Tanaman kakao (Theobroma cacao L) merupakan komoditi yang ideal untuk dibudidayakan dengan skala besar maupun skala kecil. Budidaya tanaman kakao relatif mudah dilaksanakan karena tidak memerlukan alat khusus atau keterampilan khusus untuk pembibitan, pemeliharaan dan panen. Tanaman ini sudah dapat menghasilkan sejak umur 18 bulan dan jarak panen dua minggu sekali (Litbang Deptan, 2005). Usaha budidaya tanaman ini memiliki prospek yang cukup baik karena kebutuhan biji kakao baik dalam dan luar negeri yang terus bertambah dan belum bisa terpenuhi serta harga jual yang cenderung tinggi pada setahun terakhir (Republika, 2014). Budidaya tanaman kakao juga dilakukan oleh beberapa petani di Kabupaten Lampung yang tersebar terdapat di Kecamatan Natar, Tanjung Bintang, Kalianda, Sidomulyo, Katibung, Penengahan, Palas, Jatiagung, Ketapang, Sragi, Rajabasa, Candipuro, Merbau Mataram, Bakauheni, Tanjungsari, Way Sulan, Way Panji. Salah satu permasalahan yang terdapat pada usaha budidaya tanaman ini adalah serangan hama, hama tanaman kakao ini dapat mengakibatkan turunnya hasil panen atau bahkan kematian pada tanaman. Mengingat skala usaha budidaya tanaman ini masih kecil dan sederhana, serangan hama dan penyakit tidak cepat dikendalikan. Hal ini akan memperparah akibat serangan hama pada tanaman kakao. Beberapa hama yang menyerang tanaman kakao di Kabupaten Lampung Selatan lain : 1. Kepik Penghisap Buah Helopeltis antonii (Hemiptera: Miridae). Helopeltis antonii termasuk dalam ordo Hemiptera dan famili Miridae. Serangga ini bertubuh kecil ramping dengan tanda yang spesifik yaitu adanya tonjolan yang berbentuk jarum pada mesoskutelum. Siklus hidup serangga ini termasuk metamorfosis tidak sempurna atau hemimetabola. Untuk menjadi imago dari stadium telur dibutuhkan 17-21 hari dan lama hidup imago betina berkisar antara 10-42 hari dan imago jantan 8-52 hari. Helopeltis antonii digolongkan sebagai hama karena menyerang tanaman kakao dengan cara merusak dan menghisap cairan buah muda menyebabkan matinya buah tersebut. Sedangkan serangan pada buah berumur sedang mengakibatkan terbentuknya buah abnormal (Atmaja, 2012). H. antonii merupakan hama penting pada tanaman kakao di Jawa dan Sumatera. Bagian tanaman yang diserang adalah daun muda, tangkai daun, pucuk, dan buah. Pucuk yang terserang terutama yang masih lunak dan daun belum membuka. Buah yang disenangi adalah yang masih muda dan yang mendekati matang. Buah yang terserang menunjukkan bekas tusukan berupa bercak-bercak hitam pada permukaan buah. Pada serangan berat, seluruh permukaan buah di penuhi oleh bekas tusukan berwarna hitam dan kering, kulitnya mengeras serta retak-retak (Djamin, 1980 dalam Atmaja, 2012). Kehilangan hasil akibat serangan H. Antonii pada tanaman kakao beragam. Serangan pada buah muda yang berukuran kurang dari 5 cm menyebabkan buah kering dan rontok. Serangan berat juga menyebabkan kesehatan tanaman terganggu dan menurunkan produksi hingga 60 %. Apabila buah kakao tidak tersedia, hama ini juga dapat menyerang pucuk, tangkai dan daun yang masih muda. Pengendalian hama kepik penghisap buah pada kakao dapat dilaksanakan dengan menggabungkan beberapa metode pengendalian atau biasa disebut Pengendalian Hama Terpadu. Beberapa metode pengendalian tersebut antara lain: a. Mekanis, Membungkus Buah Dengan Kantung Plastik. Buah yang diselubungi dengan kantong plastik akan terhindar dari serangan H. antonii. Penyelubungan buah dengan kantong plastik dapat dilakukan pada buah yang berukuran 8-12 cm dan salah satu ujung lainnya dibiarkan terbuka. b. Kultur Teknis, Pemangkasan dan Sanitasi Inang Alternatif. Pemangkasan dilakukan dengan cara membuang tunas air (siwilan) yang tumbuh di sekitar perempatan dan cabang-cabang utama secara rutin. Tunas air akan mengganggu pertumbuhan tanaman karena dapat menjadi pesaing dalam pengambilan zat hara dan air dan menjadi tempat peletakan telur H. antonii (Atmaja, 2012). Sanitasi lingkungan kebun juga perlu dilaksanakan kepada inang alternatif H. antonii seperti kapok (Ceiba petandra), rambutan (Nephelium lappasicium), dadap (Erythrina vaginata), albasia (Albizia chinensis). c. Biologis, Penggunaan Predator Semut Hitam. Pengendalian H. antonii menggunakan predator semut hitam Dolichoderus thoracicus. Jenis predator cukup prospektif untuk mengendalikan H. antonii. semut ini pada permukaan buah menyebabkan H. antonii tidak bisa meletakkan telur atau mengisap buah karena diserang oleh semut tersebut (Siswanto dan Elna, 2012). d. Kimia, Penggunaan Pestisida. Penyemprotan pestisida kimiawi hanya dilakukan satu kali, yaitu bila populasi Helopeltis spp. benar-benar eksplosif. Selanjutnya pengendalian populasi digunakan cara pengendalian lain seperti dijelaskan sebelumnya. Beberapa insektisida yang dapat digunakan antara lain: Eltametrin 25 g/l, nama dagang: Decis 2,5 EC (racun kontak dan lambung), Sipermetrin 50 g/l, nama dagang: Sidametrin 50 EC (racun kontak dan lambung), Tiametoksam 25%, nama dagang: Actara 25 WG (racun sistemik dan kontak). 