Loading...

GENERASI MUDA PERTANIAN

GENERASI MUDA PERTANIAN
By: Yoyon Haryanto Pada umumnya, menjadi pelaku pertanian atau pelaku agribisnis bukanlah pilihan utama pemuda, termasuk pemuda perdesaan. Boleh jadi, keterlibatan pemuda dalam bertani dan atau beragribisnis lebih merupakan sebuah keterpaksaan. Walaupun faktanya tidak semua seperti itu dan yang seperti itupun dalam proses perjalanannya banyak yang berkembang melebihi pilihan utamanya. Terlepas dari semua itu, bahwasannya keputusan para pelaku muda untuk menentukan pilihan bertani atau beragribisnis sejatinya melalui proses atau tahapan-tahapan pengambilan keputusan. Sebuah proses umum yang lazim dilalui oleh suatu generasi, baik individu maupun kolektif. Apapun, keputusan pelaku muda pasti didasari oleh banyak faktor, baik faktor internal dirinya, faktor penarik maupun faktor pendorong. Sesederhana apapun sebuah keputusan, pasti melalui proses, melalui pertimbangan-pertimbangan, alasan-alasan, pilihan-pilihan dan tahapan-tahapan. Pada kenyataannya, keputusan itu ada yang dilakukan secara otomatis, ada yang berdasarkan informasi, pertimbangan (fakta, pengalaman, institusi, logika dan analisis) dan ketidakpastian. Proses dan efektifitas suatu keputusan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti keberdayaan, sifat masalah, informasi-informasi, karakteristik personal (rasionalitas, motivasi, pengetahuan, pengalaman, kratifitas, keinovatifan, keahlian) dan lingkungan (fisik, sosial budaya, teknologi dan kelembagaan). Menurut Gibson et al. (1996), proses pangambilan keputusan meliputi enam tahap, yakni penetapan tujuan, identifikasi masalah, pengembangan alternatif, memilih alternatif, menerapkan keputusan dan mengontrol atau mengevaluasi keputusan secara berkelanjutan. Meskipun tidak sama persis dengan tahapan tersebut, namun keputusan pemuda untuk menjadi beragribisnis pasti melalui tahapan proses pengambilan keputusan. Berbeda dengan generasi sebelumnya, para muda yang tumbuh saat ini berada dalam iklim teknologi komunikasi dan informasi yang semakin canggih identik dengan generasi C, yakni connected, convergence, collaboration, creative dan contextual. Tapscott (2009) menyebutnya generasi internet atau generasi digital. Sebuah generasi yang menurut Supangkat (2010) memiliki karakteristik kreatif dan tanggap terhadap hal-hal baru, serta tumbuh sebagai bagian dari inovasi yang semakin berkembang cepat dan terus menerus. Generasi yang melek internet, yang secara natural peka dan begitu adaptif merespon aktivitas yang bersifat kolaboratif, yang menyadari pentingnya relasi. Generasi yang mengasosiasikan diri dan bergabung dalam komunitas, merekomendasikan hal baru kepada sesama, mendiskusikan dan mengemukakan pendapatnya dengan percaya diri dan lugas. Generasi internet lebih cerdas, gesit dan toleran terhadap keberagaman. Mereka berkultur pemberdayaan, sangat peduli keadilan dan masalah sosial, serta melibatkan diri dalam kegiatan komunitas. Oleh karena itu generasi muda di era ini perlu bukti dan contoh untuk mau, berminat dan tertarik bekerja di sektor pertanian. Kehadiran petani maju yang merepresentatifkan petani masa kini dengan berjiwa muda, akses pasar relatif baik dan wirausahawan berhasil menjadi salah daya tarik agar generasi milenial ini mau berdaya saing dan berdaya sanding pada bidang pertanian. Hal ini juga menegaskan bahwa penyuluhan dari petani ke petani dengan figur petani muda berhasil dapat menjadi katalisator yang baik dalam menarik generasi muda berminat bekerja di sektor pertanian.v