Hama tanaman merupakan hal yang harus diperhatikan oleh petani semangka non biji, karena dapat merugikan. Hama menyerang tanaman semangka pada batang, daun, bunga, dan buah. Hama yang khusus menyerang daun tanaman semangka non-biji antara lain: kutu thrips, kumbang daun, ulat perusak daun, tungau merah, dan kutu daun aphids. Kutu thrips (Thrips palmi Karny) Kutu ini menyerang dengan menusuk dan menghisap daun di pucuk, sehingga daun mengkerut dan terpelintir disebut “keriting daun” mengakibatkan pertumbuhan terhambat. Apabila kutu menyerang bunga akan menyebabkan buah semangka yang terbentuk akan cacat. Pengendaliannya: 1) Memusnahkan sisa-sisa tanaman inang lain di sekitarnya; 2) Menghindari menanam tanaman semangka pada lahan yang terdapat tanaman semangka dewasa atau sefamili; 3) Tanaman semangka yang terserang parah, apalagi juga terserang virus harus segera dicabut dan dibakar; dan 4) Cara kimiawi menggunakan insektisida yang telah terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian, yaitu insektisida yang berbahan aktif sipermetrin, tetasipermentrin, dan dimetoat. Kumbang daun (Aulacophora femoralis Motschulsky) Hama ini juga disebut kumbang kuning atau oteng-oteng, dengan gejala luka bekas serangan berupa keratin pada daun. Pada stadia larva, hama menyerang jaringan perakaran sampai pangkal batang yang dapat menyebabkan tanaman layu. Pengendaliannya: 1) Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman tidak satu family dengan Cucurbitaceae; 2) Sanitasi kebun dengan membersihkan gulama di sekitar pertanaman; 3) Pengolahan tanah harus sempurna agar mematikan kumpulan terlur atau pupa hama yang masih ada di dalam tanah; 4) Cara fisik atau mekanis dengan pencabutan tanaman yang terserang berat lalu dibakar; dan 5) Cara kimiawi dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, diafentiuron, dan metidation. Ulat perusak daun Ulat perusak daun pada tanaman semangka terdiri dari Spodoptera sp. dan Palpita sp. Spodoptera sp. juga disebut ulat grayak yang menyerang pada malam hari dengan menggerogoti daun, akibatnya daun tinggal tulang-tulangnya. Juga menggerogoti kulit buah, akibatnya kulit buah cacat sehingga harganya lebih rendah. Ulat Palpita sp. menyerang menggulung daun semangka dan kadang-kadang merusak bunga akibatnya pembuahan gagal. Pengendaliannya: 1) Pemangkasan cabang-cabang sekunder/tertier yang berlebihan, sehingga airasi/pertukaran udara di lingkungan pertanaman lancar; 2) Memasang perangkap (sex pheromone) bekas botol air mineral terutama untuk ulat grayak. Ulat jantan akan masuk dalam perangkap, akibatnya tidak dapat mengawini ulat betina; dan 3) Secara kimia dengan penyemprotan insektisida pirethoid sintetis, misalnya: Decis 2,5 EC (deltamethrin) dengan konsentrasi 0,5 – 0,7 ml per liter. Penyemprotan dilakukan pada saat ulat dalam stadium larva instar awal. Untuk hasil yang efektif, penyemprotan dapat dilakukan pada sore hingga malam hari. Tungau merah Menyerang dengan menghisap cairan daun semangka, dengan gejala terlihat titik-titik kuning yang makin lama menghitam, dibawah daun terlihat sekumpulan titik-titik merah, kemudian daun yang terserang melengkung dan terpelintir. Pengendaliannya dengan membersihkan semua gulma, tanaman yang terserang parang dicabut dan dibakar. Dapat juga dengan penggunaan pestisida akarisida, misalnya Mitac 200 EC (amitraz) dengan konsentrasi 1,0-1,5 ml per liter. Kutu daun aphids Hama ini hampir ditemukan di setiap pertanaman semangka dan penyerangannya dengan menghisap cairan daun yang menyebabkan daun menggulung dan pertumbuhan tidak normal. Hama ini mengeluarkan getah cairan tubuh yang mengandung madu sehingga disebut juga hama lengket. Cairan ini sering mengundang semut dan tumbuh cendawan jelaga. Pengendalinnya sebagai berikut: 1) Penanaman serempak pada satu hamparan, agar umur tanaman sama; 2) Tanaman semangka yang terserang parah segera dicabut dan dibakar; dan 3) Penyemprotan dengan insektisida, misalnya Perfekthion 400 EC (dimethoate) dengan konsentrasi 1,0-2,0 ml per liter. Penulis : SUSILO ASTUTI H. (Penyuluh Pertanian, Pusluhtan) Sumber Pustaka: Buku Pintar Budidaya Tanaman Buah Unggul Indonesia. Redaksi Agro Media. Jakarta, PT Agromedia Pusaka. 2009. Final Prajnanta. Agribisnis Semangka Non-Biji. Bogor, PT. Penebar Swadaya. 1999. Budidaya Semangka Non Biji. Direktorat Budidaya Tanaman Buah, Direktorat Jenderal Hortikultura. 2007. Rahmat Rukmana. Budidaya Semangka Hibrida. Yogyakarta, Kanisius. 1994.