Tanaman jahe (Zingiber officinale) merupakan tanaman rempah-rempah yang sangat dicari orang di masa pandemi Corona-19. Budidaya tanaman jahe tergolong mudah dan dapat ditanam di pekarangan (telah diterbitkan 9 Juli 2020). Tetapi, hama tanaman jahe perlu diperhatikan karena dapat menyebabkan kegagalan dalam budidaya tanaman jahe. Beberapa hama yang sering menyerang tanaman jahe, antara lain: Kepik, Kumbang, Kutu Daun, Ulat penggerek akar, dan Nematoda. Kepik (Epilahre sp.) Serangan hama kepik ini, antara lain daun akan bergerigi, berlubang, dan berwarna kecokelatan. Pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan dengan larutan pestisida berbahan aktif seperti Betasiflutrin dan Pronofos. Biasanya juga bisa disemprotkan larutan insektisida organik, dengan menggunakan air tuba yang berasal dari tanaman tuba. Kumbang (Araeceras fassicularis) Gejala serangannya adalah rimpang akan berubah bentuk menjadi abnormal, seperti membulat tidak beraturan dan terdapat lubang telur kumbang. Pengendalian bisa dilakukan dengan penggunakan larutan insektisida dan nematisida seperti Karbofuran dengan dosis 1 gram/tanaman jahe. Lalat Rimpang (Mimegralla coeruleifrons Macquart) Gejala serangan lalat rimpang sulit dibedakan dengan serangan penyakit layu. Setelah 8-10 hari tanaman terlihat menguning dan mengering, dimulai dari daun sebelah bawah kemudian diikuti seluruh daun. Serangan berat mengakibatkan tanaman layu dan kering, sedangkan rimpangnya keropos. Tanaman Inang : Jahe, kunyit, kencur, temulawak, temu ireng. Pengendalian dengan kultur teknis, biologis dan kimiawi. Pengendalian dengan kultur teknis, antara lain: 1) Tidak menanam jahe tumpang sari dengan kunyit atau tanaman lain keluarga Zingiberaceae yang merupakan tanaman inang hama ini; 2) Sortasi rimpang sebelum tanam; 3) Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat, bebas dari serangan penyakit layu atau penyakit lainnya; 4) Penggunaan tanaman nilam sebagai barier dan tumpang sari dengan jahe dapat menekan populasi lalat rimpang; 5) Sanitasi dengan membersihkan pertanaman dari sisa-sisa tanaman dan memusnahkannya. Pengendalian secara biologis dengan memanfaatkan musuh alami yaitu parasitoid larva-pupa Trichopria sp. (Diapriidae, Hymenoptera), dan cendawan Beauveria bassiana yang menginfeksi larva. Pengendalian secara kimiawi dengan penggunaan insektisida untuk mengendalikan lalat dewasa. Insektisida yang terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian untuk OPT jahe belum ada. Kutu daun (Aspidella hartii) Gejala serangan kutu daun, antara lain daun akan menggulung, layu, mengguning, dan berguguran. Pengendaliannya dengan penggunakan pestisida berbahan aktif seperti Abemektin, Amitraz, Metamil, Difokol, dan lainnya. Gunakan dengan dosis yang sudah ditentukan, agar tanaman tidak rusak. Ulat penggerek akar (Dishorcrosis puntiferalis) Gejala serangan ulat ini, antara lain: akar akan rusak, kering, dan bahkan tanaman mati akibat kekurangan nutrisi dan unsur hara. Pengendaliannya bisa dilakukan dengan menggunakan larutan insektisida berbahan aktif seperti Karbofuran, Bensulta, Bisultap, Karbisulfan, Fibronil dan Dimehipo dengan dosis yang ditentukan pada label produk. Nematoda (Melodogyne sp.) Gejala serangan hama ini, antaranya: akar terdapat benjolan/bintil kecil, dan rimpang akan berubah warna kecokelatan. Pengendaliannya dengan menggunakan pestisida nabati ekstrak nimba, tagetes dan jarak, menerapkan pola tanam campuran, sanitasi, rotasi tanaman dan aplikasi pestisida kimia (nematisida). Hama Kutu Perisai (Aspidiella hartii Gr). Gejala Serangan hama ini terlihat dari kutu-kutu berbentuk perisai yang menempel di permukaan rimpang dan di bawah sisik rimpang sehingga nampak kusam. Umumnya menyerang di pertanaman kemudian dapat berkembang dengan baik di tempat penyimpanan. Tanaman Inang : Jahe, kencur, temulawak, kunyit, gadung dan suweg. Pengendalian hama ini dengan cara kultur teknis, biologis, fisik/mekanis, dan kimiawi. Pengendalian Kultur teknis dengan: 1) penggunaan bahan tanaman yang bersih dan sehat; 2) Memutuskan siklus hidup OPT (pergiliran tanaman dengan bukan tanaman inang); 3) Sortasi hasil panen; dan 4) Menyimpan hasil panen di tempat yang memenuhi syarat (bersih dan tidak lembab). Pengendalian biologis dapat memanfaatkan musuh alami yaitu parasitoid Phycus sp. (Adhelinidae, Hymenoptera) dan Adhelencyrtus moderatus Howard (Encyrtidae, Hymenoptera) serta dua jenis tungau pemakan kutu. Pengendalian secara Fisik/ Mekanis, dengan menaburi rimpang dengan abu dan menyikat kutu yang menempel pada rimpang dengan sikat halus juga dapat mencegah berkembangnya populasi kutu, terutama untuk rimpang siap ekspor. Pengendalian secara kimiawi dengan perlakuan benih dan merendam hasil panen dengan larutan insektisida yang terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian. Penulis: SUSILO ASTUTI H. - PUSLUHTAN Daftar Pustaka: SOP Budidaya Jahe Zingger officinale. Direktorat Sayuran dan Obat, Ditjen Hortikultura, Cetakan VI. 2019 Widada Agus Suryanto. Hama dan Penyakit Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan. Kanisius, Cetakan ke-5. 2014. Pedoman Budidaya Tanaman Obat Yang Baik, Direktorat Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementan. 2014. ----------, Investasi Agribisnis Komoditas Unggulan Tanaman Pangan dan Holtikultura, Kanisius, Yogyakarta, 1999.