Pengendalian hama dan penyakit tanaman buah duku sangatlah prioritas, ini disebabkan karena harapan tanaman tumbuh prima sehingga diharapan produk dapat maksimal. Mengantisipasi hal tersebut maka perlu adanya perlindungan tanaman secara terpadu. Pentingnya dalam PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yaitu untuk melakukan pengendalian dan mengenal Organisme Pengganggu Tanaman yang menyerang, mengenal dan memahami gejala serangan, mengetahui cara penyebaran dan faktor-faktor perubahan orgsanisme pengganggu tanaman. Tujuan untuk memperoleh pertumbuhan tanaman yang optimal, kepastian keberhasilan panen, mutu produk yang tinggi dan aman untuk dikomsumsi, diharapkan dapat menjaga kelestarian lingkungan dan keseimbangan edukuogis. Beberapa Organisme Pengganggu Tanaman Buah duku yang perlu diperhatikan dan dikendalikan adalah: Hama Kelelawar Kelelawar merupakan hama buah duku yang sulit untuk dikendalikan. Penyerangan hama tersebut berlangsung pada malam hari, serangan kelelawar sangat merugikan karena selain buah duku dimakan, sayap kelelawar juga menjatuhkan buah yang sudah matang bila terkena hentakan sayapnya sehingga buah duku yang sudah matang mudah jatuh. Kelelawar selain memakan, menjatuhkan buah yang sudah matang juga membawa buah yang sudah matang ke tempat lainnya. Pengendalian serangan kelelawar: untuk mencegah gangguan kelelawar yaitu dengan cara membungkus buah duku sejak buah itu berukuran keleci. Bahan pembungkus dapat berupa kantong plastik perak, kain bekas, bongsang yang terbuat dari anyaman bambu. Kutu perisai (Asterolecantium sp.) Hama kutu perisai menyerang pada daun, gejalanya daun terserang kutu yaitu daun dikerumuni kutu hingga rata selanjutnya daun susah untuk melakukan fotosintesa dan kemudian mengering dan mati. Pengendalian hama kutu perisai: pengendalian dengan cara pemeliharaan dan perawatan tanaman sebaik mungkin; menyemprot menggunakan insektisida yang sesuai dengan jenis hama yang mengganggunya. Kumbang penggerak buah (Curculio sp.) Gejala serangan hama kumbang penggerek buah adalah: penggerek buah menyerang pada buah duku yang sudah matang, sehingga buah duku berlubang dan busuk bila air hujan masuk ke dalamnya. Pengendalian hama kutu perisai: pengendalian dengan cara pemeliharaan dan perawatan tanaman sebaik mungkin; menyemprot menggunakan insektisida yang sesuai dengan jenis hama yang mengganggunya. Kutu putih (Psedococcus lepelleyi) Hama kutu putih menyerang dengan cara menutupi kuncup daun dan daun muda, serta buah duku. Pengendalian hama kutu putih: pengendalian dengan cara pemeliharaan dan perawatan tanaman sebaik mungkin; menyemprot menggunakan insektisida yang sesuai dengan jenis hama yang mengganggunya Penyakit Penyakit Busuk Akar Penyakit busuk akar merupakan penyakit yang berbahaya karena menyerang pohon dan buah duku. Gejala serangan tanaman menjadi layu dan akirnya mati, buah terserang jadi layu dan akhirnya pada rontok. Pengendalian: pengendalian penyakit ini dengan pemeliharaan tanaman yang baik; disemprot dengan fungisida sesuai dengan peruntukannya masing-masing obat. Penyakit antraknosa (Colletotrichum gloeosporiods) Gejala: adanya bintik kecoklatan pada rangkaian buah, serangan ini menyebabkan buah berguguran lebih awal dan juga menyebabkan kerugian pasca panen. Pengendalian : dengan pemeliharaan tanaman yang baik; disemprot dengan fungisida sesuai dengan peruntukannya masing-masing obat. Penyakit mati pucuk Penyebab: cendawan Gloeosporium sp. Penyakit mati pucuk ditandai dengan penyerang ujung cabang dan ranting yang nampak kering. Pengendalian: dengan pemeliharaan tanaman yang baik; dilakukan dengan disemprot dengan fungisida seperti Manzate, Zerlate, Fermate, Dithane D-14 atau pestisida lain. Dosis untuk obat pemberantasan penyakit ini harus disesuaikan dengan anjuran pada label masing-masing obat. Gulma Adanya gulma seperti rumput liar dan alang-alang dapat menghambat pertumbuhan serta pesaing tanaman duku. Gulma ini harus dihilangkan dengan cara penyiangan adapun penyiangan dapat dilakukan 2 (dua) minggu sekali atau dilakukan pembersihan sekali gus untuk makanan ternak. Ditulis Oleh: Dalmadi BBP2TP Bogor Sumber : Ditjen Horti dan gambar dari globososo.com/image