2. Penggerek Buah Kakao (PBK) Conopomorpha cramerella (Lepidoptera: Gracillaridae). Hama PBK merupakan hama utama kakao yang menyebabkan kerugian mencapai miliaran rupiah. Daerah sebarannya melanda hampir semua propinsi penghasil kakao di Indonesia. Stadium yang menimbulkan kerusakan adalah stadium larva yang menyerang buah kakao mulai berukuran 3 cm sampai menjelang masak. Ulat merusak dengan cara menggerek buah, makan kulit buah, daging buah dan membuat saluran ke biji, sehingga biji saling melekat, berwarna kehitaman, sulit dipisahkan dan berukuran lebih kecil. Telur diletakkan pada permukaan kulit buah di alur buah. Berbentuk oval dengan panjang 0,4 - 0,5 mm dan lebar 0,2 - 0,3mm. Berwarna orange ketika baru diletakkan kemudian berubah menjadi kehitaman bila akan menetas. Lama stadium telur 2 - 7 hari. Setelah menetas telur masuk ke buah melalui bagian dasar telur. Larva (ulat) putih kekuningan (transparan) dengan panjang maksimum 11 mm, lama stadium ulat 14 - 18 hari, terdiri atas 4 instar. Menjelang pembentukan kepompong, ulat keluar dari buah berkepompong pada permukaan buah atau pada daun, serasah atau keranjang tempat buah. Rumah kepompong (kokon) transparan, kedap air dan kurang kotor, sedang kepompong berwarna coklat dengan panjang 6 - 7 mm dan lebar 1 - 1,5 mm. Lama stadium kepompong 5 - 8 hari. Imago (dewasa) aktif pada malam hari. Siang berlindung di tempat teduh. Ngengat berukuran panjang 7 mm, lama stadium ngengat 7 - 8 hari. Seekor ngengat betina mampu bertelur hingga 50 - 100 butir semasa hidupnya. Serangan pada buah ditandai dengan memudarnya warna kulit buah, muncul warna belang hijau kuning atau merah jingga. Apabila buah digoncang tidak berbunyi. Apabila buah dibelah, terlihat biji yang berwarna hitam dan melekat satu sama lain. Hama ini dapat dikendalikan dengan sanitasi, pemangkasan, panen sering, pemupukan, kondomisasi dan biologi sebagai berikut: a. Sanitasi dilakukan pada buah terserang yang sudah dipanen. Buah seluruhnya dibelah. Buah busuk, kulit buah, plasenta dan sisa panen dimasukkan ke dalam lubang pada hari panen kemudian ditutup tanah setebal 20 cm. Jika tidak segera dikerjakan karena panen puncak, simpanlah buah dalam karung plastik dan diikat rapat supaya PBK tidak keluar dan menyerang buah di pohon. b. Pemangkasan dilakukan baik terhadap tanaman kakao maupun tanaman penaung. Tajuk tanaman kakao dipendekkan sampai 4 meter. Pemotongan cabang dilakukan terhadap cabang yang arahnya ke atas, yakni diluar batas 3-4 m. Alat potong yang digunakan adalah gergaji tajam. Luka bekas potongan ditutupi dengan obat penutup luka. Sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan; c. Berdasarkan pengamatan, lubang keluar PBK dijumpai paling banyak pada buah yang masak sempurna kemudian buah yang agak menguning. Oleh sebab itu panen sebaiknya dilakukan seminggu sekali pada buah masak awal dan buah masak sempurna, kemudian langsung dipecah hari itu juga. c. Pemupukan dilakukan untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap PBK. Dilakukan setelah pemangkasan dengan jenis, dosis dan waktu yang tepat. Selain sehat tanaman akan berproduksi lebih banyak. d. Kondomisasi dapat dilakukan dengan menggunakan kantong plastik untuk mencegah serangan PBK. Kantong harus dilubangi bagian bawah supaya air bisa keluar dan penghindari pembusukan buah. Penyarungan dilakukan saat buah berukuran 8-10 cm. e. Pengendalian hayati PBK dapat dilakukan dengan memanfaatkan semut hitam, jamur Beuveria bassiana dan parasitoid telur Trichogram-matoidea spp. Peningkatan populasi semut hitam dapat dilakukan dengan menyediakan lipatan daun kelapa atau daun kakao kering atau koloni kutu putih. Penyemprotan jamur Beuveria bassiana. Sebaiknya pada buah kakao muda dengan dosis 50-100 gram spora/ha. Disemprot selama 5 kali menggunakan knapsack sprayer. Di Malaysia Trichogram-matoidea dibiakkan pada telur serangga Corcyra cephalonica. Pelepasan sebanyak 7125 – 104410 ekor/minggu pada areal 10 ha.Penulis : Karyana, SP Penyuluh Pertanian Lampung Selatan Sumber : 1.Budidaya dan Pasca Panen Kakao, Nitro PDF, professional. 2.http://epetani.deptan.go.id/budidaya/hama-dan-penyakit-kakao-2683. diakses tanggal 18 Mei 2014