Tingginya permintaan terhadap komoditas perkebunan seperti lada cukup tinggi. Tidak banyak negara di dunia yang memiliki komoditas perkebunannya adalah Lada. Komoditas perkebunan lada merupakan salah satu andalan devisa negara Indonesia. Petani perkebunan di Indonesia cukup banyak jumlahnya. Pada umumnya perkebunan yang diusahakan merupakan perkebunan rakyat. Keterlibatan petani tanaman perkebunan rakyat cukup banyak sejak dari pembibitan, penanaman, perawatan, panen, pasca panen hingga ke pemasaran.Komoditas lada diharapkan mampu memenuhi permintaan dalam negeri dan dapat meningkatkan pendapatan petani. Lada menjadi komoditas penting dan memegang peranan yang tinggi dalam perdagangan nusantara sejak akhir abad 16. Hal ini disebabkan Indonesia merupakan salah satu pemasok lada terbesar di dunia untuk memenuhi kebutuhan pangsa pasar internasional. BPS mengungkapkan dalam kurun waktu 2012-2016 komoditas lada memiliki rataan volume perdagangan 54 ribu ton dengan nilai USD 400 juta. Tingginya permintaan lada disebabkan saat ini pemanfaatan lada tidak terbatas hanya sebagai bumbu penyedap masakan di rumah tangga dan penghangat tubuh saja, akan tetapi juga telah berkembang untuk berbagai kebutuhan industri, misalnya industri makanan dan kosmetik. Penggunaan lada saat ini bahkan lebih luas lagi sebagai bahan yang digunakan untuk memperlambat proses perubahan mutu pada minyak, lemak dan daging. Pemanfaatan lada lainnya sebagai minyak lada atau dikenal minyak oleoresin. Pengembangan Lada menghadapi berbagai masalah untuk diselesaikan, yaitu: (1) luasan areal terbesar adalah perkebunan rakyat yang dikelola dengan cara-cara tradisional dan masih terdapat tanaman yang bekum mendapatkan peremajaan; (2) mutu lada yang belum sesuai dengan yang diharapkan; (3) rataan produktivitas tanaman yang rendah. Saat ini produktivitas tanaman lada yang diusahakan petani melalui perkebunan rakyat masih belum mencapai potensinya. Rendahnya produktivtitas tanaman lada yang dimiliki oleh petani belum menyamai potensinya yang berada dalam kisaran 2-3 ton/ha. Rataan produktivitas tanaman lada yang dimiliki oleh petani 0,67 – 0,83 ton/ha. Tantangan besar lainnya adalah meningkatkan kembali mutu lada yang dihasilkan. Upaya ini dibutuhkan sebab hasil panen yang dihasilkan petani saat ini memiliki kecenderungan menurun. Optimalisasi dilakukan dengan jalan menyelesaikan masalah-masalah salah satunya dengan menggunakan benih unggul. Penggunaan benih unggul membutuhkan waktu yang cukup lama dari dunia penelitian hingga digunakan oleh petani. Untuk menjembatani hal tersebut maka membutuhkan analisa-analisa terhadap petani yang memungkinkan dapat mengadopsi dengan cepat inovasi teknologi pertanian yang telah dihasilkan oleh dunia penelitian. Hasil analisis ini digunakan agar dalam melaksanakan diseminasi inovasi teknologi pertanian dapat cepat mencapai sasaran dan tujuan. Dalam mengadopsi benih unggul yang telah dihasilkan oleh penelitian terdapat banyak faktor yang mempengaruhinya. Setidaknya terdapat 5 faktor penentu dalam mengadopsi inovasi teknologi penggunaan bibit unggul, yaitu: (1) faktor internal/karakteristik petani; (2) preferensi petani terhadap benih unggul; (3) harga benih dan ketersediaan benih; (4) faktor eksternal. Pertama, faktor internal atau karakteristik petani diyakini mempengaruhi petani dalam menggunakan benih unggul baru seperti: usia petani, tingkat pendidikan petani, pengalaman berusaha tani. Penyuluh/petugas pertanian dalam mendiseminasikan inovasi teknologi pertanian hendaknya memilih dengan tepat sasaran petani untuk didiseminasikan teknologi sehingga berhasil mencapai tujuan. Petani yang berhasil juga dapat dijadikan sumber pembelajaran bagi petani lainnya. Kedua, preferensi petani dalam menggunakan benih unggul. Petani memiliki tahapan dalam menggunakan benih unggul. Tahap mengetahui, mempelajari, mempertimbangkan, menggunakan, dan mengevaluasi benih unggul yang akan diadopsi. Diperlukan contoh yang mudah dilihat, diterapkan dengan hasil yang baik. Dengan hasil yang terlihat baik diyakini mempengaruhi petani lainnya untuk menggunakan benih unggul juga. Ketiga, harga benih. Secara umum sisi lain yang mempengaruhi petani untuk menggunakan produk hasil inovasi teknologi adalah harga. Petani akan memberikan penilaian terhadap keseluruhan biaya yang dikeluarkan dalam melaksanakan budidaya termasuk harga benih dipasaran, kesesuaian harga benih dengan kualitasnya, ketersediaan benih dan akses untuk mendapatkan benih unggul. Bila menguntungkan petani maka diyakini petani akan mengadopsi inovasi teknologi benih unggul. Keempat, faktor eksternal. Hal lain yang membuat penggunaan benih unggul dapat diadopsi secara luas adalah terlihat nyata oleh petani hasil yang menggunakannya. Untuk itu benih unggul perlu didiseminasikan dengan melalui cara membuat demplot-demplot dengan melibatkan partisipasi aktif petani; penyuluhan tentang manfaat penggunaan benih unggul, membuat poster-poster di lokasi demplot dan melibatkan kelompok tani. Bila keempat faktor penentu ini diperhatikan dengan baik dalam melakukan diseminasi maka penggunaan inovasi benih unggul oleh petani diyakini semakin cepat diadopsi. Penulis: Miskat Ramdhani/Penyuluh BBP2TP