Peningkatan dan pengamanan produksi tanaman pangan dan hortikultura saat ini merupakan suatu keharusan dan merupakan penanganan secara serius. Untuk itu dalam perlindungan tanaman pangan dan hortikultura diperlukan langkah-langkah strategis dan operasional yang tepat di tingkat lapangan, utamanya dalam penerapan konsep dan prinsip- prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dalam menerapkan strategi dan operasional pengendalian OPT tersebut masih dijumpai kendala dan kekurangan di tingkat lapangan diantaranya, pengorganisasian kelompoktani, kemampuan SDM petani maupun koordinasi pengendalian. Perlu diketahui, bahwa keberhasilan pengendalian OPT sangat tergantung pada tingkat pengetahuan, ketrampilan, dan sikap petani dalam mengimplementasikan konsep dan prinsip-prinsip PHT tersebut. Tuntutan swasembada pangan untuk mewujudkan kedaulatan pangan, telah memunculkan berbagai kebijakan yang bertentangan dengan kaidah-kaidah pengelolaan Oganisme Pengganggu Tanaman (OPT), percepatan tanam, peningkatan indeks pertanaman, pemanfaatan berbagai teknologi, dan perubahan iklim, telah mendorong meningkatnya luas dan intensitas serangan OPT, bahkan beberapa OPT yang selama ini belum mempunyai peran penting telah menimbulkan masalah di berbagai wilayah. Kebijakan untuk mewujudkan kedaulatan pangan tidak mungkin dihindari, oleh karena itu, perlu mencari strategi baru peningkatan produksi dan melindungi tanaman dari serangan OPT berbasis ekologi. Pembangunan pertanian mempunyai peran yang strategis dan penting sebagai penghasil makanan pokok, dimana sementara ini ketahanan pangan merupakan prasyarat utama bagi tercapainya ketahanan ekonomi. Di dalam proses produksi pertanian, serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI) merupakan salah satu faktor yang menurunkan produksi dan produktivitas hasil pertanian. Untuk itulah dipandang perlu dibentuk kelembagaan (instansi) yang menangani perlindungan tanaman dalam upaya menekan serangan OPT dan DPI guna menurunkan kehilangan hasil, menjamin kepastian dan memantapkan produksi pada taraf yang tinggi sekaligus mendorong peningkatan pendapatan petani serta tetap mempertahankan kelestarian daya dukung lingkungan. Kelompok Tani Podang Sari Desa Sambirobyong, Kecamatan Sidorejo mendapat program dari UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Pengendalian yaitu Gerakan Pengendalian OPT cabai rawit. Dari kegiatan tersebut, petani mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang cara membuat Mol dan pestisida nabati. Selain itu juga praktek langsung di lapangan mengenai identifikasi OPT di tanaman cabai rawit dan dosis serta cara penyemprotan yang tepat. Manfaat mol : Sebagai starter dalam dekomposisi bahan organik. Penyedia nutrisi bagi tanaman / pupuk mengandung unsur hara makro dan mikro. Membantu penyerapan unsur hara. Pengendali hama dan penyakit. Menciptakan tanaman sehat. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan pengetahuan dan ketrampilan petani bisa bertambah banyak dan juga produksi meningkat sehingga bisa menambah kesejahteraan keluarganya. Penulis : Arieza Novita, SP (BPP Sidorejo)