Loading...

HAMA PENGGEREK BATANG CENGKEH DAN UPAYA PENGENDALIANNYA

HAMA PENGGEREK BATANG CENGKEH DAN UPAYA PENGENDALIANNYA
Penurunan produksi cengkeh akibat serangan hama dapat mencapai 10-25%. Serangan hama dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman terganggu, produksi menurun bahkan kematian tanaman. Salah satu hama yang sering dijumpai menyerang dan merusak tanaman cengkeh adalah Penggerek Batang Cengkeh (PBC) dengan luas serangan sekitar 19.693 ha di Indonesia. Daerah yang terserang penggerek batang belum semua melakukan pengendalian, kondisi ini akan menyebabkan kerusakan dan kematian tanaman cengkeh. Gejala Serangan Hama PBC merusak tanaman cengkeh melalui proses menggerek ke dalam batang, cabang atau ranting tanaman cengkeh. Dari tiga bagian tanaman yang diserang tersebut, gerekan terhadap batang dianggap lebih berbahaya karena bisa mematikan tanaman. Penggerek batang yang sering menyerang tanaman cengkeh yaitu Nothopeus hemipterus Oliv (Coleoptera: Cerambycidae), N. fasciatipennis Watt (Coleoptera: Cerambycidae), dan Hexamitodera semivelutina Hell (Coleoptera: Cerambycidae). Stadia penggerek batang cengkeh yang dianggap paling berbahaya adalah larva, yang mampu bertahan hidup di lubang gerekan selama 130 - 350 hari. Gejala serangan yang tampak pada pohon adalah lubang-lubang berukuran 3-5 mm yang ditutupi serbuk kayu hasil gerekan. Dari dalam lubang gerekan tersebut keluar cairan kental bercampur kotoran hama. Jumlah lubang gerekan dapat mencapai 20 - 70 buah/pohon. Lubang gerek tersebut menembus ke dalam batang tanaman cengkeh, bisa mengarah ke bagian atas atau bawah tanaman. Jika batang cengkeh dipotong dengan irisan melintang maka lubang gerek akan terlihat menyebar di bagian dalam tanaman dengan pola yang tidak beraturan. Jika jaringan xylem yang diserang maka transportasi air dari akar kebagian atas tanaman terganggu. Namun jika serangan PBC merusak jaringan phloem maka transportasi asimilat dari daun ke bagian tanaman yang lain juga terganggu. Kerusakan tersebut mengakibatkan mahkota daun cengkeh berubah dari hijau menjadi kekuning-kuningan, daun menguning dan gugur sehingga tanaman meranggas, dan jika serangan berat maka tanaman akan mati dan mengering. Upaya Pengendaliannya Untuk mengurangi kehilangan hasil akibat serangan hama dan penyakit maka upaya pengendalian hama terpadu sangat diperlukan. Beberapa komponen rakitan teknologi pengendalian hama terpadu yang bisa diterapkan untuk pengendalian PBC antara lain: 1. Pengendalian dengan varietas resisten Penggunaan varietas yang resisten dalam budidaya tanaman cengkeh sangat dianjurkan untuk mengurangi serangan hama dan penyakit. Saat ini varietas cengkeh yang tahan terhadap PBC belum ada. Walaupun ada hamparan tanaman cengkeh yang luput (escape) dari serangan hama tersebut di suatu daerah, umumnya pertanaman tersebut umurnya masih muda (di bawah 10 tahun) atau tanaman berada di daerah yang terpapar terhadap cahaya matahari sepanjang hari sehingga habitatnya kurang cocok untuk PBC. Secara khusus hal ini disebut sebagai fenomena ketahanan ekologik, bukan ketahanan genetik. 2. Pengendalian dengan Tindakan Budidaya Pengendalian dengan teknik budidaya bisa dilakukan secara mekanis dengan memotong dahan dan ranting yang terserang serta membunuh larva dan imago yang ditemukan di dalam lubang gerek aktif. Tindakan ini efektif jika intensitas serangan PBC masih rendah, sebagai tindakan pencegahan meningkatnya insfestasi generasi berikutnya. Selain itu, sanitasi kebun dari inang altenatif (jambu bol, duwet, salam) juga dianjurkan guna meminimalisir sumber infestasi hama ini. Pemulihan kondisi tanaman cengkeh yang telah terserang PBC juga sangat dianjurkan. Pemupukan tanaman cengkeh secara lengkap dan berimbang, sesuai SOP Budidaya, perlu dilakukan terutama setelah panen agar tanaman bisa bertahan tumbuh dan berbuah selama beberapa periode panen. Aplikasi pupuk organik cair yang dikombinasikan dengan agensia hayati, diaplikasikan ke lubang gerek aktif PBC 3. Pengendalian Kimiawi Pengendalian kimia terhadap PBC telah dilaksanakan oleh petani cengkeh di berbagai daerah. Umumnya petani memasukan secuil kapas yang telah dicelupkan ke larutan cairan insektisida kimia, lalu dimasukkan ke lubang gerek aktif, kemudian lubang gerek ditutup dengan pasak kayu atau bambu. Tindakan ini umumnya mampu membunuh larva PBC , namun jika jumlah lubang per pohon banyak dan areal terserang luas maka cara ini akan terasa mahal karena insektisida yang direkomendasikan terhadap PBC tidak selalu tersedia di kios tani setempat. Saat ini hanya ada 2 merk dagang pestisida kimia yang terdaftar dan diizinkan untuk pengendalian Nothopeus sp. dengan 2 jenis bahan aktif yaitu asefat dan karbofuran (Ditjen PSP, 2014). 4. Pengendalian Alami Pengendalian terpadu PBC dengan teknologi yang ramah lingkungan seperti penggunaan pestisida nabati sangat dianjurkan. Komponen teknologi pengendalian alami terhadap PBC diantaranya adalah pemanfaatan minyak atsiri sebagai pestisida nabati, jamur entomopatogen Beauveria bassiana, kombinasi insektisida nabati minyak mimba dengan B. bassiana dan kombinasi B. bassiana dengan Pupuk Organik Cair (POC) yang dapat menekan populasi PBC dengan mortalitas 86.81 – 100.00 persen, sehingga populasi PBC pada semua perlakuan tersebut di bawah populasi alami (kontrol). Bahkan, perlakuan hanya dengan menyemprotkan air yang disusul dengan menutup lubang gerek aktif dengan plastisin mampu membunuh larva PBC sehingga populasinya lebih rendah dari control. Aplikasi dilakukan dengan cara menyemprotkan larutan pestisida nabati dan agensia hayati dengan pompa hidrolik ke dalam lubang gerek aktif PBC yang kemudian ditutup dengan lilin plastisin. Penggunaan plastisin sebagai pengganti pasak kayu atau bambu agar cairan pesisida tidak keluar dari lubang gerek PBC. Dengan cara demikian maka larva PBC akan terendam oleh cairan pestisida dan kehabisan oksigen, kematian dipercepat oleh kerja pestisida nabati dan agensia hayati. Sumber: M. Rizal, Balitri, 2017 (Bambang Gatut Nuryanto)