Loading...

Faktor-faktor Penyebab Penyakit Pasca Panen Padi

Faktor-faktor Penyebab Penyakit Pasca Panen Padi
1. Kandungan airKandungan air sangat berpengaruh terhadap perkembangan jasad renik. Penyimpanan beras dengan kandungan air >14 % akan menyebabkan proses metabolisme jasad renik dan serangan hama bertambah cepat. Penyimpanan beras maupun gabah diperlukan kandungan air 14%, lengas nisbi udara 75% dan suhu 27-32o . Pada umumnya jamur gudang mampu tumbuh pada beras yang disimpan dengan kandungan air 13-17,5 % atau dengan kandungan air yang saeimbang dengan lengas nisbi usara 70-90%. Kandungan air optimum untuk perkembangan jamur gudang pada umumnya antara 15-17% dan bila kandungan air >18 %. Bila kandungan air beras mencapai 18%, maka memungkinkan pertumbuhan Mucor, Oospor, dan Rhizopus. Kandungan air beras akan berubah selama penyimpanan sesuai dengan kelembaban dan suhu ruang penyimpanan sehingga mencapai kadar air keseimbangan yaitu pada suhu 25-30o C. Lengas nisbi udara minimum untuk perkembangan jamur Penocillium sp adalah 80-90%. 2. Suhu Ruang PenyimpananSuhu merupakan faktor penting dalam penyimpanan beras. Bila terjadi penurunan suhu selama penyimpanan maka pertumbuhan jamur akan menurun, sebaliknya jamur tumbuh dengan cepat pada suhu antara 30-32 o C atau 85-90O F. Sebagian jamur gudang (simpanan) tumbuh dengan cepat pada suhu 20-40odengan lengas nisbi udara lebih dari 90%. 3. Lama penyimpananBatas kandungan air terendah yang masih memungkinkan pertumbuhan jamur pada bahan yang disimpan 1-2 tahun adalah kandungan air yang seimbang dengan kelembaban tempat penyimpanan 70% pada suhu 20-25 oC.Agar beras terhindar ari kerusakan selama penyimpanan (6 bulan atau kurang) kandungan air tidak boleh lebih dari 13%. Sedangkan untuk penyimpanan lebih dari 6 bulan, kandungan air tidak boleh lebih dari 12%. 4. Tingkat keparahan biji akibat serangan jamur.Biji yang diserang jamur pada periode sesudah panen sebelum disimpan, akan bertambah kepekaannya terhadap serangan jamur simpanan bila disimpan. Kerusakan akibat jamur simpanan akan berkembang dengan cepat pada suhu dan lengas nisbi udara lebih rendah daripada penyimpanan biji-bijian yang sebelumnya dalam keadaan bebas jamur atau sehat. 5. Biji yang terserang jamur pada periode sesudah panen sebelum disimpanj, akan bertambah kepekaannya terhadap serangan jamur simpanan bila disimpan. Kerusakan akibat jamur simpanan akan berkembang dengan cepat pada suhu dan lengas nisbi udara lebih rendah daripada penyimpanan biji-bijian yang sebelumnya dalam keaadaan bebas jamur atau sehat.. . 6. Benda-benda asingBenda-benda asing bila terbawa ke gudang akan menjadi media yang baik bagi pertumbuhan jamur simpanan, selain juga akan menempati ruang antara butiran sehingga mengganggu sirkulasi bahan yang disimpan. Yang termasuk benda asing diantaranya adalah gabah hampa, biji tanaman lain, biji pecah, bagian dari tanaman, serangga hama, serta butiran-butiran tanah yang terbawa dari lapang. 7. Kegiatan serangga hamaSeranggga hama dan tungau mempengaruhi perkembangan jamur simpanan dengan cara meningkatkan kandungan air bahan . dan membawa penyebaran spora jamur ke tempat lainnya. Hasil metabolism serangga berupa CO2 dan air dibuang ke kumpulan biji yang diserangnya sehingga menciptakan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan beberapa jamur simpanan. Serangga hama, khususnya hama gudang selalu disertai jamur ggudang (simpanan). Terutama beberapa serangga yang larvanya berkembang pada butiran biji semakin semacam kumbang bubuk dapat menyebabkan spora jamut terutama Aspergillus restric tus. Keadaan tersebut akan menyebabkabn lingkungan terutama kandungan air yang sesuai bagi pertumbuhan jamuur gudang. 8. Faktor lain1. Kondisi lapangPenyeakit simpanan sering dipengaruhi oleh cara bagimana tanaman itu tumbuh Infeksi laten yang berkembang di lapangan Infeksi laten yang berkembang pada tempat penyimpanan banyak disebabkan dari pembawaan di lapangan. 2. Pemanenan dan penangananBanyak pathogen yang menyerang ke bagian yang terluka yang mungkin disebabkan karena cara pemanenan yang kurang tepat. Dalam hal ini perlakuan yang dilakukan dengan tangan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan yang dilakukan dengan menggunakan mesin.3. Kondisi PengangkutanSuhu, lengas nisbi udara dan sirkulasi udara sangat menentukan tingkat serangan pathogen pada saat dilakukan pengangkutan dan penyimpanan. Bahan yang disimpan akan terus melakukan respirasi setelah pemanenan dan biasanya menghasilkan panas. Suhu yang tinggi yang dihasilkan selanjutnya dapat mempercepat respirasi. Lengas nisbi udara selama pengangkutan dan penyimpanan harus cukup baik untuk mempertahankan agar buah-buahan yang disimpan tidak cepat kering, tetapi keadaan ini harus dilakukan dengan cermat, khususnya dalam rangka penekanan pertumbuhan pathogen. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian). Sumber: Penyakit Penyakit Pasca Panen Tanaman Pangan) oleh Prof. Dr. Ir. Siti Rasminah Chailani. 2010.