Loading...

Faktor Pembatas Produktivitas Kedelai Indonesia

Faktor Pembatas Produktivitas Kedelai Indonesia
Secara kultur teknis masalah yang dihadapi dalam peningkatan produktivitas tanaman kedelai meliputi: (1) penggunaan varietas yang benihnya kurang berkualitas, (2) waktu tanam tidak tepat, (3) populasi tanaman tidak penuh, (4) pengelolaan lengas kurang optimal, (5) persiapan media pertanaman kurang optimal, (6) pengelolaan hara kurang optimal, (7) pengendalian OPT kurang efektif, dan (8) pasca panen kurang optimal. Keberhasilan peningkatan produksi kedelai dipengaruhi oleh faktor teknis, sosial budaya, dan ekonomi. Produktivitas kedelai secara umum dipengaruhi oleh tingkat kesesuaian lahan, kesuburan lahan, neraca lengas musiman, pengelolaan hara dan air, pengendalian OPT, pemeliharaan, dan pascapanen. Masalah umum yang bersifat teknis untuk lahan sawah bekas padi adalah kejenuhan air, kepadatan tanah, struktur tanah kompak, lengas tanah, pengelolaan hara, pengendalian OPT, dan pascapanen. Kejenuhan air pada saat tanam kedelai akan berakibat kurang baik untuk perkecambahan benih kedelai. Walaupun mutu benih bagus, apabila tanah dalam kondisi jenuh air biji kedelai akan mengalami kekurangan oksigen untuk perkecambahannya. Oleh karena itu, kejenuhan air pada saat tanam akan berakibat kebusukan benih sehingga tidak dapat tumbuh. Perkecambahan benih merupakan titik awal dari keragaan populasi tanaman per satuan luas. Modal awal untuk memperoleh produksi yang tinggi dan dapat menopang keberhasilan dalam pengendalian gulma adalah populasi tanaman yang optimal. Dengan populasi penuh, tajuk tanaman akan segera menutup permukaan tanah sehingga akan menghambat pertumbuhan gulma. Kepadatan tanah dan struktur tanah yang massif akan menghambat perkembangan akar tanaman dan akar sulit menembus ruang pori tanah. Struktur tanah massif akan menghambat sirkulasi udara dan air (lengas) tanah sehingga proses respirasi akar tanaman dapat terganggu, akibatnya pertumbuhan akar dapat terganggu dan penyerapan unsur hara terhambat yang akhirnya akan menghambat pertumbuhan tanaman kedelai. Kejenuhan tanah pada saat periode awal tanam di lahan sawah bekas padi dapat diatasi dengan pengendalian lengas tanah secara sederhana, yaitu dengan membuat saluran-saluran drainase dengan interval jarak antar saluran 3-5 m. Pembuatan saluran drainase dengan interval jarak tersebut memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai pengendali lengas dan sirkulasi udara tanah serta memudahkan lalu lintas pekerja untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman. Sinergi komponen teknologi yang produktif berupa pemakaian pupuk organik yang dikombinasi dengan aplikasi pembenah tanah pada lahan kering masam akan meningkatkan Kapasitas Tukar Kation ( KTK) tanah, mengurangi pelindian/ pencucian unsur hara, menjamin kemantapan ketersediaan unsur hara, meningkatkan serapan unsur hara, yang secara akumulatif akan memiliki dampak peningkatan hasil kedelai. Salah satu faktor penting untuk pertumbuhan tanaman kedelai adalah pengelolaan unsur hara. Kekurangan salah satu unsur hara sudah akan membatasi pertumbuhan tanaman kedelai. Diskripsi tanah yang dapat memberi gambaran data keharaan yang tersedia, akan dapat diketahui macam dan status ketersediaan unsur hara dalam tanah. Dengan demikian akan memudahkan Iangkah pengelolaan keharaan agar dapat ditetapkan Gejala kekurangan unsur hara dapat diamati melalui keragaan pertumbuhan tanaman kedelai. Sebagai contoh, tanaman kedelai yang kekurangan bara N (nitrogen) akan menunjukkan gejala pertumbuhan daun menguning, baik daun muda maupun tua. Gejala kekurangan N yang akut akan menyebabkan tanaman kedelai menjadi kerdil. Tanaman kedelai yang kekurangan hara K akan terlihat gejala menguning yang dimulai dan tepi daun dan diawali pada daun-daun yang tua. Gejala kekurangan K yang akut juga akan menyebabkan tanaman kedelai tumbuh kerdil. Ragam kesuburan lahan kering sangat besar ditentukan oleh ragam topo-geografisnya. Lahan kering masam Ultisol dan Oxisol yang sebagian besar terdapat di pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua memiliki masalah produktivitas berupa kemasaman tinggi, A1-dd (Aluminium dapat ditukar) serta kadar senyawa besi (Fe) bebas sangat tinggi sehingga meracuni tanaman, kadar bahan organik rendah, kadar unsur hara secara umum rendah, derajat kejenuhan basa rendah, kapasitas tukar kation rendah, daya sangga tanah rendah, dan daya menahan air rendah. Kondisi tanah bereaksi masam, kandungan aluminium tinggi, sedangkan kandungan bahan organik dan ketersediaan hara tanaman rendah Kemantapan dan kelayakan jaringan infrastniktur akan memperlancar mobilitas barang dan jasa dalam lingkaran perputaran agribisnis kedelai secara nasional maupun internasional adalah masalah umum yang bersifat teknis untuk peningkatan produktivitas kedelai di lahan kering masam. Disamping itu masalah sosial-budaya-ekonomi petani juga memberikan andil dalam pemacuan pengembangan usahatani kedelai dan pembangunan agribisnis kedelai. Menerapkan teknologi budi daya baku untuk bertanam kedelai perlu disosialisasikan dan dimantapkan di tingkat petani produsen. Besamya penerimaan pendapatan yang layak dan kompetitif melalui usahatani kedelai ikut menentukan keberhasilan upaya peningkatan produksi kedelai nasional. Bimbingan dan pendampingan melalui penyuluhan untuk mengadopsi budi daya kedelai secara baku perlu dilakukan, terutama bagi petani yang belum biasa menanam kedelai. Penyunting: Yulia Tri S Email: yuliatrisedyowati@yahoo.co.id Sumber: 1. Pusat Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan,2007, Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian 2. Pusat Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan,1985, Kedelai. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian