibat kehilangan ini maka nitrogen yang diserap tanaman rendah. Taslim et al, (1989), mengemukakan bahwa nitrogen merupakan faktor pembatas dalam upaya peningkatan produksi padi, terutama varietas unggul baru. Pupuk Nitrogen Pupuk Urea CO(NH2)2 adalah pupuk yang mengandung 46% N, sangat mudah larut dalam air dan bereaksi cepat, juga mudah diubah menjadi ion amonium (NH4 + ) yang dapat diserap oleh tanaman (Novizan, 2003). Pemupukan Urea rentan kehilangan melalui pencucian, erosi dan penguapan. Dosis dan waktu pemberian yang tepat akan mampu menekan kehilangan N dan meningkatkan penyediaan untuk tanaman. Nitrogen tersedia akan berpengaruh pada produksi dan kualitas tanaman (Engelstad, 1997). Nitrogen merupakan unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman, karena perannya dalam memacu pertumbuhan vegetative. Pergerakan NH4+, selain dipengaruhi oleh faktor pergerakan (aliran massa dan difusi) secara umum, juga ditentukan oleh besarnya hidrolisis urea (seperti enzim urease, air tanah) dan juga faktor penentu nitrifikasi (seperti pH, air tanah, aktivitas bakteri nitrifikasi) (Tillman dan Scotes, 1991). Dibandingkan dengan NO3 -, maka pergerakan NH4 + lebih lambat. Hal ini dikarenakan oleh ion NH4 + merupakan kation yang dapat teradsorbsi di permukaan koloid tanah, sehingga gerakan difusinya akan lebih kecil dibandingkan NO3- yang senantiasa bebas larut di larutan tanah (Wild, 1981). Sementara itu, Muklis dan Fauzi (2003) mengatakan bahwa Nitrogen adalah unsur hara yang bermuatan positif (NH4+ ) dan negatif (NO3- ), yang mudah hilang atau menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Beberapa proses yang menyebabkan ketidaktersediaan N dari dalam tanah adalah proses pencucian/terlindi (leaching) NO3-. Denitrifikasi NO3- menjadi N2, volatilisasi NH4+ menjadi NH3, terfiksasi oleh meniral liat atau dikonsumsi oleh mikroorganisme tanah. Pemupukan Nitrogen Pemupukan merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam budidaya padi. Pemupukan adalah tindakan memberikan tambahan unsur hara pada kompleks tanah baik langsung maupun tak langsung yang dapat menyumbangkan bahan makanan bagi tanaman. Tujuan utama dari pemberian pupuk N adalah untuk meningkatkan hasil bahan kering. Biasanya, tanaman mengambil 30-70% dari N yang diberikan, bergantung pada jenis tanaman, tingkat dan jumlah N yang diberikan (Engelstad, 1997). Pada tanaman pepadian, pemberian nitrogen dapat memperbesar ukuran butir dan meningkatkan persentase protein dalam biji (Buckman dan Brady, 1982). Unsur nitrogen berperan dalam penyusunan komponen penting organ tanaman, sebagai unsur yang terlibat dalam proses fotosintesis, merupakan unsur kehidupan sel tanaman, penyusun klorofil dan senyawa organik penting lainnya. Nitrogen dibutuhkan dalam jumlah relatif besar pada setiap tahap pertumbuhan tanaman, khususnya pada tahap pertumbuhan vegetatif, seperti pembentukan tunas atau perkembangan batang dan daun. Tanaman yang kekurangan nitrogen maka pertumbuhannya lambat dan kerdil, memiliki perakaran yang terbatas, daun menjadi kuning atau hijau kekuningan dan akhirnya kering (Buckman dan Brady, 1982). Nitrogen merupakan unsur hara yang sangat esensial bagi pertumbuhan tanaman (Syekhfani, 1997). Nitrogen merupakan elemen pembatas pada hampir semua jenis tanah, maka pemberian pupuk N yang tepat sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman Padi. Disamping itu, Hakim et al, (1986) menyatakan bahwa efisiensi pemupukan nitrogen di daerah tropik basah umumnya rendah. Penghapusan subsidi pupuk oleh pemerintah ternyata tidak menyebabkan petani mengurangi takaran pupuk karena mereka telah terbiasa dengan pemupukan N takaran tinggi. Akibatnya biaya usaha tani meningkat dan pendapatan petani semakin menurun. Dengan pertimbangan tersebut maka penerapan teknologi yang mengarah kepada efisiensi penggunaan pupuk, khususnya pupuk N sangat diperlukan. Strategi pengelolaan hara N yang optimal bertujuan agar pemupukan dilakukan sesuai dengan kebutuhan tanaman sehingga dapat mengurangi kehilangan N dan meningkatkan serapan N oleh tanaman. Pemberian pupuk yang tepat tidak saja akan menurunkan biaya penggunaan pupuk, tetapi dengan takaran pupuk yang lebih rendah, hasil relatif sama, tanaman lebih sehat, serta mengurangi hara yang terlarut dalam air dan penimbunan N dalam air atau bahan makanan yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Upaya untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk N dapat dilakukan dengan menanam varietas unggul yang tanggap terhadap pemberian N serta memperbaiki cara budi daya tanaman, yang mencakup pengaturan kepadatan tanaman, pengairan yang tepat, serta pemberian pupuk N secara tepat baik takaran, cara dan waktu pemberian maupun sumber N. Efisiensi Pemupukan Nitrogen (N) Efisiensi penggunaan pupuk diartikan sebagai tingginya peningkatan produksi untuk setiap satuan pupuk yang ditambahkan, sedangkan efisiensi ekonomi pemupukan menunjukkan tambahan nilai produksi yang disebabkan korbanan biaya yang dikeluarkan dalam pemupukan (Sudarman, 1990). Dosis pupuk yang diberikan pada petani biasanya merupakan paket pupuk yang telah ditetapkan berdasarkan rekomendasi nasional. Paket ini dikhawatirkan belum dapat menjawab berapa sebenarnya kebutuhan hara yang diperlukan tanaman. Berdasarkan pada unsur hara yang dibutuhkan tanaman, paket pupuk ini dapat kelebihan atau mungkin kurang dari yang dibutuhkan oleh tanaman dan ini berkaitan dengan harga pupuk yang mahal dan berpengaruh terhadap biaya produksi. Mempertahankan kondisi tanaman dalam keadaan cukup hara N namun tidak berlebihan merupakan salah satu alternatif meningkatkan efisiensi pupuk N. Pupuk diberikan berdasarkan kandungan N dalam daun tanaman yangditunjukkan oleh penampakan warna daun. Yoshida (1981) menyatakan bahwa Nitrogen yang diberikan pada tanaman sebagian dapat hilang melalui berbagai proses, pemberian pupuk N efisien melalui 2-3 kali pemberian dalam meningkatkan produksi tanaman. Mengingat adanya unsur N yang hilang tersebut maka digunakan alat Leaf Color Chart (LCC) atau lebih dikenal Bagan Warna Daun (BWD) untuk menentukan takaran pupuk N dan waktu pemupukan dengan cara membandingkan warna daun padi dengan skala warna pada alat yang sudah diketahui korelasinya dengan kandungan hara tanaman. Dilaporkan bahwa penggunaan alat ini mampu menghemat N sekitar 15-20 persen. Sementara itu, Endrizal dan Bobihoe (2004) juga melaporkan bahwa dengan menggunakan alat bagan warna daun (BWD) dapat diketahui kadar hara tanaman dalam menentukan dosis pupuk, sehingga dengan menggunakan LCC dapat menghemat penggunaan pupuk nitrogen sampai 20 persen Penutup Untuk mengatasi kelangkaan pupuk buatan serta mengatasi harga pupuk yang mahal dapat dianjurkan kepada petani untuk menggunakan pupuk buatan dengan dosis rendah (dosis standar)+jerami padi 5 ton/ha atau dosis rendah+pupuk alam (Guano) 300 kg/ha. Referensi Buckman, H. dan N.C Brady. 1982. Ilmu Tanah. Terjamahan Soegiman. Bharata Karya Aksara. Jakarta. Engelstad, O.P. 1997. Teknologi dan Penggunaan Pupuk. Terjemahan D. H. Goenadi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta Endrizal dan Julistia B (2004). Efisiensi Penggunaan Pupuk Nitrogen Dengan Penggunaan Pupuk Organik Pada Tanaman Padi Sawah. Foth, H.D, 1994. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Erlangga. Terjemahan Endang D.P. Jakarta. 374 halaman. Gomez, A.A and K.A.Gomez. 1983. Statistical Procedures for Agricultural Research. University of the Philippines at Los Banos. College. Laguna. Philippines. Hakim, N., M. Y. Nyakpa, A.M. Lubis S. G. Nugroho, M.R. Saul, M.A. Diha, G.B Hong, dan H. Bailey. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung. Jipelos, M. J. 1989. Uptake of Nitrogen From Urea Fertilizer for rice and Oil Palm. In Nutrient Management for Food Crops Production in Tropical Farming System (Eds. J. Var der Heide). Institute for SoilFertility (IB) haren, The Netherland: 187 – 204. Sudarman, S. 1990. Efisiensi Pemupukan pada Padi dan Palawija. Laporan khusus Puslitbangtan. Bogor. Suwardiyasa, P. 2019. Peningkatan Efisiensi Pupuk Nitrogen Pada Padi Sawah Dengan Metode Bagan Warna Daun (BWD). On line. https://distan.bulelengkab.go.id. Diakses tanggal 25 Oktober 2022. Wild, A. 1981. Mass Flow and Diffusion in D. J. Greenland and M. H. B. Hayes (eds). The Chemistry of Soil Processes. John Wiley & Sons New York. Yoshida, 1981. Fundamental of Rice Crop Science. International Rice Research Institute (IRRI). Los Banos. Laguna Philippines. Rokhlani Penyuluh Pertanian Madya Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kab. Tegal